Perusahaan telekomunikasi O2 di Inggris baru-baru ini meluncurkan inovasi menarik berupa chatbot berbasis AI bernama Daisy. Tujuan utama dari penciptaan Daisy adalah untuk mengatasi masalah penipuan telepon yang semakin marak, dengan cara menjaga para penipu tetap terhubung dalam panggilan lebih lama.
Dengan demikian, Daisy diharapkan dapat mengurangi jumlah panggilan yang diterima oleh orang lain. Mengutip CNET, Selasa (3/12), Daisy, yang terinspirasi dari seorang nenek yang mampu berinteraksi dengan penipu secara real-time tanpa memerlukan input dari penciptanya.
Dalam video berdurasi satu setengah menit, Daisy memperkenalkan dirinya dengan pernyataan yang tegas: 'Hello, scammers. I’m your worst nightmare.'
Advertisement
Bagaimana Daisy Bekerja?
O2 menjelaskan bahwa Daisy dapat mempertahankan percakapan dengan penipu selama 40 menit dengan menyamar sebagai orang yang tidak paham teknologi. Ia sering berbicara tentang kucingnya yang bernama Fluffy dan melakukan banyak pembicaraan yang tidak relevan untuk menghabiskan waktu penipu. Dengan cara ini, Daisy tidak hanya mengalihkan perhatian penipu, tetapi juga memberikan waktu berharga bagi calon korban lainnya.
Menurut laporan dari Global Anti-Scam Alliance, konsumen di seluruh dunia kehilangan lebih dari $1 triliun akibat penipuan online. Di sisi lain, dalam setahun terakhir, AI telah membantu pemerintah AS memulihkan $1 miliar yang hilang akibat penipuan cek. Hal ini menunjukkan potensi besar AI dalam memerangi kejahatan siber.
Advertisement
Persepsi AI di Tempat Kerja
Dalam laporan terpisah, Gallup menemukan bahwa hampir dua pertiga kepala departemen sumber daya manusia di perusahaan Fortune 500 percaya bahwa AI akan mulai menggantikan peran di organisasi mereka dalam waktu tiga tahun ke depan.
Namun, banyak karyawan merasa tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk menghadapi perubahan ini, dan hanya sekitar seperempat karyawan di AS yang merasa perusahaan mereka mendorong mereka untuk belajar keterampilan baru.
Intuit, dalam penelitiannya, mengidentifikasi delapan peran yang paling dibutuhkan di masa depan terkait AI, termasuk insinyur AI, insinyur visi komputer, dan insinyur pembelajaran mesin. Selain itu, terdapat kebutuhan akan ilmuwan data dan ahli intelijen bisnis untuk membantu mengelola alat visualisasi data yang semakin kompleks.
Advertisement
Persepsi Generasi Z Terhadap AI
EduBirdie melakukan survei terhadap pengguna Gen Z dan menemukan bahwa AI menjadi salah satu kekhawatiran utama mereka. Setelah masalah global seperti perang, perubahan iklim, dan resesi ekonomi, sepuluh persen responden menyatakan kekhawatiran bahwa AI dapat 'mengambil alih dan membahayakan umat manusia'. Temuan ini memberikan gambaran tentang bagaimana generasi muda memandang teknologi canggih ini.
Dalam survei yang melibatkan 5.000 pekerja pengetahuan di beberapa negara, Atlassian mengidentifikasi lima tipe pola pikir terhadap AI. Sekitar 9% responden merasa AI 'tidak berguna' di tempat kerja, sementara 29% lainnya melihat AI sebagai alat yang bisa digunakan untuk tugas tertentu. Hal ini menunjukkan variasi dalam penerimaan dan pemanfaatan teknologi AI di berbagai kalangan pekerja.
Advertisement
Peringatan dari Henry Kissinger
Henry Kissinger, mantan menteri luar negeri AS, baru-baru ini berbicara tentang potensi dan bahaya AI dalam buku terbarunya. Ia memperingatkan bahwa manusia sedang mengendalikan kekuatan yang tidak sepenuhnya kita pahami. Kissinger menekankan pentingnya pemerintah untuk menciptakan kerangka kerja yang etis dalam pengembangan teknologi ini.
Ia menyatakan, 'Jika kita menciptakan kerangka yang tepat, kecerdasan buatan memiliki janji luar biasa untuk memajukan kemajuan manusia dan menangani beberapa tantangan paling mendesak di zaman kita.' Ini menunjukkan bahwa meskipun ada risiko, ada juga peluang besar jika AI dikelola dengan bijaksana.