Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penyebab Perang Suriah yang Terjadi Bertahun-Tahun, Penting Diketahui

Penyebab Perang Suriah yang Terjadi Bertahun-Tahun, Penting Diketahui Euforia pendukung rayakan kemenangan Bashar Al-Assad. ©LOUAI BESHARA/AFP

Merdeka.com - Propaganda perang mempunyai catatan sejarah yang panjang. Catatan yang paling awal tentang propaganda perang terjadi pada masa Raja Persia Darius.

Pada era modern, salah satu propaganda perang yang paling efektif terjadi pada Perang Dunia Pertama, saat tentara Jerman dilaporkan telah memukuli bayi ketika peristiwa yang dikenal dengan 'Pemerkosaan Belgia'.

Penyebab perang Suriah pun tak luput dari menjamurnya propaganda. Terlebih adanya info-info yang beredar lewat jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook. Kedua pihak, pemerintahan Basyar al-Assad yang dibantu Rusia dan Iran, serta kelompok oposisi pemberontak didukung Amerika Serikat pun terlibat.

Diketahui bahwa Rezim Assad menyebut kaum pemberontak sebagai pendukung kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sementara para pemberontak menggambarkan pasukan Assad sebagai pemerkosa, monster, pembunuh.

Propaganda juga diketahui datang dari luar. Salah satu kesalahpahaman dalam konflik Suriah yakni isu sektarian. Propaganda tersebut menyebut Assad yang berasal dari suku Alawite di Suriah didukung Syiah Iran dan dibantu Rusia (Kristen Ortodoks) serta minoritas Druze, Kristen memerangi ekstremis Sunni.

Untuk mengetahui lebih jelas, merdeka.com telah melansir informasi dari liputan6.com. Berikut ulasan lengkapnya.

Sedikit Penjelasan Tentang Suriah

Mayoritas penduduk Suriah yaitu penganut Islam Sunni yaitu 59,1 persen, 11,8 persennya suku Alawite, kemudian Kurdi 8,9 persen. Perlu diketahui, Assad ialah keturuanan suku Alawite, kelompok minoritas di Suriah. Ia naik ke tampuk kekuasaan dari golongan minoritas, menggantikan ayahnya Hafez Assad.

Menurut penjelasan Dubes Djoko, perang Suriah tak bisa dikomando hukum internasional. Hal ini lantaran begitu banyak faksi yang terlibat. Demikian pula yang dikatakan Menteri Penerangan Suriah Omran Ahed al-Zouabi di Damaskus.

Pemikiran Jais Islam mirip dengan Al Qaidah dan Jabal Nusra, ialah sempalan dari Al Qaidah. Kemudian para teroris pun datang dari negara lain lewat Turki. Dari Tunisia, Maroko, Somalia, Arab Saudi, Yaman, Kuwait Qatar, Afganistan, Kanada, Inggris, Amerika, China, serta sebagian dari Asia Tengah, Asia Tenggara.

Tercatat mereka berasal dari lebih 80 negara. Pasokan senjata diketahui masuk dari berbagai pintu. Dapat dikatakan, ISIS teorinya diserang AS tapi di lapangan mereka dibantu.

Penyebab Perang Suriah

Pada tahun 2011-2012, setelah Basyar al-Assad menolak proposal Turki untuk membangun pipa minyak serta gas alam antara Qatar dan Turki melalui Suriah, Turki dan sekutunya pun menjadi 'arsitek utama dari konflik Suriah'. Proposal pipa gas tersebut apabila diwujudkan maka akan memangkas pasokan gas dari Rusia ke Eropa yang selama ini didominasi oleh perusahaan gas Rusia Gazprom. Dengan kondisi tersebut, Timur Tengah pun makin tercabik-cabik karena rencana pipa minyak dan gas yang kemudian dibenturkan dengan memperuncing perbedaan keyakinan atau agama. Situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menginginkan adanya pergantian rezim, yang nantinya lebih bersedia membuka jalur pipa minyak dan gas pada para penawaran tertinggi yang berkepentingan. Pada tahun 2012, Amerika, Prancis, Inggris, Qatar dan Arab Saudi bersama Turki mulai membentuk, mempersenjatai, serta mengongkosi kaum pemberontak dari Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) (sesuai dengan rencana lama Amerika yang ingin memecah belah Suriah). Negara-negara tersebut lantas sepakat untuk memecah belah Suriah lewat agama sebagai jala untuk menggulingkan Presiden Assad. Di waktu yang sama, Suriah bersama Iran dan Irak justru membahas pembangunan jalur pipa migas yang rencananya akan dimulai antara tahun 2014 dan 2016 dari ladang minyak Iran South Pars melalui Irak, lalu ke Suriah. Apabila hal itu terwujud, maka jalur pipa migas tersebut akan dengan mudah diperpanjang ke Libanon dan dengan demikian mencapai Eropa (sebagai target pasar). Dengan begitu, persoalan akses migas inilah, bukan isu sektarian atau agama, yang menjadi akar penyebab konflik di Suriah. Akan tetapi yang terlibat di panggung internasional, konflik tersebut adalah perseteruan Sunni-Syiah. Mengapa demikian? Karena apabila seluruh dunia tahu, orang-orang tak akan mendukung kaum pemberontak seperti yang dilakukan Amerika, Saudi, dan koalisinya selama ini.Berbagai media asal Amerika dan Eropa pun membanjiri dunia dengan pemberitaan tentang kekerasan dan penderitaan rakyat Suriah, dan para pengungsi di Eropa dan konflik agama. Tetapi, berita tersebut tidak menyoroti akar konflik yang sebenarnya, yakni kepentingan ekonomi dan politik.

(mdk/add)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP