Ada seribu satu cerita yang terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Johan Amir (96) merupakan salah satu saksi bisu perlawanan Bangsa Indonesia.
Menariknya, Johan merupakan sosok pria keturunan Belanda yang berjuang dan mengabdi untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.
Seperti apa kisahnya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini, dilansir dari kanal YouTube Pangais Channel, Jumat (23/7).
Advertisement
Cisurupan, Garut, Jawa Barat menyimpan satu sosok pria yang penuh cerita. Di masa kecil hingga remaja, Johan tak bisa lepas dari konflik yang terjadi pada zaman penjajahan di Indonesia hingga melibatkan Belanda. Ia pun menjadi salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia.
"Jangan dibilang tentara Indonesia, tapi pejuang Indonesia," ujarnya.
Ikut Rebut Kemerdekaan
Menjelang tahun 1945 hingga 1947 merupakan momen yang menegangkan bagi Johan. Ia turut berjuang melawan para penjajah, termasuk para tentara yang memiliki kebangsaan sama dengannya, Belanda.
"Itu tahun 1947 atau 1946. Tahun 1945 merebut kemerdekaan, tahun 1946 saya sudah di Garut," ceritanya.
Advertisement
Johan merupakan pria keturunan Belanda yang sejak kecil menetap di Garut, Jawa Barat. Diketahui, Johan lahir di Amsterdam, Belanda. Saat berusia 3 bulan, sang ayah mengajaknya ke Indonesia.
"Lahir di Belanda, usia 3 bulan langsung pulang ke Indonesia. Ayah saya cuti pulang ke Belanda, balik lagi bawa saya," ujarnya.
Paham Bahasa Belanda
Menjadi keturunan Belanda membuat Johan senantiasa mampu berbahasa Belanda. Meskipun ia mengaku tak cukup fasih layaknya menggunakan Bahasa Indonesia.
"Bisa, bisa sedikit-sedikit," terangnya.
Kemampuannya itu tak lain diperolehnya melalui teman sepermainan saat kecil. Ia terpaksa berkomunikasi dengan bahasa Belanda.
"Jadi dulu itu gak belajar, cuma teman-teman itu ngobrolnya pakai Bahasa Belanda," paparnya.
Advertisement
Tak hanya kebahagiaan, masa sulit pun juga dilalui Johan. Ia merupakan salah satu lakon yang turut mengobarkan Peristiwa Bandung Lautan Api. Bersama dengan 17 orang sebagai anak buah, Johan nekat mematuhi perintah untuk menghalau Belanda di Tanah Pasundan.
"Saya ikut Bandung Lautan Api. Pas itu saya keluar, setelah selesai masuk lagi ke Bandung. Saya diperintahkan bawa 17 anak buah bakar rumah, jadi di dalam daerah Belanda itu pengacauan saja, dibakar semua," ceritanya.
Layaknya pejuang pada umumnya, Johan juga memiliki senjata. Namun, aturan baru muncul dan membuat dirinya tak lagi diizinkan untuk memiliki senjata.
"Ada (senjata). Sesudahnya ada pengumuman, senjata itu harus masuk (disita). Ya semua jadinya ditarik, tapi kecuali militer sama polisi," ungkapnya,
Masa itu sudah berlalu. Kini, Johan tinggal bersama dengan keluarga di rumah sederhana nan nyaman. Menikmati masa senja sembari sesekali bernostalgia.