Bencana Banjir Bandang di Kabupaten Bima, Hujan Deras Sebabkan Kerusakan Infrastruktur dan Korban Jiwa

Banjir bandang melanda Kabupaten Bima, mengakibatkan jembatan putus, hilangnya warga, serta puluhan rumah mengalami kerusakan dan hanyut.

Rizka Nur Laily Muallifa
Bencana Banjir Bandang di Kabupaten Bima, Hujan Deras Sebabkan Kerusakan Infrastruktur dan Korban Jiwa
Dua jembatan di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, putus usai banjir bandang menerjang wilayah itu Minggu sore (2/2/2025). (Liputan6.com/ Miftahul Yani) (© 2025 Liputan6.com)

Banjir bandang yang melanda Kecamatan Wera dan Ambalawi di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu, 2 Februari 2025, telah memberikan dampak yang sangat besar. Bencana ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan pada infrastruktur, serta kerugian materi yang tidak sedikit. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut memicu luapan air sungai, mengakibatkan tanah longsor, dan merusak infrastruktur yang ada.

Pihak berwenang telah mengeluarkan imbauan kepada warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan daerah perbukitan untuk selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan. Selain itu, upaya pemulihan infrastruktur dan distribusi bantuan terus dilakukan untuk mengurangi dampak dari bencana ini.

Dirangkum Merdeka.com dari berbagai sumber pada Selasa (4/2/2025), berikut kronologi lengkap banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Kabupaten Bima, NTB.

Kronologi Kejadian

Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di kawasan hulu pegunungan Pulau Sangeang menjadi faktor utama terjadinya bencana ini. Arus air yang sangat deras membawa serta material kayu dan batu dari pegunungan, yang mengakibatkan banjir bandang melanda permukiman penduduk yang berada di lereng pegunungan.

Kekuatan arus yang ekstrem ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghancurkan rumah-rumah warga, sehingga menimbulkan korban jiwa dan memaksa sejumlah warga untuk mengungsi.

Korban Meninggal dan Orang Hilang

Berdasarkan laporan yang diterima hingga 4 Februari 2025, setidaknya tiga orang telah kehilangan nyawa. Sebelumnya, pada tanggal 2 Februari, jumlah korban jiwa yang dilaporkan hanya dua orang, namun angka tersebut meningkat menjadi tiga orang pada hari berikutnya.

Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena hingga saat ini, masih ada delapan orang yang dilaporkan hilang, dan pencarian oleh tim SAR gabungan terus dilakukan. Salah satu dari korban yang ditemukan adalah seorang anak berusia lima tahun, yang semakin menambah kesedihan dalam peristiwa ini.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 99 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, seperti masjid dan rumah kerabat. Proses pencarian korban yang terseret arus deras masih dilanjutkan oleh tim SAR gabungan. Selain itu, bantuan logistik juga telah dikirimkan guna memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi yang terdampak.

Pencarian Korban Hilang Masih Berlangsung

Hingga Senin sore, 3 Februari 2025, tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian enam orang yang hilang akibat banjir bandang. Para korban yang belum ditemukan berasal dari Desa Nanga Wera, termasuk seorang balita berusia tiga tahun dan seorang lansia berusia delapan puluh tahun.

Di sisi lain, dua orang yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan, namun dalam kondisi meninggal dunia. Korban pertama adalah Burhan (40), warga Desa Nunggi, yang tertimbun longsor saat berada di kebun. Korban kedua, Hermawati (40), warga Wora, ditemukan tewas setelah terseret arus sejauh tiga kilometer.

"Kami terus melakukan pencarian terhadap korban lainnya bersama tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta relawan dan masyarakat," jelas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bima, Nurul Huda, Senin (3/2/2025), dikutip dari Liputan6.com.

Proses pencarian masih terus dilakukan dengan menyisir daerah pesisir dan aliran sungai. Tim SAR yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan berupaya mempercepat evakuasi agar para korban segera ditemukan.

Insfrastruktur Rusak

Kronologi Banjir Bandang di Kabupaten Bima, Petaka Hujan Deras yang Sebabkan Warga Hanyut dan Infrastruktur Rusak
Dua jembatan di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, putus usai banjir bandang menerjang wilayah itu Minggu sore (2/2/2025). (Liputan6.com/ Miftahul Yani) © 2025 Liputan6.com

Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang sangat signifikan. Tujuh rumah panggung milik warga dilaporkan hanyut karena terbawa arus banjir. Tiga jembatan penting, yaitu Jembatan Tololai di Desa Mawu, Jembatan Ujung Kalate di Desa Nipa, dan Jembatan Talapiti di Desa Talapiti, mengalami kerusakan total.

Selain itu, satu ruas jalan di Desa Nanga Wera hampir putus, yang mengakibatkan terganggunya akses transportasi. Dampak dari bencana ini juga meluas ke sektor pertanian, di mana sekitar 40 hektar lahan pertanian terpengaruh, tanaman padi terbawa arus, dan sawah dipenuhi dengan sedimen.

Kondisi Para Korban

Jumlah pengungsi akibat bencana ini tercatat mencapai 99 orang. Mereka mendirikan tenda darurat di rumah kerabat dan masjid terdekat. Dalam situasi ini, sangat penting untuk segera menangani kebutuhan dasar para pengungsi, termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara. Oleh karena itu, pemerintah setempat bersama berbagai lembaga kemanusiaan harus memberikan respons yang cepat dan tepat terhadap keadaan darurat ini.

Sejumlah pihak telah mengambil langkah cepat untuk menangani dampak dari bencana tersebut. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari BPBD Kabupaten Bima, Tagana Dinsos, Basarnas, TNI, Polri, Pol PP, PMI, relawan, dan masyarakat, telah dikerahkan untuk melakukan pencarian korban serta membersihkan area yang terdampak.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bima juga memberikan bantuan berupa makanan siap saji dan layanan kesehatan untuk para korban dan pengungsi. Di sisi lain, Komisi IV DPRD Provinsi NTB telah meminta kepada Pemprov NTB agar segera merespons bencana ini dan memperbaiki kerusakan infrastruktur yang telah terjadi.

Langkah Mitigasi dan Upaya Pemulihan

Pemerintah daerah bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merumuskan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah terulangnya bencana yang sama di masa mendatang. Beberapa tindakan yang telah diambil mencakup:

  1. Pembersihan material longsor yang menghalangi akses jalan dan pemukiman warga.
  2. Perbaikan infrastruktur, termasuk jembatan dan jalur transportasi yang terdampak oleh bencana.
  3. Penyuluhan dan sosialisasi mengenai mitigasi bencana kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem.

Selain itu, tim ahli dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sedang melakukan evaluasi untuk mengidentifikasi penyebab utama terjadinya banjir. Hal ini bertujuan untuk menemukan solusi jangka panjang dalam mengurangi risiko bencana di wilayah tersebut.

1. Apa penyebab utama banjir bandang di Bima?

Banjir bandang di Bima terjadi akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan luapan sungai serta tanah longsor di beberapa wilayah.

2. Berapa jumlah korban akibat banjir bandang ini?

Hingga saat ini, 6 orang masih dinyatakan hilang, 2 orang meninggal dunia, dan sejumlah rumah hanyut tersapu banjir.

3. Apa dampak terbesar dari banjir bandang ini?

Dampak terbesar meliputi kerusakan infrastruktur, seperti dua jembatan yang putus, serta terganggunya akses transportasi bagi warga.

4. Apa yang dilakukan pemerintah untuk membantu korban banjir?

Pemerintah telah mengirimkan bantuan logistik, menyediakan tempat pengungsian, serta melakukan pencarian korban yang masih hilang.

Rekomendasi