Fadli Zon Kenang Perjuangan Ibunda Tercinta Semasa Hidup

Fadli Zon kenang perjuangan mendiang ibunya semasa hidup, membesarkan ia dan kedua adiknya seorang diri.

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Fadli Zon Kenang Perjuangan Ibunda Tercinta Semasa Hidup
Fadli Zon Kenang Mendiang Ibundanya. Youtube/Fadli Zon Official ©2021 Merdeka.com

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, belum lama ini melepas kepergian ibunda tercinta untuk selama-lamanya. Ellyda binti Muhammad Yatim, wafat pada Jumat (19/2/2021) lalu, di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok pada usia 75 tahun.

Hari ini tepat 7 hari pasca kepergian sang ibunda, Fadli Zon kembali mengenang perjuangan wanita yang paling dicintainya itu melalui sebuah video.

Hal tersebut, diketahui dari unggahan di kanal Youtube Fadli Zon Official (25/2/2021). Berikut ulasan selengkapnya:

Dalam video berjudul 'Mengenang Wafatnya Ibunda Hj Ellyda binti Muhammad Yatim', Fadli Zon menceritakan kilas balik tentang perjuangan almarhumah ibunya.

Selain video, Fadli juga diketahui pernah meluncurkan sebuah buku tentang ibundanya yang berjudul "Menyusuri Lorong Waktu" pada 1 Juni 2016 lalu.

Dalam video berdurasi sekitar 15 menit itu, Fadli menceritakan perjuangan ibunya yang terpaksa harus membesarkan ia dan kedua adiknya seorang diri. Ia menyebut, ibunya merupakan orang yang paling dekat dan berjasa dalam hidupnya.

"Bagi saya, ibu saya adalah orang yang paling dekat dengan saya. Orang yang sangat mempengaruhi dan orang yang sagat berjasa dalam membuat kehidupan saya menjadi seperti ini," kata Fadli Zon, dalam video di kanal Youtube Fadli Zon Official.

Dalam videonya itu, Fadli menceritakan jika ia dibesarkan di daerah Cisarua Bogor, karena sang ayah bekerja disana. Kemudian, ia mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami kecelakaan saat melakukan camping di Pelabuhan Ratu saat masi duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Akibatnya, ia mengalami patah di bagian kaki dan harus melakukan pengobatan selama kurag lebih 3 bulan. Fadli menyebut, ayahnya lah yang selalu mengantarkan dirinya untuk menjalani terapi pengobatan menggunakan sepeda motor. Naas, suatu hari diperjalanan menuju tempat berobat, Fadli dan ayahnya mengalami kecelakaan yang membuat nyawa sang ayah melayang.

"Pada waktu itu suatu sore di tahun 1986 di bulan puasa waktu itu agak hujan rintik. Saya dibonceng oleh ayah saya, ditabrak oleh sebuah satu truk besar oleh dum truck, dan kami terlempar kurang lebih 11 meter," kenang Fadli. "Ayah saya meninggal di tempat, meskipun waktu itu saya tidak tahu ayah saya meninggal. Saya juga terlempar dan patah kaki dan beberapa tulang di lutut bergerak atau dislokasi dan luka-luka di kepala. Bahkan saya sempat dianggap sudah meninggal pada waktu itu akrena saya mendengar dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar," tambahnya.

Selepas kepergian sang ayah untuk selamanya, ibunda Fadli harus membesarkan dia dan kedua adiknya seorang diri. Mereka pun dikatakan kembali pindah ke Jakarta, untuk memulai kehidupan yang baru. "Ibu saya bukan orag yang bekerja, biasanya dulu membuat kue, membuat es, macam-macam yang bisa menghidupi ketiga anaknya," kata Fadli. Fadli menyebut, video dan buku yang ia tulis sengaja dibuat sebagai refleksi tentang sosok ibundanya yang sangat  tangguh.

"Tapi yang luar biasa dari ibu saya adalah doanya, doanya kepada anak-anaknya. Keihlasannya, kejujurannya, jadi seorag janda dengan tiga orang anak. Akhirnya bisa menyekolahkan kami semua.  Meskipun dalam arti kami semua harus berusaha mandiri, kuat, dan kokoh gitu," ungkapnya.

Berkat perjuangan dan doa dari ibunya, Fadli mengatakan jika ia dan kedua adiknya akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi. Saat duduk di bangku SMA, Fadli mendapatkan kesempatan untuk melakukan program pertukaran pelajar di Amerika. Ia pun lulus, dan melanjutkan kuliah S1 di Universitas Indonesia. Kemudian, ia kembali melanjutkan pendidikan S2 nya di London School Of Economic and Political Sains di Inggris, dan S3 di UI.  "Adik saya juga begitu, masuk ke pesantren di Darul Najah melalui jalur beasiswa. Dan akhirnya ke Al-Azhar di Kairo (Mesir) juga tentu saja melalui beasiswa. Adik saya yang bungsu, perempuan hanya bisa belajar dengan beasiswa waktu itu di Bekasi, dan akhirnya mendapatkan beasiswa di Universitas Islam Antar Bangsa di Malaysia," ungkapnya. Menurutnya, perjuangan dan doa dari ibunya itulah yang bisa membuat ia dan kedua adiknya menyelesaikan pendidikan di universitas dalam maupun luar negeri meski dalam keterbatasan ekonomi. "Jadi Alhamdulillah kita semua bisa bersekolah, lulus, di berbagai universitas dalam maupun luar negeri. Dan saya yakin itu adalah karena doa dari ibu saya," kata Fadli. Pesan Fadli untuk Pemuda-Pemudi

Di akhir videonya, Fadli juga menuturkan jika mendiang ibunya selalu meminta ia agak hidup dengan jujur, tulus, dan apa adanya. Ia juga memberikan pesan kepada semua orang khususnya pemuda-pemudi untuk selalu menyayangi dan berbakti kepada orang tua. "Saya ingin berpesan bagi rekan-rekan yang masih memiliki ibu, mari kita rawatlah ibu kita dengan sebaik-baiknya. Berbakti kepada orang tua, kepada nusa bangsa, dan tentu kepada agama kita," pungkasnya.

Rekomendasi