Bakar Kapal Tongkang, Ritual Cegah Etnis Tionghoa Pergi dari Bagansiapiapi

Hongkong van Andalas, sebutan kota Bagansiapiapi yang dihuni mayoritas etnis Tionghoa. Kedatangan mereka ke Bumi Pertiwi punya sejarah dan makna mendalam. Memperingatinya dengan membakar kapal tongkang. Sebagai simbol tujuan, komitmen, doa, dan harapan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bakar Kapal Tongkang, Ritual Cegah Etnis Tionghoa Pergi dari Bagansiapiapi
Ritual Bakar Kapal Tongkang©2021 Merdeka.com/Thomas Chris

Mengembara jadi kebiasaan nenek moyang dengan cara mengarungi lautan. Itulah yang dilakukan oleh etnis Tionghoa ratusan tahun silam. Mereka merantau ke dataran Indonesia demi penghidupan yang lebih baik. Berkat kapal kayu sederhana, dari Tiongkok mereka menemukan daratan yang kini bernama Bagansiapiapi.

Seusai di daratan, mereka membakar kapal yang mereka tumpangi sebelumnya. Tidak bisa kembali, para pengembara etnis Tionghoa dilanda suka dan duka. Berkomitmen untuk menetap dan tidak kembali lagi ke tanah kelahiran mereka. Hingga kini mereka telah beranak pinak dan menjadi warga negara Indonesia.

Mereka menetap dan membuat etnis baru di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau selama ratusan tahun. Hangus jadi abu, pembakaran kapal memiliki makna yang mendalam bagi para pendatang etnis Tionghoa.

Ritual Bakar Kapal Tongkang©2021 Merdeka.com/Thomas Chris

Gejolak api melalap seluruh bagian kapal, hangus terbakar. Ritual bakar tongkang bermula saat etnis Tionghoa dari Hokkian, Provinsi Fujian, China datang ke Indonesia. Tepatnya pada tahun 1820, terombang ambing di lautan dipandu dewa Ki Ong Yan dan Tai Su Ong.

Kedua dewa itulah sumber dua sisi antara baik dan buruk, suka dan duka, hingga rejeki dan malapetaka. Kedatangan etnis Tionghoa mencapai daratan Bagansiapiapi juga punya dua makna.

Mereka berhasil selamat dari konfik perang saudara di tanah mereka. Di lain sisi, mereka terpaksa meninggalkan tanah kelahiran mereka di Tiongkok. Hingga nilai terpenting membakar kapal ialah keberhasilan para leluhur menetap di perantauan.

Ritual Bakar Kapal Tongkang©2021 Merdeka.com/Thomas Chris

Bermula sejak 136 tahun lalu, hingga kini ritual bakar tongkang selalu dilaksanakan. Bukan kapal sungguhan, hanya simbolis berupa replika kapal yang terbuat dari kayu dan kertas. Namun ukurannya lumayan besar. Sambil membawa dupa, kapal diarak beramai-ramai menuju tengah Kota Hong Kong van Andalas.

Namun sebelumnya mereka sembahyang di Kelenteng Ing Hok Kiong, kelenteng tertua di Pekong Besar. Replika tongkang panjang 8 meter dan lebar 2 meter diarak ribuan orang. Kapal dihias dengan cat berwarna warni terkesan begitu meriah.

Ritual Bakar Kapal Tongkang©2021 Merdeka.com/Thomas Chris

Go Gek Cap Lak, sebutan bahasa Hokkien untuk ritual pembakaran kapal. Sebelum dibakar, penentuan posisi haluan tongkang dilakukan sesuai arahan dewa mereka. Tujuannya ialah menentukan peruntungan mereka, apakah dari arah laut atau dari darat.

Kertas berisi doa dalam sembahyang mereka timbun di bawah lambung kapal. Api disulut hingga membakar tongkang dan ribuan kertas sembahyang. Doa dan harapan berhamburan untuk penghidupan yang lebih baik di tanah perantauan mereka Bagansiapiapi.

Selama ritual, juga digelar tradisi pemanggilan roh yang dilakukan dari orang keleteng. Tak hanya itu, atraksi oriental dalam bentuk unjuk kekebalan.

Ritual Bakar Kapal Tongkang©2021 Merdeka.com/Thomas Chris

Ritual bakar tongkang dirayakan setiap tahun pada hari ke 16 bulan ke 15 berdasarkan kalender China. Momen sakral berisi doa dan harapan ini merupakan bukti sejarah awal mula etnis Tionghoa menempati kota Bagansiapiapi.

Kemeriahan bakar tongkang menarik perhatian hingga dimasukkan ke dalam Kalender Event Pariwisata Bagansiapiapi. Tak hanya wisatawan lokal, namun juga berasal dari Negara Malaysia, Singapura, Thailand, hingga China.


Rekomendasi