Sisi Kelam Kehidupan Para Astronot Sepulang Misi Luar Angkasa: Mulai dari Depresi, Skandal, hingga Merasa Kesepian

Bagi kebanyakan orang, menjadi astronot adalah puncak pencapaian manusia. Namun di balik itu ada cerita yang tak banyak orang tahu.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Sisi Kelam Kehidupan Para Astronot Sepulang Misi Luar Angkasa: Mulai dari Depresi, Skandal, hingga Merasa Kesepian
Ingin Tanya Jawab Langsung ke Astronot yang di Luar Angkasa? Bisa, Begini Caranya! (Ilustrasi dibuat dengan Grok AI)

Bagi kebanyakan orang, menjadi astronot adalah puncak pencapaian manusia. Menembus atmosfer Bumi, melihat planet biru dari kejauhan, mendarat di Bulan, semuanya terdengar seperti kisah heroik yang hanya dimiliki segelintir manusia terpilih.

Namun, kenyataannya tidak selalu seindah dongeng. Bagi sebagian astronot, perjalanan ke luar angkasa justru menjadi awal dari keterpurukan.

Beberapa di antara mereka mengalami depresi, kehancuran reputasi, bahkan krisis identitas mendalam setelah kembali ke Bumi.

Berikut kisah nyata dari lima astronot yang hidupnya justru berubah menjadi nelangsa setelah pencapaian besar mereka dikutip dari beragam sumber.

Buzz Aldrin: Depresi Setelah Menginjak Bulan

Buzz Aldrin, orang kedua yang menginjakkan kaki di Bulan setelah Neil Armstrong pada 1969, justru mengalami krisis eksistensial pasca kepulangannya.

Dalam memoarnya Magnificent Desolation (2009), Aldrin secara gamblang menceritakan perjuangannya menghadapi depresi berat dan alkoholisme.

Hidupnya sempat berantakan. Ia bercerai berkali-kali, kehilangan arah hidup, dan terjerat masalah keuangan. "Orang mengira saya pahlawan. Tapi saya merasa hampa," tulis Aldrin dalam bukunya.

Lisa Nowak: Dari Luar Angkasa ke Sel Tahanan

Lisa Nowak, astronot perempuan NASA yang sempat menjalani misi di pesawat Discovery pada 2006, menjadi berita utama dunia setahun kemudian. Bukan karena prestasi, melainkan karena skandal penculikan yang melibatkan mantan kekasih.

Pada 2007, Nowak ditangkap setelah mengemudi ribuan kilometer untuk menghadapi pacar baru mantan kekasihnya, William Oefelein. Ia membawa semprotan merica, palu, pisau lipat. Insiden ini berujung pada pemecatannya dari NASA, satu dari sedikit astronot yang dipecat secara resmi.

Kisahnya menjadi inspirasi film Lucy in the Sky (2019) dan simbol tragis dari tekanan mental dalam dunia elit antariksa.

Edgar Mitchell: Ditinggalkan karena Percaya Hal Gaib

Edgar Mitchell, astronot Apollo 14, punya pengalaman unik. Dalam perjalanan pulang dari Bulan, ia mengaku merasakan kesadaran spiritual universal. Sepulang dari misi, ia mendirikan Institute of Noetic Sciences, organisasi yang meneliti kesadaran, intuisi, dan fenomena paranormal.

Sayangnya, komunitas ilmiah memandangnya dengan sinis. Mitchell dianggap "menyimpang", bahkan dijauhi oleh NASA dan rekan-rekannya. Namun ia tetap kukuh bahwa pengalamannya bukan ilusi, melainkan pencerahan.

Mitchell membuktikan bahwa perubahan sudut pandang usai menyentuh langit bisa membawa seseorang keluar dari orbit sosial yang pernah menaunginya.

James Irwin: Serangan Jantung dan Panggilan Ilahi

James Irwin, astronot Apollo 15, hanya butuh dua tahun setelah pulang dari Bulan untuk mengalami serangan jantung. Beban fisik dan psikis selama misi diduga jadi penyebab utama.

Setelah sembuh, Irwin memutuskan mundur dari dunia antariksa dan mendalami agama Kristen. Ia bahkan mendirikan lembaga misi religius dan memimpin ekspedisi untuk mencari sisa-sisa Bahtera Nuh.

Transformasi hidupnya menggambarkan bagaimana pengalaman ekstrem bisa membuat seseorang mencari pegangan spiritual sebagai kompensasi dari tekanan jiwa.

Michael Collins: "Orang Paling Kesepian di Alam Semesta"

Michael Collins tak pernah menginjak Bulan. Saat Armstrong dan Aldrin menorehkan sejarah, Collins sendiri berada di modul komando Columbia, mengorbit sendirian di sekitar Bulan.

Selama 21 jam, ia berada dalam isolasi total, tanpa kontak langsung dengan siapapun. Media menyebutnya sebagai "the loneliest man in the universe".

Meskipun Collins tetap produktif dan menulis buku Carrying the Fire, ia jarang dikenal publik seluas Armstrong atau Aldrin. Ia pun hidup dalam bayang-bayang sejarah, meski perannya sangat krusial.

Rekomendasi