Mengapa Rasulullah Selalu Menjaga Sholat Dhuha? Ini Rahasia Fadhilah yang Jarang Dibahas

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW secara khusus mewasiatkan pentingnya Sholat Dhuha. Simak penjelasannya di sini.

Rizka Nur Laily Muallifa
Mengapa Rasulullah Selalu Menjaga Sholat Dhuha? Ini Rahasia Fadhilah yang Jarang Dibahas
cara solat hajat Ilustrasi dibuat AI (cara solat hajat Ilustrasi dibuat AI)

Sholat Dhuha sering kali dipandang sebagai ibadah sunah yang biasa. Namun, di balik kebiasaan ini, terdapat keistimewaan yang sering tidak disadari, bahkan oleh umat Muslim itu sendiri. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW menekankan betapa pentingnya Sholat Dhuha.

Keistimewaan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga mencakup dimensi fisik dan kehidupan sehari-hari. Beberapa ulama berpendapat bahwa sholat ini dapat berfungsi sebagai pengganti sedekah harian untuk setiap sendi dalam tubuh. Oleh sebab itu, mengabaikan sholat ini sama artinya dengan melewatkan kesempatan untuk meraih kebaikan yang luar biasa.

Artikel ini mengajak pembaca untuk menjelajahi secara rinci bagaimana Sholat Dhuha dianjurkan, dipraktikkan oleh Nabi SAW, serta disarankan oleh para ulama. Dengan penjelasan yang sistematis, kita akan memahami bagaimana ibadah ini menjadi bagian penting dari rutinitas harian Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Rasulullah SAW tidak hanya memberikan contoh, tetapi juga secara jelas mewasiatkan kepada para sahabatnya untuk menjaga sholat Dhuha. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, beliau bersabda:

"Kekasihku (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku tentang tiga perkara agar jangan aku tinggalkan hingga mati; Puasa tiga hari setiap bulan, sholat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah melakukan sholat Witir." (HR. Bukhari no.1178 dan Muslim no.721)

Hadits ini menjadi landasan yang kuat bahwa sholat Dhuha memiliki posisi istimewa dalam sunnah Nabi. Wasiat tersebut tidak hanya ditujukan kepada para sahabat, melainkan juga berlaku bagi seluruh umat Muslim.

Dengan menjadikan sholat Dhuha sebagai bagian dari rutinitas harian, seorang Muslim berupaya untuk meneruskan sunnah Rasulullah dalam kehidupan yang modern, meskipun tantangan dan kesibukan yang dihadapi mungkin berbeda.

Sholat Dhuha dilakukan ketika matahari telah naik setinggi tombak, yakni sekitar 15–20 menit setelah terbitnya matahari. Waktu terbaik untuk mengerjakannya adalah ketika matahari mulai terasa panas, sebagaimana hadits berikut:

“Shalat awwabin (shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” (HR. Muslim no.748)

Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, waktu ini disebut juga waktu ikhtiyar (pilihan utama). Semakin mendekati waktu zawal (masuk Dzuhur), semakin utama pelaksanaannya.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, momen ibadah sangat diperhatikan waktunya karena terkait erat dengan keberkahan dan perhatian Allah SWT.

Sholat Dhuha sebaiknya dilakukan minimal dua rakaat, tanpa ada batasan maksimal. Rasulullah SAW pernah melaksanakan sholat ini hingga empat rakaat atau lebih, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat Dhuha sebanyak empat (rakaat), kadang beliau menambah sesuai keinginannya." (HR. Muslim no.719)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa siapa yang melaksanakan 12 rakaat akan dibangunkan istana di surga. Meskipun status riwayat ini dhaif, hal ini tetap menunjukkan betapa besar keutamaan sholat Dhuha.

Para ulama Syafiiyah berpendapat bahwa pelaksanaan sholat Dhuha sebanyak 4 atau 8 rakaat adalah bentuk yang paling sempurna dari ibadah ini. Adanya fleksibilitas jumlah rakaat dalam sholat Dhuha memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sholat dhuha memiliki banyak keutamaan yang berkaitan dengan rezeki, kesehatan, dan pengampunan dosa. Dalam sebuah hadits disebutkan:

"Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir harimu." (HR. Ahmad)

Dengan melaksanakan sholat dhuha, seseorang juga memberikan sedekah untuk tubuh dan seluruh persendiannya. Gerakan yang dilakukan saat sholat ini memiliki efek positif bagi kesehatan, di mana para ahli medis menyatakan bahwa aktivitas sholat dapat membantu mencegah risiko penyakit jantung.

Lebih dari itu, Allah menjanjikan ampunan yang sangat besar bagi mereka yang secara rutin melaksanakan sholat dhuha, bahkan diibaratkan seperti buih di lautan, sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits dari Tirmidzi. Ini menunjukkan bahwa ibadah sholat dhuha tidak hanya memberikan manfaat dari segi spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan hubungan sosial.

Sholat Dhuha sering dikenal sebagai "shalat awwabin", yang merupakan ibadah bagi orang-orang yang kembali kepada Allah. Imam Nawawi menjelaskan bahwa awwab merujuk pada individu yang taat secara konsisten.

"Tidaklah menjaga sholat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah sholat awwabin." (HR. Ibnu Khuzaimah)

Dengan melaksanakan sholat ini secara rutin, seseorang menunjukkan komitmennya untuk menjaga hubungan dengan Allah, meskipun di tengah kesibukan duniawi yang padat.

Dalam praktiknya, Rasulullah tidak selalu melaksanakan sholat Dhuha secara berjamaah, tetapi beliau membolehkannya dalam kondisi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sholat Dhuha dapat dilakukan secara fleksibel tanpa mengurangi esensinya.

Berapa rakaat minimal dan maksimal sholat dhuha?

Minimal dua rakaat, maksimalnya tidak dibatasi secara tegas. Umumnya antara 2 hingga 12 rakaat.

Apa waktu terbaik untuk sholat dhuha?

Waktu terbaik adalah ketika matahari mulai terik, sekitar pukul 08.30–10.30 pagi.

Apa manfaat sholat dhuha secara medis?

Gerakan sholat bisa memperlancar peredaran darah, meningkatkan metabolisme, dan menenangkan sistem saraf.

Apakah boleh melakukannya setiap hari?

Boleh. Bahkan disunnahkan untuk dirutinkan seperti dalam wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabat.

Rekomendasi