Advertisement
Kartini Hermanus, jenderal wanita pertama di TNI AD. Di balik sosoknya yang menjadi inspirasi bagi perempuan dalam sejarah militer Indonesia, ternyata ia masih memiliki darah ningrat.
Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Raden Ayu Kartini Hermanus merupakan sosok yang patut diperhitungkan dalam sejarah militer Indonesia.
Ia memegang predikat sebagai jenderal wanita pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, sebuah prestasi yang mengilhami banyak wanita di tanah air.
Namun, yang membuat profil Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Raden Ayu Kartini Hermanus semakin menarik adalah asal-usul keluarganya yang bersejarah.
Ternyata, ia memiliki leluhur yang terhubung langsung dengan keluarga bangsawan Surakarta.
Advertisement
Kartini Hermanus lahir pada tanggal 2 Agustus 1949 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan anak kedua dari ibunya, Ray Parmanti.
Dari garis keturunan ibunya, ia memiliki hubungan langsung dengan dua tokoh berpengaruh dalam sejarah Jawa, yaitu KGPAA Mangkunegara III dari Puro Mangkunegaran Surakarta dan Sri Susuhunan Pakubuwono III dari Keraton Surakarta Hadiningrat.
Setelah menyelesaikan dua tahun kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Kartini Hermanus memutuskan untuk mendaftar di Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil) pada tahun 1970.
Advertisement
Setelah lulus dari Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil), Kartini Hermanus memulai karir militer sebagai anggota TNI-AD dari Korps Ajudan Jenderal.
Kartini Hermanus berhasil menyelesaikan pendidikan di Sekolah Staf dan Komando pada tahun berikutnya. Kemudian, pada 27 Mei 1997, Kartini Hermanus meraih prestasi lebih lanjut saat ia dilantik sebagai Komandan Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdik Kowad).
Akhirnya ia mencapai pangkat Brigadir Jenderal pada 1 Desember 2000, menjadikannya "Jenderal Wanita" pertama di TNI-AD. Ia pensiun pada 11 November 2004.
Advertisement
Kartini menjalin cintanya dengan Kolonel Infanteri (Purn) Pieter Hermanus Van der Linde, seorang pensiunan kolonel angkatan darat dan perancang Pindad SS2. Kartini tulus menyatakan bahwa ia menjunjung tinggi dan menghormati suaminya di rumah.
Advertisement
Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III adalah sosok berpengaruh yang memegang jabatan Adipati ketiga di Kadipaten Pura Mangkunegaran.
Meskipun nama lahirnya adalah Bandara Raden Mas Sarengat, beliau dikenal dengan sejumlah gelar kebangsawanan seperti "Kanjeng Pangeran Riya" dan "Kanjeng Pangeran Arya Prabu Prangwadana."
KGPAA Mangkunegara III menjalani pendidikan di Kadet Mangkunegaran sejak usia 15 tahun, dan kemudian memulai karirnya di Legiun Mangkunegaran.
Selama perjalanannya di dunia militer, ia juga terlibat dalam Perang Jawa menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro.
Advertisement
Pengertian 'darah biru' sebenarnya mengandung makna yang lebih dalam, yaitu kualitas manusia unggul tanpa memandang latar belakang atau keturunan.
Menurut Budiono Herusatoto, dalam bukunya Seks Para Leluhur, penggunaan istilah 'darah biru' oleh kaum bangsawan hanyalah pernyataan politik yang bertujuan untuk memperkuat posisi mereka dalam masyarakat.
Advertisement
Karir perempuan dalam dunia militer menunjukkan prestasi yang tak kalah dengan rekan-rekan pria. Banyak jenderal TNI wanita yang telah membuktikan kesuksesan mereka dalam berkarir, meraih pangkat bintang, dan menduduki jabatan penting di dalam angkatan bersenjata.
Dalam TNI Angkatan Darat (AD), keberadaan perempuan yang menjadi bagian dari Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) menjadi bukti konkret bahwa perempuan mampu tampil dan berprestasi di dunia militer.
Advertisement
Polisi wanita, atau yang sering disebut Polwan, telah mencapai berbagai prestasi cemerlang dalam karier mereka. Sejumlah Polwan bahkan telah mencapai pangkat jenderal dalam kepolisian, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi.
Keberhasilan Polwan dalam mencapai pangkat jenderal adalah bukti bahwa mereka memiliki kemampuan dan dedikasi yang tinggi dalam menjalani karier di kepolisian.
Advertisement
Calon anggota harus memenuhi syarat tinggi badan minimal, yaitu setidaknya 163 cm untuk pria dan 157 cm untuk wanita, serta memiliki berat badan yang seimbang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Persyaratan ini menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan kemampuan fisik calon anggota polisi, yang diperlukan dalam menjalankan tugas-tugas mereka dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.
Advertisement
Sebutan untuk tentara wanita di jajaran TNI AD disebut Korps Wanita Angkatan Darat atau Kowad.
KOWAD adalah singkatan dari Korps Wanita Angkatan Darat, dengan sebutan lain “WANODYA PURUSOTTAMA” yang berarti Prajurit Wanita yang Utama.
Sedangkan, Wanita Angkatan Udara (Wara) merupakan sebutan untuk prajurit wanita yang bertugas dalam TNI Angkatan Udara (TNI-AU).