Banyak cerita inspiratif dari setiap orang sukses di negeri ini. Salah satunya dari pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir.
Kesuksesan yang diraihnya hingga masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia tidak lah mudah. Penuh perjuangan dan kerja keras sampai berada di titik seperti saat ini. Namun selain kisah inspiratifnya, ada cerita menarik yang tak banyak orang tahu.
Seperti terungkap pada perbincangan santai di Youtube sang anak, Grace Tahir. Sebelum menjadi konglomerat, Tahir pernah melakukan hal yang dirasakan orang kurang mampu. Berikut ulasannya dilansir dari YouTube Grace Tahir, Jumat (25/3).
Advertisement
Pernah Pakai Odol Dipencet Sampai Dilipat-lipat
Baru-baru ini konglomerat Tahir berbincang santai dengan putrinya, Grace Tahir. Perbincangan itu bukan mengenai bisnis atau tips kesuksesan tapi lebih bersifat pribadi.
Pada akhir obrolan, Grace melempar beberapa pertanyaan dari warganet. Pemilik Bank dan Rumah Sakit Mayapada ini bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan receh netizen.
"Apa papa pernah, soalnya papa sangat rich kan sekarang, pernah nggak si ngeluarin odol sampai dipencet-pencet sampai dilipat-lipat," tanya Grace.
"Ofcourse (tentu). Saya pernah melakukannya," jawab Tahir sambil tertawa.
Pakai odol dipencet-pencet sampai dilipat kebiasaan orang-orang sederhana saat pasta gigi yang akan dipakai habis. Kebiasaan itu kini sering kali dibuat guyonan kepada orang tajir.
Namun dia terlihat kebingungan saat ada yang menanyakan pernah tidak memakai gayung berbentuk love. Dia pun menjawab tidak pernah.
Tapi siapa sangka, menantu Mochtar Riadi itu ternyata pernah juga makan mi instan pakai nasi. Kebiasaan ini umumnya tak dilakukan sebagian orang, khususnya konglomerat.
"Papa pernah nggak si makan bakmi sama nasi," tanya Grace.
"Pasti sering dong, waktu kita enggak punya uang," jawab Tahir.
Advertisement
Orang Terkaya di Indonesia
Dato Sri Tahir tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia. Berdasarkan Forbes tahun 2021, Tahir berada di urutan ke 5 orang terkaya di Indonesia. Nilai kekayaan Tahir diperkirakan mencapai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp51 triliun.
Gurita bisnis pria kelahiran Surabaya 26 Maret 1952 ini, antara lain perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS).