Soegeng Soejono, Mahasiswa di Luar Negeri 'Dibuang' RI Ditolong Negeri Komunis

Kisah Soegeng Soedjono, mahasiswa RI di luar negeri yang pernah dicabut hak kewarganegaraannya di peristiwa bersejarah tahun 1965.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Soegeng Soejono, Mahasiswa di Luar Negeri 'Dibuang' RI Ditolong Negeri Komunis
Kisah Mahasiswa Indonesia yang Terbuang di Luar Negeri. Instagram/@soegengsoedjono ©2021 Merdeka.com

Soegeng Soejono, merupakan satu di antara segelintir eksil politik yang masih tersisa di tanah pengasingan, Republik Ceko. Ia dulunya merupakan seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dicabut hak kewarganegaraannya karena menolak Orde Baru dan dicap sebagai seorang komunis.

Sejak saat itulah Soegeng hidup selama puluhan tahun tanpa memiliki status kewarganegaraan. Dalam kondisi tersebut, ia justru diselamatkan oleh pemerintah Ceko yang notabennya adalah negara komunis. Berkut informasi selengkapnya:

Gerakan G30SPKI Pecah & Sugeng Dituduh Sebagai Komunis

Saat gerakan G30SPKI pada 30 September 1965 pecah di Tanah Air, Soegeng yang masih berada di Ceko ikut mendengar kabar tentang pembunuhan para jenderal-jenderal besar. Namun, ia dan rekan-rekannya belum mengetahui pasti apa yang terjadi mengingat akses informasi pada saat itu masih terbatas. Hingga akhirnya, satu minggu setelah kejadian itu Soegeng bersama 200-an mahasiswa Indonesia lain dipanggil untuk melakukan screening.

"Seminggu setelah itu, kita mendapat panggilan pelajar itu di screening satu per satu dengan satu pertanyaan 'apakah saudara setuju dengan orde baru' waktu itu saya jawab 'saya tidak tahu apa itu orde baru kalau saudara bisa terangkan saya akan tahu apa itu' jawabnya 'ya itu sekarang yang berkuasa di Indonesia'," kata Soegeng dikutip dari Youtube MahasiswaPL.

"Saya bilang kalau yang dimaksudkan itu saya tidak bakal setuju karena informasi yang saya dapat terjadi suatu kekerasan pembunuhan orang yang dianggap komunis, dan itu tanpa ada proses hukum. Saya bilang saya tidak setuju karena dengan begitu rezim yang baru ini tidak menghargai Hak Asasi Manusia," tambahnya.

Karena jawaban itu, Soegeng kemudian dituduh sebagai seorang komunis. Ia diminta untuk segera pulang ke Indonesia. Namun, Soegeng menolak dikarenakan ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya apabila kembali ke Indonesia setelah dicap sebagai seorang komunis.

"(Kenapa tidak pulang) dulu itu orang yang dituduh saja (sebagai komunis) langsung di (eksekusi) lah saya ini terang-terangan menyatakan melawan, kalau saya pulang (ke Indonesia) ya gimana," tambahnya.

Hak Kewarganegaraannya Dicabut

Karena keputusannya yang menyebut tidak setuju dengan Orde Baru dan menolak untuk pulang ke Tanah Air, Soegeng kemudian mendapat sanksi dengan dicabutnya hak kewarganegaraan dirinya. Meski begitu, Soegeng mengatakan bahwa dirinya sudah memprediksi konsekuensi itu. Hal tersebut ia sampaikan dalam video di kanal Youtube Alvina Yolanda. "Untuk itu saya menyatakan tidak setuju dan dinyatakan bahwa visa dan passport saya dicabut. Ya saya jawab 'saya sudah tahu apa akibatnya apa dampaknya, jika kita tidak setuju dengan orde baru itu karena kami membela yang benar'," kata Soegeng.

Dapat Perlindungan dari Negara Ceko

Karena gejolak politik tersebut, Soegeng dan beberapa mahasiswa Indonesia lain yang menolak Orde Baru kemudian hidup tanpa memiliki status kewarganegaraan. Beruntung, Republik Ceko bersedia memberikan perlindungan suaka politik agar mereka tetap bisa berada di negara tersebut meski tidak memiliki visa dan passport.

"Kami orang-orang yang tidak setuju menyatakan bersama-sama minta suaka politik di negara Republik Ceko. Negara itu memberi kami suaka politik. Bahwa kami dilindungi secara politik dari bencana itu dari apa yang ditindak itu," kata Soegeng. "Itu negara (Ceko) yang dibilang negara komunis ya. Jadi sampai sekarang saya bingung kalau ada orang menjelek-jelekkan komunis tanpa tahu apa itu komunis. Saya dulu itu ditolong saya dulu dibela meskipun saya bukan komunis," tambahnya.

Merasa Punya Utang Kepada Negara

Saat di Ceko, Soegeng diketahui berkuliah di Charles University dan mengambil dua jurusan yakni Ilmu Pendidikan dan Ilmu Kejiwaan untuk Anak-Anak. Setelah visa dan passport-nya dicabut dan tidak bisa kembali ke Tanah Air, Soegeng kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikannya dan mengambil jurusan Kultur Politik dan Media Massa. Berangkat ke Ceko dengan program beasiswa pemerintah, Soegeng pun mengatakan bahwa ia selalu merasa memiliki utang kepada negara yang tak pernah bisa ia bayarkan karena adanya gejolak politik pada tahun 1965.

"Jadi saya ini jelek-jelek punya empat keahlian dan notabennya tidak bisa saya sumbangkan untuk negara & rakyat Indonesia  tercinta. Karena saya merasa bahwa saya dulu sekolah disini dikirim oleh negara dan dibiayai oleh uang rakyat dan negara jadi saya ingin mengembalikan utang saya itu tapi karena soal politik ini saya sampai tidak berguna dengan ilmu yang saya dapatkan tidak dapat saya sumbangkan langsung," kata Soegeng. "Untuk itu sampai sekarang kalau ada hubungan dengan Indonesia saya membantu dengan sekuat tenaga karena ingin melunasi utang saya terhadap rakyat Indonesia," tambahnya.  

Awal Datang ke Republik Ceko

Melalui sebuah video di kanal Youtube MahasiswaPL, Soegeng pernah bercerita bagaimana awal mula dirinya bisa datang ke Ceko. Hal tersebut dimulai ketika ia memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta. Di Ibukota ia dipertemukan dengan Soemarno Sosroatmodjo yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta.Mereka dipertemukan ketika Soegeng bekerja di Palang Merah Indonesia pimpinan Soemarno. Dari situlah pembahasan tentang pendidikan dimulai yang berujung Soemarno memberikan surat rekomendasi agar Soegeng bisa ikut menjalani tes beasiswa pendidikan di luar negeri.

"Terus bapak itu (Soemarno) bilang ke Ceko aja katanya, datang ke sini September 1963 terus masuk satu tahun di (belajar) bahasa Ceko. Dan kembali ke sini (Praha) tahun 1964 mulai kuliah," kata Sugeng dikutip dari Youtube MahasiswaPL.Setelah puluhan tahun hidup tanpa memiliki kewarganegaraan, Soegeng akhirnya memutuskan untuk mengambil status kewarganegaraan sebagai warga negara Ceko. Ia kini diketahui juga telah menikah dengan wanita asal Ceko dan memiliki dua orang anak serta empat orang cucu. "Umur 24 saya baru datang ke Ceko. Enggak ngira bahwa sebagian besar hidup saya akan (dihabiskan di sini), enggak ngira sama sekali," tuturnya.

Rekomendasi