Angin duduk adalah istilah yang umum di masyarakat untuk menggambarkan rasa nyeri di dada. Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Vito Damay, angin duduk bukan istilah medis yang tepat. Istilah ini merujuk pada angina pectoris, yaitu kondisi di mana aliran darah ke otot jantung berkurang.
Penyempitan atau penyumbatan arteri koroner yang mengalirkan darah ke jantung menjadi penyebab angin duduk. Ketika pasokan oksigen dan nutrisi ke jantung berkurang, hal ini dapat menimbulkan gejala nyeri dada yang sering kali terasa seperti tekanan, sesak, atau terbakar.
Selanjutnya, apa yang dirasakan ketika mengalami angin duduk? Gejala angin duduk dapat berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa gejala yang umum terjadi antara lain nyeri dada yang menjalar ke lengan kiri, rahang, leher, atau punggung. Gejala lain yang juga mungkin muncul adalah sesak napas, mual, pusing, keringat dingin, kelelahan, dan perasaan gelisah. Biasanya, angin duduk muncul saat seseorang melakukan aktivitas fisik, mengalami stres, atau setelah mengonsumsi makanan berat. Penyebab dari gejala ini sangat berkaitan dengan kondisi jantung yang tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup, dan bisa menjadi indikasi awal penyakit jantung koroner.
Advertisement
Menurut dr. Vito, banyak orang sering salah kaprah dengan menganggap angin duduk sama dengan serangan jantung. Sebenarnya, angina disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner, sedangkan serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terhenti sepenuhnya. Memahami dengan baik gejala dan istilah yang tepat sangatlah krusial untuk menghindari kesalahan dalam penanganan medis.
Advertisement
Penyebab angin duduk yang paling sering terjadi adalah penyakit jantung koroner (PJK), yang disebabkan oleh penumpukan plak di arteri koroner. Beberapa faktor risiko yang berkontribusi meliputi tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta riwayat keluarga yang memiliki masalah jantung. Selain itu, kondisi lain seperti spasme arteri koroner, anemia, penyakit katup jantung, dan hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menjadi penyebab terjadinya angin duduk. Semua kondisi tersebut berpotensi memicu gejala angin duduk yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala angin duduk tidak selalu muncul dalam bentuk nyeri dada yang hebat. Banyak orang menggambarkan gejala ini sebagai rasa tertekan atau panas di area dada, yang dapat menyebar ke lengan, leher, atau rahang. Dalam beberapa kasus, gejalanya hanya berupa sesak napas, mual, atau kelelahan. Variasi dalam intensitas gejala ini sering kali membuat banyak orang tidak menyadari bahwa penyebab keluhan tersebut bisa jadi merupakan masalah serius pada jantung. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala angin duduk sejak dini. Jika dibiarkan tanpa penanganan, angin duduk dapat berkembang menjadi serangan jantung.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terputus sepenuhnya, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen. Gejala serangan jantung biasanya meliputi nyeri dada yang hebat dan berkepanjangan, keringat dingin, mual, serta pusing. Penyebab dari kondisi darurat ini sering kali bermula dari angina yang diabaikan. Oleh karena itu, segera cari bantuan medis jika gejala angin duduk tidak menunjukkan perbaikan meskipun sudah beristirahat.
Advertisement
Sering kali, angin duduk dianggap sebagai serangan jantung, padahal sebenarnya angina pectoris merupakan sinyal awal adanya masalah pada jantung, bukan serangan jantung itu sendiri. Penyebab dari angina adalah menyempitnya pembuluh darah, sedangkan serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terputus sepenuhnya. Gejala angin duduk umumnya dapat mereda dengan beristirahat atau menggunakan obat, sedangkan rasa sakit akibat serangan jantung biasanya lebih intens dan berkelanjutan.
Jika mengalami angin duduk, penanganan yang tepat bertujuan untuk mengurangi gejala nyeri di dada dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Ini dapat melibatkan penggunaan obat-obatan seperti nitrat dan penghambat saluran kalsium, serta perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, menerapkan pola makan sehat, dan rutin berolahraga. Dalam situasi tertentu, tindakan medis seperti angioplasti atau bypass jantung mungkin diperlukan. Menghindari penyebab risiko seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes sangat penting untuk mencegah gejala angin duduk muncul kembali. Melakukan pemeriksaan secara rutin sangat dianjurkan untuk mendeteksi penyebab angin duduk sejak dini. Dengan memahami gejala angin duduk dan berkonsultasi dengan dokter, Anda dapat mengurangi risiko terjadinya serangan jantung.
Dokter Vito Damay juga menekankan pentingnya penggunaan istilah medis yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman.
"Jangan pakai istilah angin duduk," ujarnya. "Gunakan istilah medis agar penanganannya tidak keliru."