Khusyuknya Berziarah di Tengah Makam Tambaklorok yang Tenggelam

Jumat, 23 April 2021 13:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Khusyuknya Berziarah di Tengah Makam Tambaklorok yang Tenggelam Berziarah di Tengah Makam Tenggelam. ©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Merdeka.com - Semarang merupakan kota dengan aktivitas terpadat di Jawa Tengah. Letaknya di pesisir Laut Jawa, menjadikannya lokasi strategis hilir mudik transportasi Internasional. Lain halnya mobilitas, Semarang populer dalam sebuah potongan lirik, “Semarang Kaline Banjir” dalam lagu Jangkrik Genggong karya Waldjinah. Lagu tahun 90an tersebut memang menggambarkan Kota Semarang. Lebih tepatnya banjir rob. Pesisir kotanya berdampak, tak terkecuali area pemakaman di TPU Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah.

Lantunan doa dipanjatkan diiringi deburan angin laut. Duduk beralaskan batu nisan nyata memberikan kenyaman saat berziarah. Para peziarah tak lupa membawa bunga tabur untuk makam keluarga mereka. Beberapa makam masih terlihat samar tertutupi air laut. Selebihnya, sudah tenggelam dan tak kasat mata. Sudah lebih dari tiga tahun mereka berziarah di makam yang tenggelam. Namun, kekhusyukan tetap bisa didapat sekalipun dengan pakaian yang basah.

berziarah di tengah makam tenggelam

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Dari kejauhan, berbondong-bondong warga berangkat menunaikan ziarah. Mencari jalan setapak tak terendam air, mereka semangat melangkah. Saat itu bertepatan dengan surutnya air laut pada sore hari. Mereka menggunakan momen air surut untuk berziarah. Berpakaian rapi, mereka mendekatkan diri. Saat sudah tidak ada jalan kering, mereka terpaksa menyeburkan kaki ke laut. Tak peduli pakaian rapi, berbasah-basahan menjadi risiko berziarah di TPU Tambaklorok.

Tingginya air pasang tak menyurutkan langkah mereka. Bahkan saat pasang, area makam seluruhnya tenggelam. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan lautan. Terpaksa mereka menumpangi perahu untuk mendekati TPU. Berdoa di atas perahu mendoakan keluarga yang tenggelam di bawah makam. Bunga tabur mereka tak melekat pada nisan, namun hanyut ke tengah lautan.

berziarah di tengah makam tenggelam

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin


Saat surut mereka kadang menancapkan bambu panjang. Tepat di atas makam, mereka memberi nama almarhum di ujung bambu. Menjulang ke atas ujung bambu akan terlihat saat TPU Tambaklorok sepenuhnya tenggelam. Mereka bisa mengenali makam dengan melihat nama yang tertera pada bambu. Namun, kerasnya ombak bahkan merobohkan bambu yang mereka pasang.

Makam yang sebagian besar memiliki batu nisan masih kelihatan. Berbeda dengan makam yang tak bernisan bahkan tanahnya sudah rata. Hanya menyisakan patok yang masih tertancap. Menurut cerita, nelayan bahkan tak sengaja kedapatan menjaring tengkorak. Lantas menceburkannya kembali ke dalam lautan.

berziarah di tengah makam tenggelam

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Berbagai upaya telah dilakukan warga kampung nelayan Tambaklorok. Mereka sempat membuat talud dengan tumpukan pasir. Namun sayang, air laut yang selalu meninggi membuat tanggul sederhana mereka jebol. Makin tingginya air laut juga menyebabkan tanah di pesisir utara semarang ini terkena abrasi.

Tak hanya makam, banyak rumah warga turut tenggelam oleh banjir. Banyak rumah yang rusak akibat terjangan air laut. Dinding yang roboh hingga bangunan ambruk, menjadi pemandangan yang mudah ditemui di Tambaklorok. Beberapa tumbuhan bakau nampaknya belum bisa menahan terjangan ombak. Kondisinya semakin parah, karena tingginya air laut semakin lama semakin bertambah.

berziarah di tengah makam tenggelam

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Sejak tahun 2014, TPU Tambaklorok tak lagi dipergunakan untuk tempat pemakaman. Beberapa musim pernah surut tak menyisakan air laut, namun selang beberapa saat air meninggi kembali. Saat surut, beberapa warga warga berinisiatif memindahkan makam jauh dari banjir. Namun, saat ini hampir mustahil dilakukan, mengingat saat ini sepanjang tahun laut air menggenangi area TPU.


Rusaknya iklim menjadi faktor utama fenomena meningginya air laut. Dampaknya adalah lingkungan di daerah pesisir. Mereka harus menanggung risiko tergenang air laut. Bahkan makam sekalipun, sebagai tempat peristirahatan terakhir mereka. [Ibr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Semarang
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini