Gerilya bakal calon Ketua Umum PSSI periode 2023-2027 telah dimulai. Sejauh ini ada dua nama bakal calon yang akan bertarung di Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI 2023 nanti yaitu Menteri BUMN Erick Thohir dan Mantan Ketua Umum PSSI La Nyala Mataliti.
Perebutan kursi panas PSSI ternyata tak hanya sekadar kampanye, namun juga sederet fakta yang mendukung betapa bergengsinya menjadi orang nomor satu di PSSI.
Terhitung pasca era Nurdin Halid berakhir pada 2011 silam, ada sekitar tujuh nama yang pernah menjabat posisi Ketum PSSI. Empat nama di antaranya terpilih berdasarkan Kongres Luar Biasa dan sisanya adalah berstatus ad interim.
Tujuh nama tersebut memiliki catatannya masing-masing selama berada di PSSI. Bagaimanakah sepak terjang tujuh nama Ketum PSSI dalam 12 tahun terakhir? Berikut informasinya.
Advertisement
Berakhirnya era kepemimpinan Nurdin Halid sejak tahun 2003-2011 ternyata meninggalkan segudang masalah di kubu PSSI. Sepanjang tahun 2011 PSSI melakukan tiga kali kongres, dimulai pada Maret 2011 di Riau, Mei 2011 di Jakarta, dan Juli 2011 di Solo.
Pada KLB PSSI di Solo, ditetapkanlah Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Kepengurusan Djohar Arifin ternyata tak membawa perubahan positif, bahkan sepakbola Indonesia terpecah menjadi dua kepengurusan (PSSI & KPSI).
Pada KLB PSSI 2012 disepakati pembubaran KPSI dan Joint Committee (JC) yang dihadiri langsung perwakilan FIFA dan AFC.
Pada era Djohar Arifin, kompetisi Indonesia terbelah dua yaitu adanya Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL). Hingga akhirnya berdampak ke Timnas sebelum akhirnya diputuskan adanya satu kompetisi yaitu ISL di musim 2015.
Advertisement
Pada KLB 2015 setelah kepemimpinan Djohar Arifin, PSSI menetapkan La Nyala Mattalitti sebagai Ketum PSSI untuk periode 2015-2019, namun di era inilah awal mula mundurnya sepakbola Indonesia karena sanksi pembekuan FIFA.
Pembekuan FIFA selama satu tahun akibat dari intervensi pemerintah di bawah perintah Kemenpora Imam Nahrawi.
Alhasil Timnas Indonesia didiskualifikasi dari berbagai kompetisi tingkat internasional, kompetisi Indonesia terhenti, dan berdampak pada mundurnya ranking FIFA Timnas Indonesia.
Advertisement
Pasca dicabutnya pembekuan oleh FIFA, PSSI secepatnya menggelar KLB di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta pada Agustus 2016. Hasilnya Hinca Panjaitan didapuk sebagai Ketua PSSI ad interim.
Status Hinca bersifat sementara hingga adanya KLB selanjutnya untuk pemilihan Ketua PSSI pada Oktober 2016.
Namun, pada November 2016, PSSI kembali menggelar KLB dengan agenda pemilihan Ketua PSSI yang baru. Lewat hasil voting, pembina klub PSMS Medan, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua PSSI untuk 2016-2020.
Advertisement
Edy Rahmayadi sempat menjadi bagian di PSSI pada periode 2016-2020, namun ia harus berhenti di tengah jalan lantaran mengikuti Pilkada Sumatera Utara pada 2019 lalu.
Mantan Pangkostrad tersebut terbilang sukses menaikkan 'pamor' Timnas Indonesia yang sempat surut pasca di sanksi FIFA. Timnas Indonesia mampu meraih Runner Up Piala AFF 2016, meraih Perunggu di Sea Games 2017, berhasil menembus babak 8 besar Asian Games 2018, menembus 8 besar Piala Asia U-19 dan U-16 2018.
Meski berhasil mencapai beberapa prestasi bersama Timnas, nama Edy Rahmayadi sempat dipaksa untuk mundur oleh para suporter Timnas lantaran adanya indikasi keterlibatan politik di PSSI. Hingga prestasi memalukan Timnas di Kualifikasi Piala Dunia 2022 setelah memecat Luis Milla dari kursi kepelatihan.
Advertisement
Setelah berakhirnya kepemimpinan Edy Rahmayadi yang terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara, posisi Ketua PSSI sementara diisi oleh Joko Driyono.
Namun jabatan Joko Driyono bersama PSSI hanya seumur jagung lantaran ia ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pengrusakan dokumen barang bukti kasus pengaturan skor.
Kala itu, dibawah komando Kapolri Tito Karnavian, dibentuklah Satgas Anti Mafia Bola yang salah satu aksinya mengungkap kasus Joko Driyono. Joko Driyono hanya menjabat sejak Januari 2019-Mei 2019.
Estafet kepemimpinannya dilanjut oleh Iwan Budianto sejak Mei 2019-November 2019 hingga KLB PSSI 2019 untuk menentukan Ketua PSSI yang baru digelar pada November 2019.
Advertisement
Pada KLB 2019, dipilih nama Mochamad Iriawan (Iwan Bule) sebagai Ketua Umum PSSI terbaru periode 2019-2023.
Pada KLB di Hotel Shangri-La, Jakarta, Ibul mendapat 82 suara dari 85 voters yang hadir. Bersama PSSI Iwan Bule melakukan banyak gebrakan termasuk mendatangkan eks pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 Shin Tae-Yong.
Prestasi Timnas di tangan Iwan Bule memang belum terlalu mentereng, namun banyak asumsi publik menilai jika di era Iwan Bule Timnas mengalami peningkatan kualitas permainan termasuk memperbaiki ranking FIFA.
Pada era Iwan Bule, Timnas mampu kembali berhasil tampil di Piala Asia setelah absen selama 16 tahun.