Kisah Mahapatih Gajah Mada akan lekat dengan peristiwa sejarah bagi Kerajaan Majapahit. Namun tak banyak yang tahu sosok dibalik lahirnya seorang Gajah Mada.
Sosok yang dimaksud adalah Dewi Andong Sari, seorang istri selir dari Raja Majapahit pertama yaitu Raden Wijaya.
Faktor kecemburuan dari permaisuri Tri Buana Neswari membuatnya mendapat ancaman dibunuh sebelum akhirnya diasingkan dari kerajaan.
Meski jarang diketahui, tokoh Dewi Andong Sari masih dapat dilihat dan menapak tilas peristiwa yang terjadi ratusan tahun yang lalu lewat makamnya di Lamongan. Simak kisah selengkapnya.
Advertisement
Seorang juru kunci Makam Ratu Andong Sari bernama Juma'in menceritakan sosok Dewi Andong Sari yang merupakan ibu kandung dari Gajah Mada.
Melansir dari kanal Youtube MEGALUH TV, Rabu (8/2), dikisahkan bahwa Dewi Andong Sari adalah istri selir pertama Raja Majapahit, Raden Wijaya.
Dewi Andong Sari yang bernama asli Dara Pethak adalah putri dari Kerajaan Dharmasyara.
Menurut kisahnya, Dewi Andong Sari sempat diancam akan dibuang dan dibunuh karena fitnah yang menyebutkan bahwa ia hamil dari hasil perselingkuhan.
Sosok permaisuri raja bernama Tri Buana Neswari menjadi dalang dari ancaman tersebut. Tri Buana khawatir anak yang dikandung Dewi Andong Sari kelak akan menjadi raja karena hanya Dewi Andong Sari yang memiliki keturunan.
Advertisement
Saat dalam kondisi mengandung, Dewi Andong Sari diusir dari kerajaan dan sempat tinggal di Dusun Cacing, Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan.
Semasa diasingkan, ia tinggal di sebuah bukit di dalam hutan yang kini disebut Gunung Ratu bersama dua hewan pengawalnya bernama Kucing Condromowo dan Garangan Putih.
Dewi Andong Sari juga ditolong oleh Ki Gede Sidowayah, seorang pandai senjata pusaka sampai akhirnya melahirkan seorang bayi yang kelak dinamai Gajah Mada.
Advertisement
Kerajaan Majapahit mengutus pengawal yang ditugaskan untuk membunuh Dewi Andong Sari. Namun para pengawalnya memilih untuk menemani dewi selama di hutan.
Pada satu waktu, terjadi peristiwa salah paham yang membuat pengawal dan Dewi Andong Sari harus meregang nyawa.
Dewi Andong Sari yang pergi meninggalkan bayinya dan menitipkan kepada dua peliharaanya, terkejut karena sang bayi menghilang dan mulut pengawalnya penuh darah.
Dewi Andong Sari mengira bahwa peliharaanya yang telah membunuh bayinya. Namun, kedua pengawalnya tersebut baru saja bertarung melawan seekor ular besar yang hendak memangsa bayi Andong Sari.
Ternyata, bayinya masih hidup dan tersembunyi di balik dedaunan. Dewi Andong Sari yang merasa bersalah telah memfitnah pengawalnya akhirnya tewas bunuh diri.
Advertisement
Saat ini makam Dewi Andong Sari dan dua pengawalnya masih dapat dilihat di puncak Gunung Ratu, Ngimbang, Kabupaten Lamongan.
Makam Dewi Andong Sari dibuka pada tahun 1999 lalu. Namun, makam tersebut sering digunakan untuk pertapaan dan menimba serta mengasah ilmu sebelum resmi dibuka.
Saat ini makam terus dijaga oleh masyarakat dan masih sering digelar upacara rutin setiap selasa wage bulan Mei, Upacara Hari Jadi Lamongan, dan Upacara HUT RI.