7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Waspadai Kehadiran dan Pencegahannya

Hati-hati terhadap tujuh jenis ular berbisa yang kerap muncul di lingkungan perumahan. Penting untuk mengenali ciri-ciri serta risiko yang ditimbulkan.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Waspadai Kehadiran dan Pencegahannya
Ilustrasi Ular (/Photo by Timothy Dykes on Unsplash)

Musim hujan sering kali menimbulkan kekhawatiran baru bagi banyak penghuni rumah, salah satunya adalah kemungkinan munculnya hewan melata seperti ular. Reptil ini biasanya mencari tempat berlindung dan sumber makanan di area pemukiman, terutama ketika habitat aslinya terganggu atau tingkat kelembaban meningkat. Kehadiran ular, terutama yang berbisa, tentu dapat menimbulkan kecemasan dan ancaman serius bagi keselamatan keluarga. Oleh karena itu, untuk menjaga keamanan dan ketenangan di rumah, penting bagi kita untuk mengetahui jenis-jenis ular yang mungkin masuk ke lingkungan hunian.

Dengan mengenali ciri-ciri fisik, kebiasaan, serta tingkat bahaya bisanya, kita dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Berikut ini adalah tujuh jenis ular berbisa yang sering ditemukan di perumahan, lengkap dengan ciri-ciri khas dan cara menghadapinya. Memahami informasi ini akan membantu kita lebih waspada dan siap menghadapi potensi ancaman dari ular yang mungkin memasuki area rumah kita.

7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Ini Ciri-Ciri dan Cara Menghadapinya
Tips Kebun Sayur Belakang Rumah Bebas Ular © 2025 Liputan6.com

Ular kobra Jawa memiliki kepala oval yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan lehernya, serta terdapat warna putih di sekitar leher. Tubuhnya bervariasi dari coklat pudar hingga hitam mengkilap, dengan warna hitam menjadi yang paling umum. Panjang ular ini dapat mencapai 2 meter, meskipun rata-rata panjangnya berkisar antara 1,4 hingga 4 meter. Moncongnya tumpul dan berwarna keputihan, serta dilengkapi dengan taring kecil yang memiliki ujung pendek. Ketika merasa terancam, ular ini akan mengembangkan lehernya hingga menyerupai tudung sendok dan menegakkan badannya.

Ular kobra Jawa termasuk dalam jenis ular terestrial yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas tanah. Mereka sering kali ditemukan di area persawahan, tegalan, ladang, serta di pemukiman warga karena kemampuan adaptasinya yang sangat baik. Ular ini cenderung masuk ke rumah untuk mencari mangsa, seperti tikus, yang juga sering mencari tempat perlindungan saat musim hujan. Ular ini memangsa berbagai mamalia kecil seperti tikus dan mencit, serta kadal, bahkan amfibi seperti katak dan kodok.

Bisa ular kobra Jawa bersifat neurotoksin yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Saat merasa terancam, ular ini mampu menyemburkan bisa hingga sejauh 1 meter. Bisa yang dihasilkan dapat menyerang saraf dan menyebabkan berbagai gangguan, seperti gangguan penglihatan, kesulitan dalam menelan dan berbicara, serta melemahnya otot yang dapat berujung pada muntah.

Rahasia Tubuh Ular Kobra, Ini Titik Lemah yang Jarang Diketahui
Ilustrasi kobra (iStock) © 2025 Liputan6.com

Ular kobra Sumatera memiliki ukuran tubuh yang sedang, berkisar antara 0,9 hingga 1,2 meter, tetapi ada juga yang bisa mencapai panjang hingga 1,5 meter. Ciri khas dari ular ini adalah kepalanya yang berbentuk bulat dengan moncong pendek, serta lubang hidung yang besar. Matanya berukuran sedang dengan pupil bulat, dan sisik di punggungnya halus serta tersusun miring. Berbeda dengan kobra Jawa, spesies ini tidak memiliki tudung. Ular ini banyak dijumpai di wilayah khatulistiwa, termasuk Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Malaysia, Singapura, dan Thailand. Biasanya, mereka hidup di hutan tropis baik primer maupun sekunder hingga ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Selain itu, ular ini juga sering terlihat di taman, kebun, dan daerah perkotaan.

Ular kobra Sumatera termasuk dalam kategori ular terestrial dan diurnal, yang berarti mereka aktif beraktivitas di siang hari. Makanan utama mereka meliputi katak dan hewan pengerat, namun mereka juga dapat memangsa ular lain, mamalia kecil, dan kadal. Jenis ular ini dikenal sangat berbisa dan berbahaya. Dalam situasi terancam, beberapa ular dewasa akan langsung mengangkat tubuhnya, memperlebar tudungnya, dan mendesis keras sebagai tanda peringatan. Jika merasa terancam, mereka dapat menyerang dengan menggigit dan menyemburkan racun. Oleh karena itu, sangat penting untuk tetap berhati-hati jika bertemu dengan ular ini.

7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Ini Ciri-Ciri dan Cara Menghadapinya
Tips Kebun Sayur Belakang Rumah Bebas Ular © 2025 Liputan6.com

Ular tanah adalah spesies yang memiliki ukuran sedang, cenderung gemuk, dan sedikit lebih pendek, dengan panjang rata-rata sekitar 76 cm. Betina dari spesies ini biasanya lebih panjang, dapat mencapai hingga 1,10 meter. Warna punggungnya bervariasi antara kemerahan, keabu-abuan, atau cokelat pucat, dengan pola segitiga besar berwarna cokelat tua. Ciri khas lainnya adalah kepalanya yang berbentuk segitiga dengan moncong meruncing serta pola putih menyerupai anak panah di bagian tengkuknya. Sisi atas kepala ular ini dilapisi oleh perisai-perisai yang simetris, menjadikannya berbeda di antara kelompok bandotan berdekik Asia. Matanya memiliki bentuk vertikal, yang merupakan ciri khas dari pit viper.

Ular ini termasuk dalam spesies endemik yang dapat ditemukan di Asia Tenggara, termasuk pulau Jawa. Ular tanah merupakan hewan terestrial dan nokturnal, meskipun dalam kondisi tertentu, ia bisa aktif di siang hari. Habitatnya sering kali berada di hutan dataran rendah, lereng bukit, area budidaya, perkebunan karet, dan dekat sawah. Meskipun ular ini tidak bersifat agresif, ia akan menyerang jika merasa terganggu. Rumah yang memiliki banyak celah dan tumpukan barang bekas sering menjadi tempat persembunyian favorit bagi ular tanah. Gigitan ular ini biasanya menyebabkan rasa sakit yang parah dan pembengkakan lokal, serta kadang-kadang dapat mengakibatkan nekrosis jaringan. Meskipun kematian akibat gigitan ular ini tidak umum, banyak korban yang mengalami cacat atau amputasi akibat kurangnya antivenom dan perawatan awal yang memadai. Jika tidak ditangani dengan serius dan cepat, gigitan ular ini dapat menyebabkan disfungsi organ hingga berujung pada kematian.

Ular welang adalah jenis ular dengan ukuran sedang, yang dapat mencapai panjang maksimum sekitar 2 meter, meskipun biasanya panjangnya sekitar 1,5 meter atau kurang. Ciri khas ular ini terletak pada belang-belang hitam dan kuning yang sangat mencolok di seluruh tubuhnya, sehingga membuatnya mudah dikenali di antara spesies ular lainnya.

Ular welang dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Ular ini memiliki kemampuan luar biasa untuk menyelinap melalui saluran air dan celah sempit di rumah, yang memudahkan mereka dalam mencari tempat berlindung atau mangsa. Kehadirannya di lingkungan pemukiman sering kali menjadi perhatian yang serius bagi penduduk setempat.

Ular welang tergolong sebagai ular berbisa dan sangat berbahaya. Racun yang dimilikinya terdiri dari neurotoksin yang dapat memengaruhi sistem saraf, berpotensi menyebabkan kelumpuhan serta komplikasi serius lainnya jika tidak ditangani dengan cepat. Oleh karena itu, penanganan terhadap gigitan ular ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis yang profesional.

7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Ini Ciri-Ciri dan Cara Menghadapinya
Tips Kebun Sayur Belakang Rumah Bebas Ular © 2025 Liputan6.com

Ular weling memiliki tubuh ramping yang dapat mencapai panjang hingga 155 cm (sekitar 1,55 meter), dengan ekor yang runcing dan panjang sekitar 16 cm. Ciri khas yang paling mudah dikenali adalah pola belang hitam dan putih yang mencolok di seluruh tubuhnya hingga ke ekor. Kepalanya berbentuk kecil dan segitiga, dengan bagian atas kepala hingga tengkuk berwarna hitam, sedangkan bagian bawahnya berwarna putih. Matanya kecil dan memiliki pupil bulat, yang menunjukkan bahwa ular ini aktif di malam hari.

Ular weling merupakan hewan nokturnal yang aktif mencari mangsa seperti tikus, kadal, dan hewan kecil lainnya saat malam. Di siang hari, ular ini lebih sering beristirahat di tempat persembunyian yang aman. Jika merasa terancam atau terganggu, ular ini akan menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badannya sebagai bentuk pertahanan. Keberadaan ular ini cukup umum di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Bali, dan Sulawesi, terutama pada dataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Ular weling memiliki bisa neurotoksin yang sangat berbahaya, bahkan dianggap lebih mematikan dibandingkan dengan kobra. Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak menyentuh atau mencoba menangkap ular ini tanpa perlindungan yang memadai, karena racunnya dapat berakibat fatal. Jika Anda menemukan ular weling, segera cari bantuan profesional untuk menangani situasi tersebut.

7 Jenis Ular Berbisa yang Sering Masuk ke Perumahan, Ini Ciri-Ciri dan Cara Menghadapinya
Tips Kebun Sayur Belakang Rumah Bebas Ular © 2025 Liputan6.com

Ular ini memiliki kulit yang berwarna hijau cerah dengan ekor yang berwarna merah kecoklatan, yang menjadi ciri khasnya. Dengan panjang sekitar 100 cm (1 meter), kepala ular ini berbentuk segitiga dan terlihat lebih besar dibandingkan lehernya yang mengecil. Mata ular ini berwarna kuning dengan pupil yang berbentuk vertikal, serta dilengkapi dengan taring yang panjang. Di bagian tubuh depannya, terdapat pola belang putih dan hitam yang muncul ketika ular merasa terancam.

Ular ini aktif di malam hari, sering kali ditemukan di tanah saat berburu mangsa seperti kodok, kadal, tikus kecil, dan burung. Di siang hari, ular ini bergerak lambat dan cenderung pasif. Meskipun tidak bersifat agresif, ular ini akan menggigit jika merasa terganggu atau disentuh. Habitatnya meliputi semak-semak dan ranting pohon, dan keberadaannya sering kali ditemukan dekat permukiman, bahkan terkadang memasuki rumah penduduk.

Ular ini termasuk dalam kategori ular beracun yang dapat berbahaya bagi manusia, meskipun kematian akibat gigitan jarang terjadi. Gigitan dari ular hijau ekor merah dapat mengakibatkan rasa sakit yang hebat, pembengkakan, serta gejala sistemik lainnya. Oleh karena itu, penanganan medis tetap diperlukan setelah terjadi gigitan.

Ular gadung memiliki tubuh ramping dan warna hijau muda yang menyatu dengan dedaunan. Meski bisanya tergolong ringan dibanding jenis lain, tetap berbahaya bila mengenai manusia dengan sistem imun lemah. Ular ini sering masuk ke halaman rumah yang banyak tanaman rambat atau pohon kecil.

Ular gadung lebih aktif di siang hari dan cenderung tenang, tapi akan menggigit jika merasa terancam. Mereka biasanya memburu kadal kecil, burung, dan serangga besar. Karena penampilannya menyerupai daun, ular ini kerap tidak disadari hingga terlalu dekat dengan manusia.

Untuk menghindarinya, jaga tanaman tidak terlalu rapat dan bersihkan area sekitar pagar atau dinding tanaman merambat. Bila terlihat, hindari kontak langsung dan jangan mencoba memegangnya meskipun terlihat jinak.

Ilustrasi Ular
Ilustrasi Ular /Photo by Timothy Dykes on Unsplash

Ketika ular berbisa memasuki area perumahan, penting untuk bersikap waspada dan mengambil tindakan yang tepat. Memahami cara pencegahan serta penanganan awal sangat penting demi keselamatan penghuni rumah. Berikut adalah panduan lengkap untuk mencegah ular masuk dan langkah-langkah yang harus diambil jika menemukannya.

A. Tindakan Pencegahan Ular Masuk Rumah

Pencegahan ular masuk ke dalam rumah adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga keamanan. Ular cenderung mencari lingkungan yang menyediakan makanan dan tempat berlindung. Oleh karena itu, menciptakan kondisi yang tidak menarik bagi ular sangat penting untuk pencegahan.

  1. Menjaga Kebersihan Lingkungan: Pastikan tidak ada hewan pengerat seperti tikus di sekitar rumah, karena tikus merupakan sumber makanan utama bagi ular. Ular dapat mengikuti jejak aroma hewan pengerat dan berpotensi masuk ke dalam rumah. Selalu jaga agar rumput di halaman tetap pendek. Rapi dan tata halaman rumah, serta singkirkan tempat berlindung ular seperti tumpukan kayu, daun kering, atau semak-semak. Selain itu, bersihkan sisa makanan hewan peliharaan di dalam rumah dan hindari memberi makan hewan di halaman agar tidak mengundang ular dalam jangka panjang.
  2. Menutup Akses Masuk: Tutup semua lubang dan celah di rumah, termasuk celah kecil di lantai, ventilasi, atau tumpukan barang yang jarang dibersihkan. Memasang pagar atau dinding di sekitar rumah juga dapat berfungsi sebagai penghalang. Pastikan untuk menutup pipa air atau saluran pembuangan yang dapat menjadi jalur masuk ular.
  3. Menggunakan Aroma yang Tidak Disukai Ular: Ular memiliki sensitivitas tinggi terhadap asap dan berbagai bau menyengat seperti belerang, minyak cengkeh, kayu manis, cuka, serai, dan bawang putih. Menanam tanaman yang dapat mengusir ular seperti lidah mertua, marigold, sereh, atau daun mint di sekitar rumah dapat membantu. Menyemprotkan wewangian ruangan atau karbol di area yang rawan didatangi ular juga bisa menjadi solusi efektif.
  4. Langkah Tambahan: Singkirkan genangan air di sekitar rumah yang dapat menarik mangsa ular. Gunakan kerikil atau batu sungai untuk menghias tanaman di rumah, karena ular merasa kesulitan merayap di permukaan yang tidak rata.

B. Langkah Saat Menemukan Ular di Sekitar Rumah

Walaupun telah melakukan pencegahan, terkadang ular tetap bisa masuk ke dalam rumah. Mengetahui cara bertindak saat berhadapan dengan ular sangat penting untuk menghindari situasi yang berbahaya. Ketenangan adalah kunci dalam menghadapi situasi ini.

  1. Tetap Tenang dan Jangan Panik: Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyiapkan mental agar tetap tenang dan menyadari bahwa Anda sedang berhadapan dengan ular. Hindari melempar benda ke arah ular, karena tindakan ini dapat membahayakan diri sendiri dan membuat ular menjadi defensif atau menyerang.
  2. Jaga Jarak Aman: Segera mundur dan pertahankan jarak aman dari ular. Jika ular tersebut adalah kobra Jawa, pastikan jarak lebih dari satu meter. Jangan pernah menyentuh atau mencoba menangkap ular tanpa perlindungan yang memadai dan keahlian yang tepat.
  3. Mengusir atau Menggiring (dengan Hati-hati): Gunakan sapu atau tongkat untuk mengetuk tubuh ular perlahan agar tidak terkejut, kabur, atau marah. Jika Anda yakin ular tersebut tidak berbisa dan berada dekat pintu rumah yang terbuka, Anda bisa menggiringnya menggunakan kardus atau karton. Alternatif lainnya, Anda dapat mengurung ular dengan ember yang diberi beban berat di atasnya sambil menunggu petugas.
  4. Jangan Membuat Gerakan Mendadak: Gerakan mendadak seperti melompat, berlari, atau menendang tanah bisa memicu respons defensif dari ular. Reptil ini memiliki kemampuan tinggi dalam mendeteksi getaran di tanah, sehingga gerakan cepat dapat dianggap sebagai ancaman. Sebaliknya, cobalah bergerak perlahan sambil menjauh dengan posisi tubuh rendah dan langkah tenang.
  5. Hubungi Profesional: Sangat tidak disarankan untuk mencoba mengusir ular sendiri, terutama jika ular tersebut berbisa. Segera hubungi ahli penanganan satwa liar, penyelamat ular, atau Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk membantu mengusir ular dengan cara yang profesional. Tetap tenang dan waspada akan membantu Anda memantau pergerakan ular menuju tempat persembunyiannya, sehingga petugas profesional dapat menangkapnya dengan mudah.
Rekomendasi