Nyali Houthi Yaman Luar Biasa, Serang Kapal Induk AS Sampai Jet Tempur F-18 Nyemplung ke Laut Tempat Firaun Tenggelam
Insiden jatuhnya pesawat tempur F/A-18E Super Hornet ke Laut Merah memicu investigasi Angkatan Laut AS dan tantangan penyelamatan di kedalaman laut.
Sebuah pesawat tempur F/A-18 Super Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan jatuh ke Laut Merah setelah keluar dari kapal induk USS Harry S. Truman dalam sebuah operasi penarikan. Kabar ini telah dikonfirmasi oleh pihak Angkatan Laut melalui pernyataan resmi.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa “F/A-18E sedang ditarik di hanggar saat kru yang bergerak kehilangan kendali atas pesawat. Pesawat dan traktor penariknya jatuh dan tenggelam ke dasar laut tempat Firaun di era Nabi Musa itu tenggelam.
“Para pelaut yang menarik pesawat tersebut segera mengambil tindakan untuk menjauh dari pesawat tersebut sebelum jatuh ke laut … Semua personel berhasil ditemukan, dengan satu pelaut mengalami cedera ringan,” demikian keterangan Angkatan Laut, dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (2/5/2025).
Pesawat tersebut kini berada di dasar Laut Merah, yang memiliki kedalaman mencapai hampir 10.000 kaki di titik terdalamnya. Angkatan Laut AS berencana untuk melakukan operasi penyelamatan guna mengambil kembali pesawat tersebut.
Mengingat nilai pesawat dan teknologi sensitif yang ada di dalamnya, upaya penarikan pesawat menjadi prioritas utama.
Akibat Serangan Houthi Yaman
Meski awalnya disebut sebagai kecelakaan selama proses pemindahan, seorang pejabat AS yang berbicara kepada Al Jazeera menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi ketika kapal induk itu melakukan manuver untuk menghindari tembakan dari kelompok Houthi Yaman. Hal ini mengarah pada dugaan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan aksi serangan langsung.
Pada hari yang sama, kelompok Houthi mengaku telah meluncurkan serangan terhadap USS Truman dan kapal-kapal militer AS lainnya di wilayah Laut Merah, menggunakan rudal dan drone. Serangan ini diklaim sebagai bentuk balasan atas serangan udara Amerika Serikat di wilayah Yaman, khususnya di Saada dan Sanaa, yang dilaporkan memakan korban jiwa dalam jumlah besar.
Penyelidikan atas insiden ini sedang berlangsung. Meskipun Angkatan Laut AS belum mengaitkan secara resmi jatuhnya jet seharga USD 67 juta itu dengan serangan Houthi, laporan awal mengindikasikan bahwa pergerakan mendadak kapal induk, kemungkinan akibat reaksi terhadap ancaman serangan, dapat menjadi penyebab hilangnya kendali atas jet tempur.
USS Harry S. Truman telah aktif dalam operasi keamanan maritim di Laut Merah sejak September tahun lalu, dengan misi utama melindungi jalur pelayaran dari ancaman militan Houthi. Beberapa waktu sebelumnya, kapal ini juga sempat terlibat dalam insiden lain berupa tabrakan dengan kapal niaga di dekat Terusan Suez, yang kemudian menyebabkan komandan kapal dicopot dari jabatannya.
Serangan Houthi Terbaru
Houthi Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kapal induk milik Amerika Serikat, USS Carl Vinson, beserta kapal pengawalnya yang berada di Laut Arab. Serangan itu disebut dilakukan menggunakan sejumlah pesawat nirawak, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Ma'an.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyebut bahwa operasi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang diklaim berhasil memaksa kapal induk USS Harry S. Truman untuk meninggalkan wilayah tersebut. Saree juga mengklaim bahwa “operasi sebelumnya ini mengakibatkan jatuhnya jet tempur F-18 dan terganggunya apa yang ia gambarkan sebagai ‘serangan udara musuh".
Serang Israel
Selain itu, dalam pernyataan terpisah, kelompok Houthi menyatakan telah melakukan serangan terkoordinasi terhadap lokasi-lokasi militer strategis milik Israel di kota Jaffa. Mereka menggambarkan serangan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Brigadir Jenderal Saree menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melakukan perlawanan terhadap pihak-pihak yang dianggap melakukan "agresi." Ia juga menutup pernyataannya dengan komitmen bahwa Houthi akan terus mendukung perjuangan Palestina “hingga berakhirnya permusuhan di Gaza dan pencabutan blokade yang diberlakukan di wilayah tersebut.”