Selama bulan Ramadhan berbagai tradisi unik banyak dilakukan oleh sejumlah masyarakat di berbagai daerah. Salah satunya ialah tradisi berebut bubur untuk berbuka puasa di Masjid Darusalam Kota Solo, Jawa Tengah.
Biasanya, setiap hari menjelang waktu berbuka puasa puluhan orang selalu mengantre untuk dapat menikmati semangkuk bubur samin. Bubur ini menjadi hidangan ikonik selama bulan puasa bagi masyarakat Solo.
Tradisi unik berbuka puasa dengan bubur samin ternyata sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Selama sebulan penuh, takmir masjid biasanya memasak bubur Samin untuk dibagikan secara gratis. Simak ulasannya:
Advertisement
Tradisi bagi-bagi bubur gratis sudah dilakukan oleh takmir masjid Darusalam, Kota Solo, Jawa Tengah sejak puluhan tahun lalu. Disebut Bubur Samin karena bubur dimasak dengan menggunakan minyak samin sebagai penyedap.
Bubur itu juga dikenal dengan nama Bubur Banjar, mengacu tempat asalnya, Kota Banjar. Sudah sejak lama, warga Solo keturunan Banjar, Kalimantan Selatan biasa menyediakan sekitar 1.000 porsi bubur yang dibagikan secara gratis untuk warga berbuka puasa.
Menjelang maghrib, puluhan warga biasanya berkumpul dan berebut untuk segera mendapatkan bubur samin yang masih hangat.
Advertisement
Berdasarkan informasi, disebutkan jika tradisi membuat bubur Samin ini rutin dilakukan selama Ramadhan sejak masjid Darusalam didirikan. Kurang lebih pada tahun 1911 oleh masyarakat asal Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang intan dan batu permata. Dulunya, kegiatan ini disebut pertama kali dilakukan oleh Yusuf Solawat dan Akhri Zein. Tradisi tersebut terus berlanjut hingga Langgar Darusalam diperbaiki pada tahun 1930-an, tetapi masih sebatas untuk internal jemaah masjid.
Hingga Langgar Darusalam dibangun menjadi sebuah masjid pada tahun 1965, tradisi bubur Samin masih terbatas. Baru setelah tahun 1985, bubur Samin dikenalkan kepada masyarakat umum dengan membagi-bagikannya secara gratis selama bulan Ramadan. Hingga kini, tradisi nenek moyang itu masih terus dilakukan.
Advertisement
Bubur Samin sendiri dibuat dengan bahan dasar beras, santan, susu, minyak samin dan aneka rempah-rempah. Sehingga, rasa yang dihasilkan pun gurih.Disebutkan, jika biasanya dalam sehari takmir masjid bisa menghabiskan sekitar 50 kilogram beras. Sedangkan anggaran untuk pembuatan takjil gratis itu didapat dari bantuan masyarakat.
Pembuatan bubur Samin dipusatkan di Masjid Darussalam, Jayengan. Proses memasak dimulai pukul 12 siang. Selepas salat Asar atau sekitar pukul 16.00, ratusan warga biasanya mulai berdatangan sambil membawa piring dan rantang untuk mengambil bubur.