Deretan Plus Minus Soal Konektivitas 5G, Apakah Bisa Berbahaya?

Kamis, 3 Januari 2019 00:01 Reporter : Indra Cahya
Deretan Plus Minus Soal Konektivitas 5G, Apakah Bisa Berbahaya? Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Dunia telekomunikasi kini akan memasuki era baru yakni era 5G. Sudah banyak produsen smartphone yang berkoar kalau mereka akan mengimplementasikan modem 5G di produk-produk smartphone keluaran 2019.

Tak cuma smartphone, deretan provider telko pun sudah makin bersiap, terutama di negara maju seperti AS, atau di negara dengan cakupan internet terbesar seperti Korea Selatan.

Meski di Indonesia implementasi 5G masih beberapa tahun lagi, teknologi ini sudah makin dekat. Pada tahun 2022, Indonesia akan membuka lelang pita frekuensi 5G sekaligus merilis layanannya.

Dengan ini, mari kita bahas deretan fakta soal konektivitas 5G. Karena kita harus tahu apa saja yang akan jadi kebaikan dari teknologi ini, termasuk juga aspek apa yang berbahaya dari konektivitas ini. Melansir Phone Arena, ini ulasannya.

1 dari 5 halaman

Kecepatan 5GBps

Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Penambahan kecepatan yang terjadi ketika 4G berpindah ke 5G, sungguh luar biasa. Pasalnya, ketika kecepatan unduh 4G cuma 20MBps, 5G sudah berbicara kapasitas Gigabit.

Opensignal menyebut bahwa 5G bisa mencapai kecepatan unduh sebesar 5GB per detik. Kecepatan ini, 357 kali lebih cepat ketimbang jaringan 4G, di Amerika Serikat.

Kecepatan ini pun juga membuat koneksi internet broadband yang biasa kita nikmati di kantor, cafe, atau rumah, jadi terasa lambat.

Salah satu aspek paling menarik dari jaringan 5G adalah soal kapasitas jaringan mobile. Hal ini berarti jaringan 5G bisa mendukung lebih banyak koneksi data ketimbang sebelumnya. Jaringan 4G hanya bisa mendukung beberapa perangkat saja. Di 5G, jaringan akan lebih luas kapasitasnya.

Disebut Mashable, mengutip International Telecommunications Union, jaringan 5G bisa menampung satu juta perangkat per kilometer persegi.

2 dari 5 halaman

5G Akan Masuk ke Aspek Kehidupan Kita

Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Dengan kecepatan tinggi, kapasitas tinggi untuk tiap jaringannya, serta rendahnya latensi, hal ini membuat 5G tak akan hanya digunakan oleh smartphone saja. Jaringan ini akan terpakai oleh semua perangkat cerdas.

Sebagai contoh, 5G akan sangat penting bagi mobil otomatis yang membutuhkan koneksi internet secepat mungkin. Latensi rendah, kapasitas yang tinggi dan kecepatan yang tinggi akan membuat mobil otomatis benar-benar efektif berjalan secara otonom.

Hal ini juga akan terpakai di teknologi konsumen seperti perangkat rumah tangga cerdas (contoh: Google Home, Amazon Alexa, smart lamp, dll), headset VR, PC, dan masih banyak lainnya.

Terlebih lagi, bisa jadi media sosial dan konferensi jarak jauh juga akan terpengaruh juga dengan baik, sehingga pekerjaan akan lebih banyak dilakukan secara jarak jauh, dan konsultasi dalam ladang apapun bisa dilakukan antar negara.

3 dari 5 halaman

Mahal

Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Mari kita masuk ke deretan hal yang kurang menarik dari 5G. Soal harga, nantinya banderol 5G akan mahal.

CEO salah satu raksasa Telco AS, Sprint, mengutip Mashable, menyebut bahwa harga paket data 5G akan dibanderol 20 dollar hingga 30 dollar di AS, atau 300 hingga 400 ribu Rupiah.

Selain Sprint, belum ada yang berkomentar soal harga. Namun menilik sejarah, harga paket data makin naik seiring kecepatan jaringan. Tentu hal ini tak akan menurun tiba-tiba, dan justru akan makin menukik karena kecepatan 5G naik secara signifikan dibanding 4G.

Namun mahalnya harga akan makin mereda seiring makin banyak pengguna yang memakai serta perangkat yang mendukung jaringan 5G.

4 dari 5 halaman

Masih Belum Ada Dalam Waktu Dekat

Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Selanjutnya soal eksisnya 5G di Indonesia. Finalisasi kebijakan dan regulasi untuk 5G, termasuk spektrum, model bisnis, dan Biaya Hak Penggunaan (BHP) diharapkan terjadi pada periode 2020-2021. Jadi, hal ini paling cepat terjadi kira-kira 3 tahun lagi.

Belum lagi, lamanya uji coba 5G menggunakan perangkat komersial dan mencoba use case berkaitan dengan manufaktur terkait revolusi industri 4.0, tentu tak akan sebentar.

Setelah semua proses tersebut berlangsung, barulah pemerintah bisa membuka lelang pita frekuensi 5G. Namun kita bisa berharap kalau pluncuran layanan broadband berbasis 5G, yakni mobile dan fixed broadband, bisa terjadi pada 2022.

5 dari 5 halaman

Bahaya Pita Frekuensi 5G

Fakta tentang jaringan 5G. ©2018 Merdeka.com

Pita frekuensi yang dilelang di Indonesia, menurut Ditjen SDPPI Kemkominfo Denny Setiawan yakni 3,5GHz, 26GHZ, dan 28GHz.

Nah, dalam frekuensi tersebut terdapat gelombang milimeter yang jika jumlahnya banyak bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, frekuensi sebesar 30Hz tak akan membawa gelombang yang akan membahayakan manusia. Sinar inframerah yang mengikuti di gelombang tersebut pun tidak berbahaya.

Jika frekuensi ini tidak melampaui ambang batas (300Hz), maka gelombang milimeter serta inframerah yang mengikutinya tak akan cukup kuat untuk melukai kita. [idc]

Baca juga:
Pemerintah Diharapkan Segera Buat Regulasi 5G
Ditawari Tiongkok Pengembangan 5G, Indonesia Masih Mencari Model Bisnis
Telkomsel bangga 5G Experience Center dikunjungi Perdana Menteri Korea Selatan
Menkominfo telah siapkan skema spektrum 5G
Tak buru-buru terapkan 5G, Smartfren pilih optimalkan 4G plus
Telkomsel uji coba pengalaman teknologi 5G selama Asian Games 2018
Menperin ingin kawasan industri Karawang dan Kudus manfaatkan jaringan 5G

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini