Advertisement
Dalam sejarah berdirinya negara Singapura, sosok presiden pertama yang menjabat adalah keturunan Indonesia.
Siapa sangka jika orang-orang Indonesia menjadi sosok yang mengukir sejarah di sebuah negara?
Tentunya kita sangat bangga dan terus mengenang namanya. Sosok luar biasa yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah negara yaitu Yusof Ishak.
Pria kelahiran Padang Gajah, Terong, Malaysia 12 Agustus 1910 itu menjabat sebagai presiden pertama Singapura. (Foto: Wikipedia)
Yusof terpilih menjadi pemimpin negara dengan julukan "Tiga Singa" itu terhitung sejak 9 Agustus 1965 yang lalu.
Diketahui, sang ayah sendiri kelahiran Minangkabau yang kemudian merantau ke negeri Jiran Malaysia.
Lantas, seperti apakah sosok dari Yusof Ishak asal Sumbar ini? Simak ulasan informasinya yang dirangkum dari berbagai sumber berikut.
Advertisement
Advertisement
Yusof Ishak ialah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia memiliki darau Minangkabau melalui keluarganya. Ayahnya, Ishak bin Ahmad, adalah seorang keturunan Minangkabau yang berasal dari Sumatra Barat, Indonesia.
Ibunya, Putri Hajjah Fatimah binti Sulaiman, adalah keturunan Melayu Singapura. Dengan demikian, Yusof Ishak memiliki akar Minangkabau melalui garis ayahnya.
Advertisement
Yusof Ishak menempuh pendidikan di Raffles Institution di Singapura dan kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Sultan Idris di Malaysia, di mana ia belajar bahasa Melayu dan memperdalam pengetahuannya tentang budaya dan sejarah Melayu.
Masa muda Yusof Ishak ditandai dengan keaktifannya dalam perjuangan kemerdekaan, di mana ia terlibat dalam liga nasional Federasi Malaya untuk memperjuangkan kemerdekaan dari Inggris.
Pada tahun 1954, ia menjadi salah satu pendiri Partai Aksi Rakyat (People's Action Party, PAP) di Singapura. Partai ini memainkan peran utama dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan Singapura dan mewakili kepentingan rakyat dalam pemerintahan kolonial.
Sebagai anggota PAP, Yusof Ishak secara aktif terlibat dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan Singapura.
Ia terlibat dalam pembentukan strategi politik dan kampanye untuk mendapatkan dukungan rakyat dalam upaya mencapai kemerdekaan dari penjajahan Inggris.
Advertisement
Perjuangan Yusof Ishak mencapai kemerdekaan dari penjajahan Inggris membuahkan hasil pada tahun 1959.
Kala itu Partai Aksi Rakyat memenangkan pemilihan umum pada tahun 1959, Singapura memperoleh pemerintahan sendiri.
Pada 3 Desember 1959, Yusof memang telah menjadi warga Singapura, dilantik sebagai kepala negara atau disebut "Yang di-Pertuan Negara Singapura".
Namun, ada ketegangan antara warga keturunan Cina dan Melayu di Singapura, Partai Aksi Rakyat pimpinan Lee Kuan Yeuw merasa Kuala Lumpur lebih mengutamakan warga etnis Melayu.
Alhasil, mayoritas keturunan China di Singapura memutuskan keluar dari Federasi Malaya pada 1965. Namun Yusof memilih bertahan dan membela keputusan PAP.
Hingga pada 9 Agustus 1965 saat Singapura keluar dari Federasi Malaysia dan merdeka, statusnya berubah menjadi presiden.
Advertisement
Advertisement
Pria keturunan Minangkabau ini menjabat sebagai presiden Negeri Singa sejak 9 Agustus 1965 hingga ajal menjemputnya pada 23 November 1970.
Diketahui, ia meninggal karena serangan jantung di usia 60 tahun.
Kematian Yusof Ishak menandai akhir dari kepemimpinan yang penting dan berpengaruh dalam sejarah Singapura.
5 tahun menjabat sebagai Presiden, Yusof Ishak dikenal sebagai pemimpin yang tekun, bijaksana, dan bertanggung jawab.
Selama masa jabatannya, dia berperan dalam mempromosikan persatuan nasional di Singapura dan memperjuangkan kesetaraan antar-etnis.
Ia juga mempromosikan persatuan nasional dan mendirikan Dewan Bahasa dan Pustaka untuk memperkuat identitas budaya Singapura.
Advertisement
Lebih dari itu, Yusof sendiri juga tidak dilupakan dalam sejarah Singapura, buktinya wajah Yusof terpampang di pecahan uang dolar Singapura.
Selain itu namanya juga diabadikan dalam berbagai institusi dan landmark di Singapura.
Advertisement
Mengutip dari kanal merdeka.com, sebelum masa penjajahan Inggris, Singapura diyakini didominasi oleh penduduk asal Indonesia.
Uniknya, di negeri tersebut konon hampir 90 persen penduduknya warga Indonesia, mulai dari Melayu, Minangkabau, Bugis, Jawa dan Palembang.
Menurut Tan Malaka dalam bukunya yang berjudul "Dari Penjara ke Penjara," Negara yang hanya sebesar Jawa Barat ini penduduknya hanya 6 ribu orang.
Konon secara keseluruhan banyak orang Indonesia di Negeri Singa ini apalagi di zaman penjajahan Inggris di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles tahun 1819.
Selain itu, banyak juga orang Indonesia yang mengakuisisi profesi di negara tetangga tersebut.
Misalnya, pertambangan timah yang terkenal semuanya dikuasai oleh orang-orang Indonesia. Jadi, kita tidak melulu membahas soal kolonial Belanda, tetapi bangsa Indonesia juga pernah menjadi Kolonial di negara orang.