Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apa yang Terjadi saat Tubuh Terlalu Lama di Luar Angkasa?

Apa yang Terjadi saat Tubuh Terlalu Lama di Luar Angkasa? astronot . ©nasaimages.org

Merdeka.com - Selama lebih dari 50 tahun, Human Research Program (HRP) NASA telah mempelajari apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika di luar angkasa. Dikutip dari situs resmi NASA, Rabu (18/1), para peneliti menggunakan apa yang mereka pelajari untuk merancang prosedur, perangkat, dan strategi agar astronot tetap aman dan sehat selama misi mereka.

Penelitian ini terkait rencana mereka untuk ‘meninggalkan’ astronot dalam waktu yang lebih lama. Sebelumnya, Scott Kelly dan Christina Koch adalah astronot Amerika pertama yang tercatat menghabiskan hampir satu tahun di stasiun luar angkasa.

Selain menghabiskan hampir satu tahun di luar angkasa, Scott terlibat dalam Studi Kembar yang unik. Scott berpartisipasi dalam beberapa studi biomedis di stasiun luar angkasa sementara saudara kembar identiknya, pensiunan astronot Mark Kelly, tetap berada di Bumi sebagai subjek kontrol, untuk memberikan dasar perbandingan yang terjadi.

Studi tersebut memberikan data berharga tentang apa yang terjadi pada Scott, secara fisiologis dan psikologis, dibandingkan dengan saudaranya Mark. Kontribusi mereka terhadap sains membantu menghasilkan data yang akan digunakan para peneliti selama beberapa dekade mendatang.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh di luar angkasa dan apa risikonya? Apakah risikonya sama untuk astronot yang menghabiskan enam bulan di stasiun ruang angkasa dibandingkan mereka yang mungkin pergi dalam misi Mars selama bertahun-tahun?

NASA menjawab, tidak. Maka itu, NASA sedang meneliti risiko untuk misi Mars yang dikelompokkan menjadi lima bahaya penerbangan luar angkasa manusia yang terkait dengan stresor yang ditimbulkannya pada tubuh.

Menariknya, menurut Emmanuel Urquieta, kepala petugas medis di Translational Research Institute for Space Health di Houston, yang bermitra dengan NASA untuk mempelajari efek eksplorasi luar angkasa menyebutkan bahwa hidup di luar angkasa sangat tidak ramah bagi manusia.

"Ruang angkasa sangat tidak ramah bagi tubuh manusia," kata dia dikutip dari The Washington Post.

Meski begitu, Lori Ploutz-Snyder, Dekan Fakultas Kinesiologi Universitas Michigan mengatakan, sebagian besar potensi risiko kesehatan perjalanan ruang angkasa dapat dikurangi sampai batas tertentu.

Olahraga, misalnya, cukup efektif dalam membantu astronot menjaga massa otot dan kepadatan tulang. Di stasiun luar angkasa, para astronot harus secara rutin berolahraga selama sekitar satu jam hampir setiap hari dengan menggunakan perangkat khusus untuk berlari, bersepeda, dan mengangkat beban, meskipun sejatinya tidak berbobot.

Namun, berdasarkan catatan The Washington Post, ketika Scott Kelly menghabiskan satu tahun di luar angkasa, dia kembali ke Bumi lebih pendek, lebih rabun jauh, lebih ringan dan dengan gejala baru yakni penyakit jantung yang tidak dialami oleh saudara kembar identiknya, yakni Mark Kelly. Bahkan DNA mereka jadi berbeda, karena hampir 1000 gen dan kromosom Scott Kelly bekerja secara berbeda.

Tetapi pada misi bulan dan Mars nantinya, yang akan melibatkan kapal yang lebih kecil dan kemungkinan durasi selama bertahun-tahun, peralatan olahraga perlu menyusut dan kesediaan astronot untuk mengikuti latihan diperbesar. Semuanya saat ini masih dipelajari oleh ilmuwan. (mdk/faz)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP