Peran Internet saat Soeharto Lengser

Ruang virtual ini menjadi satu-satunya tempat ‘aman’ membahas pergolakan politik Indonesia.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Peran Internet saat Soeharto Lengser
Peran Internet saat Soeharto Lengser (Merdeka.com)

Internet Punya Peran

Mundurnya Presiden Soeharto pada Mei 1998 tak bisa dilepaskan dari salah satu peran internet. Tidak seperti sekarang, pada masa itu, keberadaan internet masih terbatas. Namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan Reformasi 1998 disebut-sebut seperti gerakan Net Zapatista di Chiapas, Meksiko. Di mana gerakan itu merevolusi politik dengan didorong oleh internet.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip @rchipelago online: The Internet and Political Activism in Indonesia hasil riset Merlyna Lim menyatakan adanya gambar beberapa mahasiswa Indonesia menggunakan laptop yang terhubung ke Internet dari dalam gedung parlemen menjadi berita utama di berita internasional.

Gambar itu memperkuat argumen jika internet memiliki peran dalam melengserkan Presiden Soeharto.

Gambar itu memperkuat argumen jika internet memiliki peran dalam melengserkan Presiden Soeharto.
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dialog politik di internet dimulai dari sebuah milis. Salah satu yang terkenal saat itu ialah milis Apakabar. Milis ini dibuat oleh mantan staf Dubes AS, John MacDougall. Tak hanya itu, milis tersebut turut menyebarkan informasi seputar kekerasan aparat keamanan dan ajakan turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Milis Apakabar menempati daftar tertinggi dari sekian banyak milis yang membahas politik Tanah Air. Bahkan, forum global lebih banyak mengacu pada milis Apakabar.

Ruang virtual inilah yang menjadi satu-satunya tempat ‘aman’ membahas pergolakan politik Indonesia.

Sebab, saat itu arus informasi dikontrol penuh oleh rezim mulai dari media cetak hingga televisi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kekuatan internet ini bahkan disoroti oleh seorang wartawan Boston bernama David L. Marcus. Kala itu David ditugaskan untuk meliput dinamika politik di Jakarta. Ia mengatakan internet memiliki peran besar dalam menurunkan rezim Soeharto.

"Saat pemberontakan pecah di seluruh Indonesia bulan, pengunjuk rasa tidak memiliki tank atau senjata. Tapi mereka memiliki alat canggih yang tidak tersedia selama pemberontakan negara sebelumnya: Internet,"

Wartawan Boston bernama David L. Marcus.

Rekomendasi