Ternyata Berjalan di Eskalator Berbahaya, Jepang Sampai Bikin Aturan Baru Buat Ubah Budaya

Inovasi unik pemerintah di Jepang untuk cegah warganya berjalan di ekskalator karena dianggap berbahaya.

Thomas
Oleh Thomas - Reporter
Ternyata Berjalan di Eskalator Berbahaya, Jepang Sampai Bikin Aturan Baru Buat Ubah Budaya
Ilustrasi Ekskalator (Gemini AI)

Ekskalator saat ini merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang sering beraktivitas di fasilitas umum yang memiliki lantai tinggi.

Selain efisien, keberadaan ekskalator juga sangat membantu bagi seseorang yang memiliki keterbatasan fisik.

Meski begitu, masyarakat Jepang ternyata memiliki cara pandang yang berbeda dengan keberadaan ekskalator.

Mereka memandang bahwa berdiri ekskalator tak lain dengan mencari 'penyakit'. Tak heran meski memakai ekskalator, mereka justru memilih tetap jalan di sisi kanan.

Mengutip dari Japan Today, Rabu (9/7) kebiasaan ini dimulai puluhan tahun yang lalu saat masyarakat Jepang mencapai kesepakatan tak tertulis tentang etika menggunakan eskalator.

Sebagai contoh, di Tokyo dan Jepang bagian timur, jika eskalator cukup lebar, seseorang harus berdiri di sebelah kiri, dan berjalan di sebelah kanan.

Di Osaka dan Jepang bagian barat, sisi-sisinya dibalik, tetapi dengan prinsip yang sama yaitu jika ada cukup ruang, orang yang tidak ingin menggunakan eskalator harus membiarkan setengahnya tidak terhalang bagi mereka yang ingin menggunakannya.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa tempat dan kotamadya mulai khawatir kebiasaan itu akan memberikan dampak buruk terutama bagi keselamatan para pengguna.

Apalagi, berjalan di eskalator merupakan tindakan yang tidak aman. Otoritas tertentu bahkan meminta agar orang berdiri di kedua sisi eskalator dan melarang siapapun berjalan.

Ilustrasi Ekskalator
Ilustrasi Ekskalator Liputan6.com

Berjalan di eskalator pada dasarnya hanya membutuhkan kelincahan yang hampir sama dengan berjalan naik atau turun tangga.

Padahal mereka sebenarnya tidak tahu bahwa hal tersebut sangat berisiko terhadap keselamatan. Tak heran jika mereka tetap berjalan di sisi kanan eskalator saat jalurnya kosong.

Inovasi unik dibuat oleh Kota Nagoya untuk merubah kebiasaan warganya dalam memakai ekskalator. Pemerintah Nagoya telah membentuk Korps Berdiri dan Berhenti Nagoya.

Mereka bertugas secara tim yang berjumlah tiga orang hanya untuk berdiri selama enam jam sehari untuk mengambil posisi berdiri di eskalator.

Tim Stand and Stop Corps berdiri di sisi kanan eskalator, mengenakan tangan berukuran besar dengan jari terentang di punggung mereka disertai dengan frasa “Nagoyaka ni STOP shite ne,” yang berarti “Tolong berhenti dengan tenang”. Selain itu, mereka juga memakai kata “nagoyaka ni” (tenang) dan “Nagoya.”

Dengan begitu, mereka memblokir sisi yang seharusnya bisa dilalui orang, yang secara tidak langsung memberikan sosialisasi kepada warga.

Ilustrasi Ekskalator
Ilustrasi Ekskalator Gemini AI

Para petugas itu bukanlah relawan. Seorang kepala tim mendapat upah 16.000 yen atau Rp1,7 juta per hari, dan dua anggota tim lainnya memperoleh 6.500 yen atau Rp720 ribu per shift.

Upah itu terbilang lumayan daripada sebagian besar pekerjaan paruh waktu di ritel atau restoran. Apalagi mereka hanya butuh keterampilan 'berdiri;.

Korps Stand and Stop dikerahkan empat atau lima kali sebulan, dan selama tahun 2024 beroperasi di 19 stasiun kereta api berbeda di dalam Nagoya.

Inovasi itu telah memberikan dampak besar yaitu peningkatan jumlah orang yang berdiri di kedua sisi ekskalator menurut pengamatan dari pemerintah kota Nagoya.

Selain lebih aman, sebuah penelitian menunjukkan bahwa berdiri di kedua sisi eskalator memungkinkan seluruh orang yang menggunakan eskalator untuk mencapai ujung lainnya lebih cepat daripada dengan membiarkan satu sisi terbuka untuk pejalan kaki.

Namun, argumen balasannya adalah bahwa bagi pengguna eskalator individu yang seharusnya berjalan, menghilangkan opsi itu berarti membutuhkan waktu lebih lama bagi mereka untuk tiba di ujung lainnya daripada sebelumnya.

Meski begitu, inovasi ini juga mendapat dukungan dari banyak orang. Apalagi mereka sadar akan risiko kecelakaan di ekskalator.

Mereka membandingkan dengan kecelakaan lift yang terjadi akibat orang-orang yang berlari atau tidak memperhatikan langkah mereka karena mereka malah melihat ponsel mereka.

Rekomendasi