Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah Majalah Al-Munir, Media Massa Islam Pertama di Indonesia Beraksara Jawi yang Terbit di Padang

Sejarah Majalah Al-Munir, Media Massa Islam Pertama di Indonesia Beraksara Jawi yang Terbit di Padang<br>

Sejarah Majalah Al-Munir, Media Massa Islam Pertama di Indonesia Beraksara Jawi yang Terbit di Padang

Majalah ini juga memiliki 31 agen yang tersebar di Jawa, Sumatra, hingga Semenanjung Malaya.

Media massa di Indonesia sudah eksis sejak zaman penjajahan. Saat itu ada banyak majalah terbit dengan berbagai macam rubrik, tak terkecuali seputar agama Islam. Salah satu majalah itu bernama Al-Munir.

Al-Munir merupakan majalah Islam yang terbit dwi mingguan dengan tulisan aksara jawi yang terbit di Kota Padang. Majalah ini menjadi sebagai media massa Islam pertama yang ada di Indonesia. (Foto: Wikipedia)

Majalah ini berisikan rubrik tajuk rencana seputar Islam, forum tanya jawab yang berkaitan dengan ilmu-ilmu fikih, perkembangan Islam di dunia, serta kronik terjemahan dari bahasa Timur Tengah.

Al-Munir rajin menyerukan kepada pembaca untuk kembali kepada ajaran-ajaran Islam yang murni. Majalah ini juga menjadi corong gerakan kaum muda dalam gelombang pembaruan Islam jilid kedua di Minangkabau.

Adaptasi dari Media Islam Singapura

Melansir dari beberapa sumber, sebelum kemunculan Al-Munir sudah ada lebih dulu majalah bernama Al-Imam yang terbit di Singapura sekira tahun 1906. Majalah ini masih keterkaitan dengan Al-Urwatul Wusqa yang diterbitkan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh.

Setelah Al-Imam terbit, delegasi dari Minangkabau saat itu yakni Abdullah Ahmad menemui ketua redaksi untuk menyampaikan pesan jika ingin menerbitkan majalah dengan konsep yang serupa.

Saat kembali ke Indonesia, Abdullah Ahmad mendapat dukungan dari pedagang lokal sehingga Al-Munir pun berhasil diterbitkan. Perkumpulan Al-Munir ini sendiri terdiri dari para ulama dari kelompok pembaharu atau kaum muda.

Resmi Terbit

Al-Munir resmi terbit perdana pada 1 Rabiulakhir 1329 Hijriyah. Penamaan "Al-Munir" ini sendiri diartikan sebagai lilin atau suluh. Majalah ini terbit setiap hari Sabtu, pada awal dan pertengahan bulan dalam Kalender Islam.

Majalah ini sebagian besar terbit dalam jumlah 16 halaman. Begitu juga tulisan yang dimuat masih menggunakan aksara atau abjad jawi. Hal ini berkaitan dengan masyarakat Minangkabau yang masih menggunakan aksara jawi untuk menulis serta membaca.

Al-Munir pun mendapatkan penghasilan dari para langganannya. Majalah ini juga memiliki 31 agen yang tersebar di Jawa, Sumatra, hingga Semenanjung Malaya. Namanya semakin dikenal pembaca karena memanfaatkan jaringan majalah Al-Imam yang sudah tidak terbit.

Secara umum, isi majalah ini menyerukan umat Islam untuk kembali kepada ajaran yang murni. Selain itu, mengargumentasikan kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas modern.

Berhenti Terbit

Setelah berjalan 4 tahun, Al-Munir resmi berhenti terbit pada tahun 1915. Dalam perpisahannya dan terbitan terakhir ada edisi spesial dengan judul "Khatama". Karangan tersebut berisi keterangan bahwa Al-Munir tidak dapat dilanjutkan lagi.

Penyebab utama berhentinya penerbitan majalah Al-Munir ini karena faktor keuangan yang tidak mencukupi. Pada edisi terakhir, banyak dimuat soal pengumuman kepada agen dan langganan agar mengirimkan uang langganannya.

Di sisi lain, para pengelola majalah yang terdiri dari ulama ini tidak memiliki latar belakang sebagai seorang pedagang. Penerbitan ini pun hanya bertujuan untuk dakwah, tanpa diiringi dengan kemampuan bisnis serta profesionalitas.

Sosok Albert Manumpak Sipahutar, Jurnalis di Balik Berdirinya Kantor Berita Antara
Sosok Albert Manumpak Sipahutar, Jurnalis di Balik Berdirinya Kantor Berita Antara

Lahir di Tarutung, Tapanuli, Sumatra Utara pada 26 Agustus 1914, Albert sudah menekuni dunia jurnalistik sejak usianya menginjak remaja.

Baca Selengkapnya
Sejarah PO ALS, Armada Bus dengan Trayek Terjauh dan Tertua di Sumatera
Sejarah PO ALS, Armada Bus dengan Trayek Terjauh dan Tertua di Sumatera

Siapa yang tidak tahu PO. Antar Lintas Sumatera atau disingkat ALS? Perusahaan Bus asal Sumatera ini melayani trayek hingga Pulau Jawa.

Baca Selengkapnya
Menilik Masjid Tuo Ampang Gadang, Saksi Bisu Perkembangan Agama Islam Hingga Perjuangan Imam Bonjol
Menilik Masjid Tuo Ampang Gadang, Saksi Bisu Perkembangan Agama Islam Hingga Perjuangan Imam Bonjol

Bangunan yang hampir seluruh bagiannya menggunakan kayu itu menjadi bagian dari sejarah masuknya Islam di Sumbar yang berlangsung sejak ratusan tahun.

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Sejarah Pesantren NU Tertua di Pulau Sumatera, Didirikan oleh Ulama Tersohor Berdarah Batak
Sejarah Pesantren NU Tertua di Pulau Sumatera, Didirikan oleh Ulama Tersohor Berdarah Batak

Bukan hanya di Pulau Jawa saja, pondok pesantren juga berdiri di Pulau Sumatera yang usianya sudah lebih dari ratusan tahun.

Baca Selengkapnya
Ilmuwan Dunia yang Akhirnya Memeluk Islam setelah Melakukan Penelitian Bertahun-tahun
Ilmuwan Dunia yang Akhirnya Memeluk Islam setelah Melakukan Penelitian Bertahun-tahun

Berikut ilmuwan dunia yang memeluk islam setelah melakukan penelitiannya.

Baca Selengkapnya
Pernah Melawan Penjajah Belanda Sampai 50 Tahun, Begini Sejarah Suku Basemah di Sumatera Selatan
Pernah Melawan Penjajah Belanda Sampai 50 Tahun, Begini Sejarah Suku Basemah di Sumatera Selatan

Suku asli dari kota Pagaralam, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Muara Enim ini melakukan perlawanan terlama dalam sejarah.

Baca Selengkapnya
Sejarah Masjid Bir Ali yang Jadi Tempat Pengambilan Miqat Jemaah Haji
Sejarah Masjid Bir Ali yang Jadi Tempat Pengambilan Miqat Jemaah Haji

Masjid yang semula kecil dan sederhana ini, kini menjelma menjadi bangunan indah.

Baca Selengkapnya
Menelusuri Sejarah Jembatan Tertua di Pulau Sumatra, Diresmikan oleh Wapres RI Pertama
Menelusuri Sejarah Jembatan Tertua di Pulau Sumatra, Diresmikan oleh Wapres RI Pertama

Jembatan yang satu ini konon menjadi jembatan tertua yang ada di Pulau Sumatera.

Baca Selengkapnya
Jejak Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia, Berawal dari Perusahaan Besar Milik Belanda di Pantai Timur Sumatra
Jejak Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia, Berawal dari Perusahaan Besar Milik Belanda di Pantai Timur Sumatra

Tanaman ini dibawa oleh orang-orang Belanda ke Nusantara.

Baca Selengkapnya