Sosok Laksamana Muda Mohammad Nazir, Orang Indonesia Pertama yang Raih Ijazah Pelayaran Samudera
Purnawirawan TNI Angkatan Laut asal Maninjau ini dulunya pernah dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Swiss dan Vatikan.
Purnawirawan TNI Angkatan Laut asal Maninjau ini dulunya pernah dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Swiss dan Vatikan.
Sosok Laksamana Muda Mohammad Nazir, Orang Indonesia Pertama yang Raih Ijazah Pelayaran Samudera
Nama Mohammad Nazir Isa mungkin banyak orang yang tidak mengetahui siapa sosok yang satu ini. Lahir di Maninjau, Agam pada 10 Juli 1910, dirinya memberikan dampak besar bagi kemajuan pelayaran dan mengharumkan ibu pertiwi di kancah dunia.Pria dengan gelar Datuk Basa Nan Balimo ini pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (1946-1948), kemudian Menteri Pelayaran Republik Indonesia dari tahun 1957 sampai 1959, dan dipercaya menajdi Duta Besar RI di Swiss dan Vatikan. Atas jasanya begitu besar bagi sejarah kemajuan pelayaran di Indonesia, kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di depan Mako Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur.
Seperti apa sosok dari Mohammad Nazir asal Agam ini? Simak ulasan informasinya yang dirangkum merdeka.com dari beberapa sumber berikut.
Kehidupan Awal
Mohammad Nazir merupakan anak dari pasangan Mohammad Isa Sutan Bandaro dan Siti Chadijah. Anak ketiga dari tujuh bersaudara itu sejak usia 6 tahun sudah diasuh oleh pamannya bernama Adam Datuak Basa Nan Balimo yang menjabat sebagai School Opzienner di Langkat.
Dengan jabatan pamannya, Nazir pun bisa mendapatkan kesempatan sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Kota Medan. Setelah lulus dari ELS, Nazir kemudian diasuh oleh paman lainnya yang bekerja sebagai Hoof Opzichter di Jakarta.Lagi-lagi, dengan jabatan pamannya itu, Nazir melanjutkan pendidikan di De Tweede Bijbel Opzichter. Lalu melanjutkan di Chrijstelike MULO.
Merantau ke Belanda
Dengan bekal pendidikan yang mumpuni, Nazir harus merantau ke Belanda dan meniti karier sebagai seorang pelaut atas rekomendasi dari Ny. Poijt van Druten yang menjadi gurunya saat sekolah MULO.
Seiring berjalannya waktu, Nazir semakin bertekad untuk menekuni dunia pelayaran dengan menempuh sekolah pelayaran di Michel Adrianzoon de Ruyter Belanda
Orang Indonesia Pertama yang Raih Ijazah Pelayaran Samuder
Ia menjadi orang Indonesia pertama yang meraih ijazah Pelayaran Samudera di tahun 1938.
Setelah meraih ijazah mentereng, ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan bekerja di perusahaan pelayaran bernama Doggerbank.
Masa Jepang dan Kemerdekaan
Ketika masa penjajahan Jepang, Nazir bergabung dengan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Tahun 1943 ia diangkat menjadi Kepala Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) atau sekarang disebut dengan Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.
Pasca Kemerdekaan Indonesia, Nazir mendapat kepercayaan untuk menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KASAL) dengan jabatan Kepala Staf Umum TRI Laut sejak 6 Februari 1946.
Pada Kabinet Djuanda, ia ditunjuk untuk menjadi Menteri Pelayaran dan termasuk salah satu yang menandatangani petisi 50 yang mengkritik pemerintahan totaliter Soeharto.
Penghargaan
Selama hidup, ia sudah mendapatkan beberapa lencana penghargaan atas jasanya, di antaranya Bintang Gerilya, Bintang Sewindu APRI, Bintang Jalasena, Satyalancana Perang Kemerdekaan I, Satyalancana Perang Kemerdekaan II.
Lalu ada Satyalencana Kesetiaan VIII, Satyalencana Kesetiaan XVI, Knight Grand Cross of the Order of St. Gregory the Great. Tak hanya itu, namanya juga diabadikan menjadi nama jalan di Mako Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut V yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur.
Ia wafat pada 30 Agustus 1982 di usianya yang ke-72 tahun. Lalu ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan dengan rentetan jabatan dan prestasi yang sudah ia raih selama ini.