Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP, TB Hasanuddin mengkritik prajurit Kopaska yang membongkar pagar laut. Sebagaimana diketahui, TNI Angkatan Laut bersama dengan nelayan membongkar pagar laut misterius sepanjang 30,16 km di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (18/1).
TB Hasanuddin pun mempertanyakan pembongkaran pagar laut di wilayah pesisir Tangerang ini sudah melalui proses hukum atau tidak. Pasalnya, sejauh ini pemerintah belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas pemasangan pagar laut tersebut.
"Apakah sudah melalui proses hukum? Itu kan pelanggaran terhadap UU jadi harus ada yang bertanggung jawab," kata TB Hasanuddin, pada wartawan, Minggu (19/1).
Tak hanya itu, TB Hasanuddin juga mempertanyakan atas perintah siapa TNI AL (Danlantamal) III yang memimpin langsung pembongkaran pagar laut tersebut.
"TNI Al (Danlantamal) III atas perintah siapa telah menghilangkan alat bukti?" tegasnya.
Lantas bagaimana pofril TB Hasanuddin PDIP penjuanan Jenderal TNI yang kritik Kopaska obrak-abrik copot pagar laut tersebut? Melansir dari berbagai sumber, Senin (20/1), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
TB Hasanuddin memiliki nama lengkap Tubagus Hasanuddin. Pria yang lahir di Majalengka pada 8 September 1952 ini merupakan pensiunan Jenderal TNI. Kini, Ia tengah menjabat sebagai anggota DPR RI dari fraksi PDIP.
Ini bukan kali pertama Hasanuddin menjadi anggota DPR RI. Tercatat, sebelumnya Ia juga telah dilantik sebagai sebagai anggota DPR/MPR periode 2009-2014 dan menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI. Pada tahun 2014, Ia kembali terpilih menjadi anggota Komisi I DPR RI hingga tahun 2018.
Kiprah pria yang sudah dikaruniai dua orang anak ini termasuk paling aktif dalam kapasitasnya sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan. Setiap kali tampil di depan publik, Ia hampir selalu mengeluarkan pernyataan yang mengundang pro dan kontra.
Contohnya saja mengenai beberapa isu pertahanan negara yang diangkatnya di publik. Seperti rencana pembelian Main Battle Tank dari Belanda dan pesawat tanpa awak dari Israel.
Terbaru, Ia kembali mengkritik prajurit Kopaska yang membongkar pagar laut di Tangerang.
Kritisi yang dilontarkan TB Hasanuddin yang terkesan 'mempertanyakan' kinerja TNI ini pun selalu kena bantahan. Akibatnya, muncul pro dan kontra. Ada yang suka dengan sifatnya yang blak-blakan, tapi tak sedikit juga yang mulai mempertanyakan maksud dan tujuan kritisi itu dibawa ke ranah publik.
Advertisement
Sebelum masuk ke dunia politik, TB Hasanuddin adalah anggota TNI AD dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal (Mayjen) atau Jenderal Bintang 2 TNI.
Ia merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1974. Ia kemudian belajar di Universitas Pasundan, memperoleh gelar sarjana, magister dan doktor.
Setelah lulus, Tubagus ditugaskan di Kodam III/Siliwangi. Pada tahun antara 1992-1993, Ia ditugaskan ke Irak sebagai bagian dari Kontingen Garuda.
Setelah beberapa waktu di Kodam Jaya dan Kostrad, Ia diangkat menjadi ajudan Wakil Presiden Try Sutrisno pada tahun 1996. Setelahnya, Ia menjadi ajudan Presiden B.J. Habibie pada tahun 1998. Ia kembali diberi amanah untuk menjadi ajudan Presiden Abdurrahman Wahid.
Ia kemudian diangkat menjadi sekretaris militer Presiden Megawati Soekarnoputri. Setelah Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden, Ia digantikan pada bulan November 2004. Tubagus lantas melanjutkan dinasnya di markas TNI hingga pensiun pada tahun 2009.
Advertisement
Sebelumnya, KKP sudah menyegel pagar laut itu pada Kamis (9/1). Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Pung Nugroho Saksono menyebut penyegelan ini atas perintah Presiden Prabowo Subianto, serta arahan langsung Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Penyegelan dilakukan karena pemasangan pagar laut itu diduga tak berizin dasar Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL). Keberadaannya juga mengganggu nelayan dalam mencari ikan.
Pagar laut misterius ini pertama kali diungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten Eli Susiyanti. Kata dia, pihaknya menerima laporan warga pada 14 Agustus 2024 lalu.
Pembangunan pagar laut misterius Tangerang itu mencaplok wilayah pesisir 16 desa di 6 kecamatan. Ada masyarakat pesisir yang beraktivitas sebagai nelayan sebanyak 3.888 orang dan 502 pembudidaya di lokasi tersebut.