Jack Dorsey Kritik Keras Mark Zuckerberg, Soal Apa?

Jumat, 25 Oktober 2019 15:12 Reporter : Indra Cahya
Jack Dorsey Kritik Keras Mark Zuckerberg, Soal Apa? Jack Dorsey, CEO Twitter. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pada hari Kamis (24/10) waktu setempat, jejaring sosial berbasis mikro blogging Twitter, menghelat sebuah acara bernama Twitter News Summit. Dalam acara tersebut, sang CEO yakni Jack Dorsey melancarkan sebuah kritik kepada kompetitornya, yakni CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Melansir wawancara dengan pemimpin redaksi BuzzfeedNews, Ben Smith, yang dicuitkan secara langsung oleh jurnalis Sarah Frier, Dorsey mengkritik Zuck atas komentarnya soal kebebasan berpendapat.

"Kami banyak berbicara tentang ekspresi dan pendapat, namun kami tidak berbicara soal jangkauan, dan kami tak berbicara soal pengembangannya. Jangkauan dan pengembangan tidak direpresentasikan di komentarnya (Zuckerberg)," ungkap Dorsey.

Hal ini mengacu pada komentar Zuck untuk tidak menyensor iklan politik dan menggambarkan Facebook sebagai tempat yang menawarkan kebebasan berpendapat dan juga platform untuk membangun lingkungan yang makin terbuka.

Hal ini ia contohkan dengan salah satu motivasi didirikannya Facebook adalah sebagai reaksi perang Irak, di mana ia menyebut bahwa jika lebih banyak orang memiliki 'suara' atau pendapat untuk berbagi pengalaman, mungkin sesuatu yang berbeda akan terjadi. Itulah mengapa Facebook ada.

Dorsey tak setuju akan hal ini. Ia menyebut bahwa dalam komentarnya, Zuckerberg banyak menyatakan sesuatu yang menyimpang dari sejarah. Hal ini Dorsey sebut sebagai hal yang menghilangkan keaslian dan kemurnian motivasi dari apa yang para pendiri jejaring sosial ingin lakukan dari awal.

Dorsey tentu mengecam keputusan Facebook untuk membuat paltform media sosial jadi tempat yang teralalu 'powerful' untuk berkampanye, mengingat basis pengguna dan kemudahan persebaran berita palsu yang sungguh besar.

1 dari 1 halaman

Dorsey Juga Kerap Dikritik

Terkait penggunaan jejaring sosial, terutama di ranah politik, CEO Twitter juga sering tersandung masalah. Terakhir adalah soal pemblokiran akun presiden AS Donald Trump.

Hal ini dilakukan oleh salah satu senator yang juga calon Presiden AS dari Partai Demokrat, yakni Kamala Harris. Sang senator mengirim surat ke sang CEO.

Harris mengutip deretan kebijakan Twitter soal pelecehan, ancaman, dan hasutan yang mengarah pada kekerasan, yang kesemuanya dilanggar oleh Trump dalam cuitannya.

Harris juga menyebut, Trump melakukan "ancaman terang-terangan" di dalam cuitannya.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Twitter menyebut bahwa mereka telah menerima surat dari Harris dan berencana menanggapi Harris.

Jika melihat rekam jejak masa lalu, Twitter tak pernah mengambil tindakan soal politisi yang melanggar kebijakan Twitter.

Meski demikian, Twitter akhirnya mengungkap kebijakan barunya di posting blog resminya. Ini adalah kebijakan moderasi khusus untuk para pemimpin dunia dalam memanfaatkan platform berlogo burung tersebut.

Twitter menyebut bahwa mereka ingin menjelaskan secara lebih baik mengapa mereka membuat keputusan untuk meregulasi hal ini, mengingat banyak sekali posting kontroversial dari deretan tokoh politik dunia lewat Twitter.

"Ketika menyangkut soal pemimpin dunia di Twitter, kami menyadari bahwa ini sebagian besar merupakan landasan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Twitter di posting blog tersebut.

"Kami memahami keinginan pengguna agar keputusan kami menjadi antara ya atau tidak, namun tidak sesederhana itu. Tindakan yang kami ambil dan kebijakan yang kami kembangkan akan menjadi regulasi untuk pidato-pidato online. Kami berhutang kepada para pengguna kami, untuk (jadi platform yang) berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam apapun yang kami lakukan," tutupnya. [idc]

Baca juga:
Facebook Sebut Rusia dan Iran Sebar Hoaks Untuk Rusak Pilpres AS 2020
Instagram Sempat Down, Kini Telah Bisa Diakses
ISIS Dilaporkan Gunakan TikTok Untuk Rekrut Teroris
Susi Pudjiastuti Tak Lagi Jadi Menteri Jokowi, Tagar #WeWantSusi Trending di Twitter
Facebook Diinvestigasi 47 Jaksa Agung, Diduga Langgar UU Monopoli
Viralnya Gradient, Aplikasi yang Miripkan Anda Dengan Selebriti
Cara Menghapus Jejak Digital Media Sosial di Internet

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini