Fenomena Gerhana Matahari Cincin Api telah berlangsung pada hari Sabtu, 14 Oktober kemarin dan dapat dilihat di beberapa daerah di Amerika Utara.
Fenomena ini terjadi saat Matahari, Bulan, dan Bumi sejajar sehingga Bulan terlihat dikelilingi oleh cincin. Para pengamat dari seluruh dunia berbondong-bondong melakukan pengamatan terhadap peristiwa gerhana ini.
Namun perlu diketahui bahwa pengamatan gerhana sejatinya telah dimulai dari waktu yang sangat lama. Salah satunya oleh suku Maya.
Sebuah suku kuno yang terkenal dengan keahlian astronomi mereka. Berbagai peristiwa langit telah dilacak dan dirayakan oleh mereka, termasuk gerhana.
Advertisement
Advertisement
Lalu bagaimana suku Maya dapat memiliki prediksi yang akurat terhadap fenomena gerhana tanpa keberadaan teknologi modern seperti teleskop?
Postingan terbaru Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko (INAH), arkeoastronom Ismael Arturo Montero García dari Universitas Tepeyac di Meksiko.
Dia menjelaskan Suku Maya adalah pengamat hebat, memiliki pengetahuan mendalam tentang mekanika langit dan kepastian yang tinggi dalam memprediksi gerhana.
Advertisement
Manuskrip
Melansir laporan IFLScience dan Heritage Daily, Selasa (17/10), suku Maya diduga telah mengembangkan sebuah bentuk astronomi pra-teleskop yang sangat tepat untuk melacak pergerakan benda-benda langit.
Montero García memperkirakan bahwa suku Maya telah mampu memprediksi sekitar 55 persen gerhana, angka yang cukup fantastis mengingat ketidakadaan peralatan modern.
Advertisement
Bentuk astronomi ini karena adanya serangkaian tabel yang digunakan suku Maya untuk melacak pergerakan benda-benda langit.
Contoh rangkaian ini ditunjukkan dalam Kodeks Dresden, sebuah manuskrip Maya kuno yang berasal dari abad ke-11 atau ke-12.
Manuskrip ini mengandung tabel dan almanak yang dibagi menjadi interval 177 dan 148 hari. Tabel ini berkaitan dengan gerhana Matahari dan Bulan. Di halaman ke 54
Kodeks Dresden, dapat dilihat salah satu tanda gerhana yang ditandai dengan pita langit, Matahari, dua tulang paha (penanda kematian), dan bidang hitam putih serupa sayap kupu-kupu.
Suku Maya menyebut peristiwa ini dengan nama Pa’al K’in (Matahari yang Pecah).
Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa surgawi yang penting bagi suku Maya, yang sering diartikan sebagai keadaan kematian dan imobilitas dewa Matahari, Kinich Ahau.
Mereka meyakini bahwa Kinich Ahau akan bersinar di langit sepanjang hari sebelum diyakini mengubah dirinya menjadi jaguar di malam hari. Saat itulah, dia akan melewati Xibalba, dunia bawah tanah Maya.
Advertisement
Karena itu, ritual diperlukan untuk mengembalikan arah normal Matahari.
Manuskrip ini merupakan salah satu bukti penjelas dari kemahiran astronomi suku Maya.
Hal ini sekaligus menggambarkan hubungan yang mendalam antara peristiwa langit dan praktik spiritual dalam budaya suku Maya.