Amerika dan India Mulai Larang Rokok Elektrik, Segera Meluas?

Selasa, 1 Oktober 2019 16:32 Reporter : Indra Cahya
Amerika dan India Mulai Larang Rokok Elektrik, Segera Meluas? Ilustrasi Vapor. ©2019 healthline.com

Merdeka.com - India akhirnya melarang rokok elektrik. Hal ini buntut dari deretan kasus kematian terkait vaping yang belakangan ramai dibicarakan di Amerika Serikat.

Melansir Reuters, Pemerintah India membuat sebuah larangan khusus untuk menjual, memproduksi, mengimpor, serta mengiklankan rokok elektrik. Pelanggar akan mendapatkan hukuman satu tahun penjara atau denda 1.000 Rupee yang setara Rp20 Juta.

Sebenarnya, peraturan ini tidak benar-benar melarang orang melakukan vaping. Namun pengguna tidak bisa membeli liquid vape yang merupakan cairan yang nantinya akan diuapkan untuk jadi pengganti asap rokok.

Rokok tradisional sendiri masih legal di India, meskipun panjaknya sangat tinggi.

1 dari 2 halaman

Amerika Serikat Jadi yang Pertama

Setelah berbagai penelitian tentang penyakit paru-paru terkait vaping, Michigan jadi negara bagian AS pertama yang melarang vaping. Negara bagian New York pun akhirnya mengikuti.

Tak cuma AS, Singapura melarang vaping secara keseluruhan, serta Jepang melarang liquid vapor yang mengandung nikotin.

Jika hal ini meluas dan risetnya makin membuktikan kalau vaping ternyata sebahaya rokok, bisa jadi pencekalan vaping akan meluas, bahkan ke Tanah Air.

2 dari 2 halaman

Penelitian Bahaya Vaping

Semua bermula dari hasil riset Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyebut bahwa seseorang meninggal karena sebuah kondisi yang terkait vaping.

Disebut pula kalau ada hampir 200 kasus lain yang disebabkan oleh vape, dengan tingkat keparahan yang berbeda. Dideskripsikan, terdapat gejala pernapasan para yang 'tak dapat dijelaskan,' setelah dilaporkan menggunakan vape atau rokok elektronik.

Terkait mendiang, tidak ada informasi yang dibeberkan kecuali ia adalah orang dewasa dan warga negara bagian Illinois. Disebut ia meninggal karena penyakit paru-paru yang terpicu uap rokok elektronik.

Dalam laporan CDC, dalam banyak kasus, pasien melaporkan gejala awal berupa kesulitan bernafas, sesak napas, dan beberapa berupa penyakit gastrointestinal.

Lebih dari itu, semua pihak dan ikatan dokter di AS kini sedang diberi komando untuk melakukan pengumpulan informasi. Diduga akan banyak gelombang korban yang jatuh akibat vaping dan penanganan diharapkan sudah ada sebelumnya.

FDA yang merupakan BPOM di AS, sedang melakukan investigasi akan berbagai rokok elektronik yang beredar di AS. Pasalnya, butuh diketahui juga berbagai peredaran rokok elektronik impor atau yang ilegal.

Setelah itu, akan dilakukan investigasi apakah deretan rokok elektronik tersebut memang berbahaya atau tidak.

Sejauh ini, mekanisme munculnya penyakit yang terkait rokok elektronik ini masih belum terlalu bisa diprediksi. Apakah itu adalah risiko dari nikotin yang ada dalam cairannya, atau dari uapnya. Atau bahkan dari temperatur atau konsentrasi berbahaya yang tercipta dari fenomena penguapan liquid ini. [idc]

Baca juga:
GANI Gelar Sosialisasi Penyalahgunaan Narkoba di Rokok Elektrik Bulan Ini
Asap Rokok Elektrik Ternyata Juga Timbulkan Bahaya Bagi Kesuburan Wanita
Serap Tenaga Kerja, Industri Tembakau Alternatif Butuh Insentif Pemerintah
Asosiasi Harap Pemerintah Tak Ikut Naikkan Cukai Produk Tembakau Alternatif
Informasi Mengenai Produk Tembakau Alternatif Masih Minim di Indonesia
Rokok Elektrik Disarankan Tidak Jadi Pengganti Rokok Konvensional
Genjot Industri Tembakau Alternatif, Asosiasi Dorong Pelaku Usaha Gandeng Petani

Topik berita Terkait:
  1. Rokok Elektrik
  2. Bahaya Rokok
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini