Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan bahwa Elon Musk, yang menjabat di Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), berencana untuk mundur dari posisinya.
Namun, Musk membantah kabar tersebut melalui media sosial, mengklaim berita itu sebagai 'fake news'. Pernyataan Trump mengenai pengunduran diri Musk muncul dalam beberapa kesempatan, baik dalam pertemuan informal dengan anggota kabinet maupun dalam wawancara publik.
Mengutip The Guardian dan beberapa sumber, Selasa (8/4), Trump menegaskan bahwa meskipun Musk telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di DOGE, ia memiliki banyak tanggung jawab bisnis yang perlu diperhatikan.
Menurut Trump, pengunduran diri ini diperkirakan akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Musk sebagai pegawai pemerintah khusus yang memiliki batasan waktu sekitar 130 hari.
Awalnya, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengkonfirmasi rencana pengunduran diri Musk setelah menyelesaikan pekerjaannya di DOGE.
Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh Musk, menambah ketidakpastian di seputar situasi ini. Ketegangan antara Trump dan Musk juga dilaporkan meningkat belakangan ini, terutama setelah kekalahan seorang hakim konservatif yang didukung Musk dalam pemilihan Mahkamah Agung Wisconsin.
Advertisement
Ketegangan Antara Trump dan Musk
Beberapa sumber menyebutkan bahwa ketegangan antara Trump dan Musk semakin meningkat, terutama setelah hasil pemilihan yang dianggap sebagai referendum awal terhadap pemerintahan Trump.
Kekalahan hakim konservatif tersebut menjadi sorotan, mengingat Musk memiliki peran dalam mendukung kandidat tersebut. Selain itu, ketidaksetujuan Musk terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh Trump juga menjadi sorotan, terutama yang berdampak pada bisnisnya, khususnya Tesla.
Dalam konteks ini, banyak pihak mulai mempertanyakan hubungan antara Musk dan administrasi Trump. Meskipun ada berbagai laporan mengenai pengunduran diri Musk, sebagian besar sumber sepakat bahwa DOGE, departemen yang dipimpin Musk, akan tetap beroperasi hingga tahun 2026 sesuai dengan rencana Trump. Pejabat-pejabat yang ditunjuk Musk di DOGE juga diperkirakan akan tetap menjabat meskipun Musk mundur.
Advertisement
Dampak Kebijakan DOGE
Sejak bergabung dengan tim Trump pada Januari, DOGE telah beroperasi dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi pemerintahan.
Namun, kebijakan yang diambil oleh departemen ini menuai kritik dari publik. DOGE telah memicu pemangkasan pegawai negeri sipil dalam skala besar, termasuk sekitar 10.000 orang di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan baru-baru ini.
Pemangkasan ini dianggap sebagai langkah yang kontroversial dan tidak berjalan dengan baik menurut jajak pendapat terbaru.
Jajak pendapat dari Marquette Law School menunjukkan bahwa hanya 41% publik AS yang menyetujui kinerja DOGE, sementara tingkat kesukaan terhadap Musk bahkan lebih rendah, yakni 38%.
Jajak pendapat Quinnipiac juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden percaya bahwa Musk dan DOGE merugikan negara. Meskipun DOGE mengklaim telah menghemat $140 miliar, banyak pihak meragukan keakuratan klaim tersebut.
Advertisement
Rencana Masa Depan DOGE dan Musk
Meskipun terdapat ketidakpastian mengenai masa depan Musk di kabinet, DOGE diperkirakan akan terus beroperasi hingga 2026. Musk sendiri menyatakan harapannya untuk menyelesaikan sebagian besar pekerjaan yang diperlukan untuk mengurangi defisit sebesar $1 triliun sebelum masa jabatannya berakhir. Namun, situasi ini masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Seiring dengan perkembangan ini, Gedung Putih belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai situasi yang melibatkan Musk.
Informasi yang beredar masih simpang siur, dan publik menunggu kepastian mengenai langkah selanjutnya dari kedua tokoh ini. Sementara itu, Musk tetap berusaha untuk mengelola tanggung jawabnya di DOGE sambil menghadapi tantangan dari dunia bisnisnya.