Menko Hankam Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab) Jenderal Abdul Haris Nasution, sekira tiga hari sebelum pertumpahan darah G30S/PKI sempat diajak berfoto oleh Ketua Umum Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI), Dipa Nusantara Aidit.
Potret kebersamaan keduanya dinilai langka dan mengejutkan. Tak disangka, Nasution menjadi salah satu dari 8 jenderal yang namanya tercatat dalam target korban G30S/PKI. Ditambah lagi, dulu di lingkaran pemerintah, tengah populer adanya Nasakom (Nasionalisme Agama dan Komunis).
Berikut ulasan selengkapnya.
Advertisement
Sebelum peristiwa subuh berdarah. Melansir dari buku 'Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam, Curahan Kasih, Muntahan Peluru', diceritakan momen kala DN Aidit menerima Bintang Mahaputra dari Presiden Soekarno.
Bintang Mahaputera merupakan tanda kehormatan tertinggi kedua yang diberikan oleh pemerintah RI. Lantaran berhasil menjaga keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan NKRI. Dalam momen itulah Jenderal Nasution diajak berpose di hadapan para wartawan.
"Pada suatu sore tanggal 28 September 1965, Pak Nas dan keluarga berkumpul di meja makan, Pak Nas bercerita bahwa beberapa Hari sebelumnya Ia sempat berfoto bersama DN aidit di Istana Merdeka," tulis dalam keterangan foto akun Instagram @revolusi_bangsa1965.
Advertisement
Ironisnya Nasution menjadi salah satu target G30S/PKI, jelang dirinya berfoto bersama ketua PKI kala itu.
Aidit sempat menanyakan mengenai penghargaan yang diterima oleh Nasution. Mengenai keberhasilannya menumpas komunis tahun 1948 di Madiun, Jawa Timur.
"Menurut pak Nas, Aiditlah yang terlebih dulu mengajaknya berfoto bersama di depan kamera, lalu ia berkata: "Jenderal di antara Sederet tanda Jasa di dadamu, mana tanda jasa Operasi Penumpasan PKI di Madiun 1948?," imbuhnya.
Mendengar kalimat Aidit, sontak Nasution menunjukkan tanda jasanya. Seketika dibalas dengan gandengan Aidit untuk segera berpose.
"Spontan Pak Nas langsung menunjuk tanda jasa yang dimaksudkan dan Aidit cepat-cepat menggandengnnya untuk kemudian meminta para wartawan menjepret kebersamaan mereka," pungkasnya.
Alasan Jenderal Nasution jadi Incaran
Salah satu alasan kuat Jenderal Nasution tercatat sebagai target PKI lantaran ia termasuk jenderal yang lantang menentang paham komunis di tanah air. Hal ini sempat diungkapkan oleh putri sulung sang jenderal, Hendrianti Sahara Nasution dalam sebuah acara.
Advertisement
Pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S), DN Aidit tak luput dari incaran dan pembantaian pengikut PKI. Alwi Shahab dalam harian Republika menulis, saat penangkapan, Aidit bersembunyi di dalam sebuah lemari.
Kala itu, Aidit ditemukan oleh Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri, dan para anak buahnya di Solo.
Dikutip dari Liputan6.com, Kamis (1/10), Aidit sekian kali memohon untuk dipertemukan dengan Presiden Soekarno. Tapi hal itu tak dituruti, karena khawatir akan memutarbalikkan fakta.
“Jika diserahkan kepada Bung Karno pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain,” ungkap Yasir seperti dikutip dalam buku 'Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia' karya Abdul Gafur.
Akhirnya Aidit dibawa ke Solo dan memasuki Boyolali. Kolonel Yasir membelokkan mobilnya menuju Markas Batalyon 444.
Mereka membawa Aidit ke sumur tua di belakang bangunan. Yasir mempersilakan tahanannya untuk mengucapkan pesan terakhir. Tapi, Aidit justru mengumandangkan pidato dengan dengan suara lantang.
Kolonel Yasir dan anak buahnya pun naik pitam usai mendengar pidatonya. Dia langsung menembak Aidit dengan timah panas, hingga dadanya berlubang. Jenazah Aidit langsung tersungkur masuk ke dalam sumur.