Apa Itu Deepfake dan Inilah Bahayanya

Senin, 14 Oktober 2019 18:21 Reporter : Pandasurya Wijaya
Apa Itu Deepfake dan Inilah Bahayanya deepfake. ©Getty Images

Merdeka.com - Aplikasi kamera saat ini sudah sedemikian canggih. Para pengguna sekarang bisa membuat kaki mereka terlihat lebih panjang, menghilangkan kerutan di wajah, menambahkan telinga hewan dan sekarang bahkan membuat video palsu yang terlihat sangat asli. Teknologi untuk membuat konten digital semacam itu kini makin mudah dijangkau oleh publik dan konten semacam itu disebut "deepfake".

Deepfake adalah video rekayasa atau materi digital yang dibuat oleh kecerdasan buatan yang canggih hingga menghasilkan gambar dan suara yang terlihat dan terdengar asli.

Dilansir dari laman CNBC, Senin (14/10), video semacam itu kini semakin mudah didapat dan canggih, tulis John Villasenor, akademisi senior studi pemerintahan di Pusat Inovasi Teknologi organisasi kebijakan publik yang berbasis di Washington, Amerika Serikat, Institusi Brookings.

"Deepfake memicu serangkaian kebijakan di bidang teknologi dan hukum."

Bahkan siapa pun yang punya komputer dan akses Internet secara teknis bisa membuat konten deepfake, kata Villasenor yang juga profesor Teknik Mesin di Universitas California, Los Angeles.

Bagaimana deepfake bekerja?

Sistem kajian mendalam bisa membuat konten tiruan dengan mempelajari foto dan video dari sosok yang menjadi target dari berbagai sudut pandang dan meniru gerak-gerik tubuh dan gerakan bibirnya.

Barret menjelaskan, "ketika materi awal palsu sudah dibuat, sebuah metode yang disebut GAN bisa membuatnya jadi makin terlihat asli. Proses GAN mendeteksi kekurangan sehingga bisa membuat video terlihat sempurna."

Dan setelah melalui serangkaian pendeteksian dan perbaikan, deepfake akhirnya rampung, kata si profesor.

Menurut laporan dari MIT, sebuah alat yang bisa membuat deepfake "menjadi senjata sempurna bagi si pembuat berita palsu yang ingin mempengaruhi segalanya, dari mulai harga saham sampai pemilu."

Bahkan "perangkat AI kini sudah dipakai untuk memasang wajah orang lain pada kepala seseorang dengan badan seorang bintang porno serta ucapan dari seorang politikus," tulis Martin Giles, kepala biro San Fransisco dari MIT Technology Review dalam sebuah laporan.

Dia menyebut GAN bukan membuat masalah, tapi justru memperparah.

1 dari 2 halaman

Apa itu deepfake?

Kata deepfake memuat dua istilah "kajian mendalam (deep learning)" dan "fake (palsu)" dan itu sebentuk kecerdasan buatan (AI).

Istilah gampangnya, deepfake adalah video palsu yang dibuat dengan kajian mendalam, kata Paul Barret, profesor hukum di Universitas New York.

Kajian mendalam adalah serangkaian AI yang berarti penataan algoritma yang bisa mengkaji dan membuat keputusan cerdas sendiri.

Tapi bahayanya deepfake adalah "teknologi ini bisa dipakai untuk membuat orang percaya sesuatu itu benar padahal tidak," kata Peter Singer, ahli keamanan dan pertahanan siber sekaligus akademisi senior di lembaga peneliti New America.

Singer bukan satu-satunya orang yang memperingatkan bahayanya deepfake.

Villasenor mengatakan kepada CNBC, "teknologi ini bisa dipakai untuk merusak reputasi seorang kandidat politik dengan cara membuat si kandidat terlihat mengatasan sesuatu atau melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak pernah dia katakan/lakukan."

"Deepfake menjadi alat luar biasa bagi siapa pun yang ingin menyebarkan informasi palsu dan mempengaruhi pemilu," kata Villasenor.

2 dari 2 halaman

Bagaimana mendeteksi video rekayasa?

Kecerdasan buatan bisa dipakai membuat deepfake tapi juga bisa untuk mendeteksinya, tulis Villasenor Februari lalu. Dengan makin mudahnya pengguna mengakses, para peneliti kini makin fokus mendeteksi deepfake dan mencari cara untuk membuat aturan soal ini.

Kantor berita Reuters melaporkan, perusahaan teknologi besar macam Facebook dan Microsoft sudah mengambil tindakan untuk mendeteksi dan menghapus video deepfake. Kedua perusahaan itu awal tahun ini mengumumkan mereka akan bekerja sama dengan sejumlah universitas unggulan di seantero AS untuk membuat sebuah basis data besar tentang video-video deepfake buat keperluan penelitian.

"Sebetulnya ada secuil aspek visual yang tidak muncul kalau kita cermati, entah itu dari bentuk telinga, mata yang tidak selaras hingga ke kulit wajah di bagian tepi atau kulit yang terlalu mulus kena paparan cahaya dan bayangan," kata Singer.

Tapi dia mengatakan mendeteksi kekurangan itu kini makin sulit seiring teknologi deepfake yang kini kian canggih dan video terlihat makin asli.

Seiring makin berkembangnya teknologi, Villasenor mengingatkan, teknik pendeteksian seringkali tertinggal dari metode pembuatan video yang makin maju. Jadi pertanyaannya sekarang adalah: "Apakah orang akan lebih percaya deepfake atau mendeteksi algoritma yang menyatakan video itu rekayasa?"

[pan]
Topik berita Terkait:
  1. Deepfake
  2. Teknologi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini