Perjalanan hidup Soegeng Soejono muda sebagai eksil politik peristiwa 1965 menarik ditelusuri. Kala itu sebagian warga Indonesia tersebar di wilayah Eropa untuk belajar atau menjadi delegasi negara.
Soegeng termasuk mahasiswa yang menerima beasiswa pada September 1963. Meski akhirnya ia harus rela dicabut hak kewarganegaraannya karena menolak Orde Baru lalu dicap sebagai komunis.
Di usia masih muda, Soegeng harus menjalani kehidupannya di luar negeri tanpa kerabat. Berkat bantuan seorang kawan, Soegeng bisa berjumpa keluarga dan menepati janjinya.
Berikut kisahnya.
Advertisement
Bertemu secara Rahasia
Akibat gejolak politik di Indonesia tahun 1965, Soegeng termasuk yang dicabut kewarganegaraannya. Akhirnya secara diam-diam ia bertandang ke Amsterdam, Belanda, menemui kakaknya.
Soegeng menceritakan segala kegundahannya. Lantaran kewarganegaraannya dicabut dan dituduh komunis. Ia tak tahu pasti konflik apa yang sebenarnya tengah melanda Indonesia.
"Kejadian itu (Orde Baru) tahun 1965 ya. Kebetulan tahun 1966 saya bisa ketemu secara rahasia dengan kakak saya yang tertua di Amsterdam. Di mana saya berbincang-bincang tentang nasib saya dan tidak bisa pulang," kata Soegeng seperti dikutip dari kanal YouTube NikolasCestuje (Nikola Berpetualang).
Meski begitu, Soegeng mengaku bersyukur. Ia masih memiliki kesempatan berjumpa saudaranya. Keluarganya pun dalam keadaan baik.
"Berkat pertemuan itu, keluarga saya tidak ada problem dan sudah direstui oleh keluarga. Jadi saya lebih enak, tidak seperti teman lain yang tidak bisa bertemu keluarga sama sekali," imbuhnya.
Advertisement
Setelah Dibuang 35 Tahun
Akhirnya, keinginan besar Soegeng untuk bisa pulang pun terlaksana. Semua berkat bantuan dari kawannya yang tak mau disebutkan namanya.
Kala itu temannya bertugas di Kementerian Luar Negeri di KBRI negara Ceko. Ia memahami keadaan Soegeng dan berusaha membantu.
"Kembali ke Indonesia, tahun 1998 terjadi reformasi. Kita dulu tidak pernah ke KBRI, pada waktu itu kebetulan yang jadi duta besar kawan kami. Dan beliaulah yang berusaha di Kemenlu. Orang-orang seperti saya yang dianggap jahat, itu sebenarnya orang normal dan cinta tanah air. Berkat kawan saya itu saya bisa pulang," ungkap Soegeng.
Pria yang menjalani pendidikan di Charles University itu akhirnya bisa pulang di usia 59 tahun. Setelah 35 tahun berlalu, Soegeng masih merasakan sisa-sisa pemerintahan Presiden Soeharto yang hampir lengser.
"Sekitar bulan April pemerintahan Soeharto masih ada. Jadi waktu dia lengser, saya ada di Pulau Bali. 35 Tahun enggak bisa lihat tanah air. Sebelumnya saya tinggal di Kebayoran," paparnya.
Advertisement
Ikrar Soegeng Tercapai
Rindu akan Indonesia kian memuncak. Soegeng menceritakan saat tidak bisa pulang, ia membuat ikrar. Sebuah janji sederhana yang masih terngiang hingga di usia senjanya itu.
"Sampai saya dulu pernah berikrar, kalau nanti saya bisa sampai ke tanah air. Masih sempat, saya akan cium tanah saya itu. Tanda cinta saya kepada tanah air," ujar Soegeng.
Advertisement
Cium Tanah Basah
Harapan Soegeng untuk pulang ke Indonesia akhirnya terwujud. Seketika ia ingat akan ikrarnya semasa muda dulu. Tapi saat itu, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi lantai beton.
"Pada waktu keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, saya ingat bahwa saya berjanji waktu itu. Tapi di sana kok beton semua itu. Padahal janji saya kan tanah. Waktu saya keluar, dijemput keluarga cukup banyak. Saya bilang, 'nanti dulu saya ada hajat'," tutur Soegeng.
Sebelum ke rumah, Soegeng hengkang sekejap. Ia pamit ke keluarga. Nahasnya hujan belum lama turun, sehingga Soegeng harus mencium tanah basah. Sontak saja keluarganya tertawa, sekaligus terharu melihat bentuk kecintaannya tersebut.
"Saya pergi mana yang ada tanah. Sialnya itu habis hujan, jadi saya mencium yang ada airnya. Keluarga terkekeh waktu saya ceritakan. Mereka juga merasa terharu dan mengakui, meskipun lama di luar negeri, cinta tanah air tak ada reda-redanya," pungkasnya tertawa.