Ada Konflik Iran-AS, Bagaimana Dampaknya ke Ekonomi Indonesia?

Senin, 6 Januari 2020 08:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Ada Konflik Iran-AS, Bagaimana Dampaknya ke Ekonomi Indonesia? Ribuan orang padati arak-arakan jenazah Panglima Garda Revolusi Iran. ©REUTERS/Khalid al-Mousily

Merdeka.com - Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat (AS) melakukan penyerangan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Internasional Baghdad pada Jumat (3/1) lalu. Akibatnya, Iran akan melancarkan balas dendam.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tak hanya berdampak jangka pendek, konflik ini juga akan memberikan dampak jangka panjang ke Indonesia. Berikut dampak konflik Iran-AS ke ekonomi Indonesia.

1 dari 4 halaman

Harga Minyak Dunia Melonjak

Harga minyak naik pada penutupan perdagangan hari Kamis (2/1) waktu setempat setelah data menunjukkan penurunan mingguan yang besar dalam stok minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Dikutip Antara, harga patokan minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik 12 sen menjadi 61,18 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara harga patokan internasional, Minyak mentah brent untuk pengiriman Maret naik 25 sen menjadi ditutup pada 66,25 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

"Potensi peningkatan harga minyak merupakan dampak jangka pendek yang bisa dirasakan Indonesia adapun dampak jangka panjang jika eskalasi Iran dan AS memanas akan menambah ketidakpastian global," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi merdeka.com, Minggu (5/1).

Dia menyebut, Indonesia merupakan negara net importir minyak, maka sangat berpotensi adanya peningkatan nilai impor minyak. Sehingga, hal ini menjadi tantangan di tengah usaha pemerintah untuk memperkecil defisit pada neraca perdagangan dan juga transaksi berjalan.

2 dari 4 halaman

Aliran Modal Asing Terganggu

Direktur Riset Centre of Reformon Economics (Core) Piter Abdullah menilai, apabila kedua negara tersebut memanas maka akan menahan laju aliran modal asing masuk ke Indonesia. Kondisi ini kemudian berdampak pada laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kondisi Rupiah.

"Ketegangan ini juga bisa berdampak ke perekonomian melalui jalur perdagangan misalnya dengan kenaikan harga minyak," kata dia saat dihubungi merdeka.com, Minggu (5/1).

Dia berharap, kedua pihak bisa menahan diri dan menyelesaikan dengan jalur damai. Jangan sampai ketegangan AS dan Iran merusak sentimen positif yang terbangun pasca kesepakatan perang dagang AS dan China.

"Tentunya kita berharap kedua pihak bisa menahan diri. Kalau itu ya g terjadi pasar keuangan global akan aman demikian juga dengan IHSG dan rupiah," tandas dia.

3 dari 4 halaman

Investor Bermain Aman

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, dengan adanya konflik ini, investor akan takut untuk berinvestasi ke pasar negara berkembang. Sehingga, ada kecenderungan untuk bermain aman.

"Misalnya dengan membeli dolar atau emas. Harga emas dunia telah naik 2,19 persen dibandingkan tahun lalu dan Dollar index menguat tipis 0,51 persen dalam sepekan terakhir," kata Bhima saat dihubungi Merdeka.com, Minggu (5/1).

Dia menjelaskan, dengan adanya dampak ke volatilitas, maka IHSG dikhawatirkan akan terkoreksi jika kondisi makin memanas.

Selain itu, harga emas dunia yang naik juga akan berpengaruh naiknya harga emas di Indonesia. Tak hanya itu, nilai tukar Rupiah juga bisa melemah dengan adanya konflik tersebut.

4 dari 4 halaman

Saran untuk Pemerintah

Untuk mengantisipasi dampak dari konflik tersebut, Bhima menyarankan pemerintah untuk memastikan daya beli masyarakat terjaga dengan mendorong stimulus fiskal, khususnya kepada masyarakat masyarakat rentan miskin dan miskin.

Selain itu, pemerintah didorong untuk melakukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2020 agar asumsi makro, khususnya harga minyak disesuaikan dan alokasi subsidi BBM listrik dan LPG 3 kilogram (kg) bisa ditambah.

"Mendorong korporasi yang meminjam utang dengan valas (valuta asing) agar melakukan lindung nilai atau hedging. Antisipasi pelemahan kurs Rupiah," tandasnya. [azz]

Baca juga:
Warga AS Datangi Gedung Putih Protes Serangan Udara di Irak
Ada Konflik Iran-AS, Investor Diperkirakan Main Aman
Konflik Iran-AS Dikhawatirkan Ganggu Aliran Modal Asing ke Indonesia
Jenazah Qassim Sulaimani Tiba di Iran, Disambut Ribuan Pelayat
Antisipasi Konflik Iran-AS, Pemerintah Diminta Sesuaikan Harga Minyak di APBN
Donald Trump Sebut AS Siap Sedia Hadapi Balasan Iran Atas Kematian Qassim Sulaimani

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini