East Ventures kembali pimpin pendanaan untuk startup Kedai Sayur. Dalam keterangan resminya, Jumat (31/5), venture capital tersebut mengguyur investasi sebesar Rp 17,3 miliar ke Kedai Sayur.
Kedai Sayur merupakan perusahaan rintisan teknologi yang memberdayakan pedagang sayur keliling. Nantinya, investasi ini akan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan Kedai Sayur dan merekrut mitra pedagang sayur keliling.
Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca mengatakan, pedagang sayur keliling tradisional merupakan kearifan lokal yang sudah ada sejak lama dan pihaknya ingin mempertahankan budaya tersebut dengan sentuhan teknologi.
"Pedagang sayur keliling kemungkinan sudah ada sejak ratusan tahun lalu dari zaman penjajahan di Indonesia," jelasnya.
"Menariknya, pedagang sayur keliling masih bertahan hingga sekarang di lingkungan modern ini, bersanding dengan supermarket dan toko kelontong lainnya yang bertumbuh dengan cepat. Meski demikian, pedagang keliling merupakan cara ternyaman bagi konsumen untuk mendapatkan kebutuhan hariannya," tambahnya.
Potensi besar ini digambarkan dengan setiap harinya masyarakat Indonesia mengonsumsi berbagai produk segar seperti sayuran, buah, daging, dan ikan. Pada tahun 2017 saja, jumlah konsumsi produk segar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya diperkirakan mencapai Rp 120,9 triliun.
Hingga hari ini, hampir seluruh produk segar tersebut dijual dan didistribusikan dengan mengandalkan pedagang keliling yang lebih dikenal dengan sebutan “tukang sayur”.
Kedai Sayur didirikan pada akhir tahun 2018 dengan misi untuk memberikan pedagang sayur produk dagangan dengan kualitas dan harga terbaik di pasarnya. Perusahaan ini didirikan oleh mantan Deputy Director of Business Process dan IT Triputra Group, Adrian Hernanto, beserta kedua rekannya, Ahmad Supriyadi dan Rizki Novian.
"Telah sekian lama banyak pemain berusaha mengatasi permasalahan ini, namun belum ada yang benar-benar berhasil," ujar CEO Kedai Sayur, Adrian Hernanto.
Dia pun sesumbar jika melalui jaringan Kedai Sayur yang luas dan penggunaan teknologi, dipercaya dapat memberdayakan pasar produk segar dan membuktikan bahwa penduduk ekonomi tingkat manapun, termasuk tukang sayur, dapat merasakan manfaat dari inklusi teknologi.
"Kami percaya bahwa misi kami mampu meningkatkan kehidupan para tukang sayur dengan membebaskan mereka dari jam kerja yang tidak teratur dan berbagai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tambahan," terangnya.