Ingat Ladiba Pilot Wanita Pertama TNI AD, Ini Potret Terbarunya Cantik Tak Berseragam

Saat ini, ia menjabat sebagai Co Pilot TNI AD dan helicopter pilot. Selain itu banyak yang kagum akan kisah perjalanan hidupnya yang inspiratif. Alumni taruni angkatan pertama ini berasal dari keluarga sederhana.

Kurnia Azizah
Oleh Kurnia Azizah - Reporter
Ingat Ladiba Pilot Wanita Pertama TNI AD, Ini Potret Terbarunya Cantik Tak Berseragam
Pilot Wanita Pertama TNI AD. ©2020 Youtube TNI AD

Letda CPN (K) Puspita Ladiba nama yang sudah tidak asing lagi dunia penerbangan. Wanita asal Medan ini pernah mencuri perhatian karena menjadi penerbang wanita pertama di TNI Angkatan Darat.

Saat ini, ia menjabat sebagai Co Pilot TNI AD dan helicopter pilot. Selain itu banyak yang kagum akan kisah perjalanan hidupnya yang inspiratif. Dia berasal dari keluarga sederhana.

Ayahnya berprofesi jadi sopir dan ibunya tukang jagung bakar kian membangkitkan semangatnya. Kini sosoknya kian memesona sebagai seorang tentara.

Berikut deretan potret terbaru Letda Ladiba.

Paras Letda Puspita Ladiba seakan kian menarik. Beberapa potret dan aktivitasnya kerap diunggah di laman Instagram pribadinya. Salah satunya saat momen mengenakan kebaya warna pink fuchsia berikut ini.

"Thank you tangan ajaibnya ❤️😍," tulisnya dalam caption.

Selama ini banyak foto Letda Ladiba berseragam. Dia juga bisa tampil feminim di beberapa sesi. Gadis yang akrab disapa Diba itu tampil anggun di balik balutan kain batik warna merah muda.

Potret Ladiba dengan bergaya kasual pun tak kalah mencuri perhatian. Ini saat dirinya tengah olahraga jogging di sekitar Mill 21 enviromental PT FREEPORT INDONESIA, Timika, Papua Barat.

Saat menceritakan pekerjaan orang tuanya banyak yang meragukan. Bahkan, ada yang menyebut Ladiba berbohong.

"Ayah saya sopir, ibu saya jual jagung. Bohong kamu, mana bisa anak sopir (masuk taruni)," katanya seperti dikutip dari kanal Youtube resmi TNI AD.

"Saya waktu itu cuma sopir rental, enggak ada pekerjaan tetap. Istri saya jualan di pinggir jalan. Tapi kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anak," cerita sang ayah, Herry Naldi Febri semabri menahan haru.

Masa sekolah Diba dilalui dengan penuh kesederhanaan. Bahkan semasa SMA, ia tak memiliki ponsel seperti teman sebayanya.

"Saya menyadari dengan keterbatasan kemampuan orang tua. Untuk handphone, Diba gak berani minta orang tua. Teman-teman sudah punya handphone, Diba belum punya sendiri di kelas," papar Diba.

Kesederhanaan Diba membawa pada nasib baik. Setelah melaksanakan tugas sebagai Paskibraka, Diba mendapat uang saku dari sponsor. Yang dipergunakan untuk membeli ponsel.

Rekomendasi