Test Depresi dan Pemeriksaan untuk Lakukan Diagnosis, Pahami Jenis-Jenisnya
Merdeka.com - Test depresi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur atau pun mendiagnosis tingkat kedepresian seseorang. Depresi sendiri merupakan gangguan suasana hati yang membuat seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Depresi ini tidak hanya bisa terjadi pada orang dengan golongan usia tertentu. Bahkan sebuah hasil Riskesdas pada tahun 2018 lalu menunjukkan bahwa depresi dapat mulai terjadi pada usia remaja yaitu mulai usia 15 sampai 24 tahun.
Apabila sudah terkena dan tidak mendapatkan perawatan serius, maka keselamatan jiwa dari si penderita bisa terancam. Untuk itu sebelum dilakukan diagnosis, ada beberapa test depresi yang bisa dilakukan oleh penderita. Dirangkum dari Hellosehat, berikut ulasan selengkapnya.
Geriatric Depression Scale 15 (GDS 15)
GDS 15 atau Geriatric Depression Scale 15 (skala depresi geriatrik 15) merupakan tes yang berisi kuesioner sebanyak 15 buah pertanyaan. Test ini digunakan sebagai sebuah metode penapisan depresi pada orang dengan usia lanjut.
Anda hanya perlu menjawab iya atau tidak pada setiap pertanyaan yang sudah tersedia dan diajukan. Contohya seperti "Apakah Anda cukup puas dengan hidup Anda saat ini?" atau "Apakah Anda merasa hidup Anda hampa?".

©2018 Merdeka.com/Pixabay
Tak hanya itu, untuk mengetahui seseorang memiliki potensi mengalami depresi atau tidak, tes ini akan digunakan juga untuk mengevaluasi keparahan penyakit yang sedang diidapnya. Pada orang yang kesehatan mentalnya tak bermasalah, mengisi kuesioner tidak akan memakan waktu lama.
Berbeda dengn orang yang memang merasa dirinya sedang mengalami depresi, mengisi kuesioner ini mungkin membutuhkan waktu yang lama. Seperti dikutip dari Hellosehat, ketentuan dari hasil tes depresi tersebut adalah:
- Total nilai 0-4, Anda dinyatakan normal.
- Total nilai 5-9, Anda dinyatakan mengidap depresi ringan.
- Kemudian, untuk total nilai 10-15, Anda dinyatakan mengidap depresi parah.
Self Reporting Questionnaire 20
SRQ atau Self Reporting Questionnaire merupakan tes pengisian kuesioner yang tengah dikembangkan oleh Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO). Ini berguna untuk menskrining gangguan mental, salah satunya depresi.

© boldsky.com
Pertanyaan yang akan diajukan biasanya adalah meliputi berbagai keluhan yang mungkin pernah dialami selama 30 hari terakhir.
Jenis-Jenis Tes DiagnosisUntuk mengetahui tingkat depresi yang tengah didapati, tidak hanya mengandalkan tes mandiri saja, karena Anda tidak boleh melakukan self diagnosis penyakit dengan asumsi diri sendiri setelah melihat tes mandiri.

©2015 Merdeka.com/shutterstock
Jadi, Anda perlu memastikan diri ke dokter, psikiater atau psikolog. Lewat pemeriksaan ke ahlinya juga, Anda dapat memastikan mempertimbangkan apakah Anda perlu minum obat-obatan untuk mengatasi depresi saja atau sekaligus menjalani psikoterapi. Dokter juga biasanya akan merekomendasikan beberapa tes pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis depresi.
Pemeriksaan Fisik
Seorang dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan kesehatan Anda terlebih dahulu. Dalam beberapa kasus, adanya depresi ini dapat berkaitan dengan masalah kesehatan fisik atau mungkin sudah menyebabkan masalah kesehatan yang lain.

©2013 Merdeka.com/Shutterstock/MitarArt
Depresi atau stres berat ini bisa menyebabkan penyakit jantung, diabetes atau pun obesitas. Itu mengapa sebabnya dokter akan mengukur berat badan, denyut jantung, tekanan darah dan juga kadar gula dalam tubuh.
Apabila lewat pemeriksaan tengah terdeteksi masalah kesehatan lain, maka Anda harus menjalani pengobatan kombinasi. Itu semua dilakukan agar salah satu penyakit tidak semakin parah dan kualitas hidup pasien tetap membaik.
Evaluasi Psikiatri
Dalam tes depresi ini, para dokter ahli kejiwaan akan mengenai gejali, pikiran, perasaan serta pola perilaku Anda. Anda juga mungkin akan diminta untuk mengisi kuesioner.
Dikutip dari Hellosehat, beberapa gejala depresi mungkin saja ditunjukkan dan perlu Anda laporkan pada dokter, antara lain jika mengalami:
- Terus merasakan sedih, menangis tanpa sebab, merasa hampa atau putus asa.
- Mudah marah dan tersinggung, bahkan karena hal-hal kecil.
- Hilang minat atau kesenangan dalam sebagian besar atau semua aktivitas normal, seperti seks, hobi, atau olahraga.
- Timbul gangguan tidur, termasuk insomnia atau terlalu banyak tidur.
- Sering merasa kelelahan dan kekurangan energi, sehingga tugas-tugas kecil membutuhkan usaha ekstra.
- Depresi membuat berat badan menurun atau sebaliknya meningkat karena nafsu makan berubah.
- Kecemasan, agitasi atau kegelisahan.
- Kemampuan berpikir, berbicara atau gerakan tubuh jadi melambat.
- Terpaku pada kegagalan masa lalu atau menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berharga.
- Kesulitan berpikir, berkonsentrasi, mebuat keputusan, dan mengingat sesuatu
- Sering memikirkan kematian secara berulang, melukai diri sendiri dan ada pikiran untuk bunuh diri.
- Berbagai masalah fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti sakit punggung atau sakit kepala.
Laboraturium Test
Adanya gejala-gejala yang sudah disebutkan sebelumnya tak hanya mengarah pada penyakit depresi saja. Gangguan pada suasana hati juga kerap kali menyerang orang dengan masalah tiroid.

©2015 Merdeka.com/shutterstock
Oleh karenanya, guna menyingkirkan masalah kesehatan ini dengan melakukan tes laboraturium tidak lain adalah tes darah. Pada nantinya tes ini akan menghitung jumlah darah atau menguji tiroid Anda untuk memastikannya berfungsi dengan baik.
Pengamatan Gejala dengan PPDGJDiagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, DSM merupakana salah satu pegangan yang digunakan oleh para profesional perawatan kesehatan di Amerika Serikat dan sebagian besar dunia dengan panduan untuk mendiagnosis adanya penyakit mental. DSM ini berisi deskripsi, gejala serta kriteria lain guna mendiagnosis gangguan jiwa seseorang.

©Shutterstock/Yuri Arcurs
Di Indonesia, memiliki Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa atau PPDGJ yang digunakan sebagai buku panduan dalam mendiagnosis gangguan kejiwaan. Dokter akan mengevaluasi lebih dalam kondisi pasien dengan panduan ini guna membantu menentukan masalah mental mana yang diidap oleh pasien.
(mdk/bil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya