Tinggalkan Hidup Enak di Istana, Ini Sosok Mbah Demang Keturunan Raja Bangkalan yang Memilih Jadi Warga Biasa

Dalam pengasingannya, ia berusaha menyembuyikan jati dirinya sebagai bangsawan.

Rizka Nur Laily Muallifa
Tinggalkan Hidup Enak di Istana, Ini Sosok Mbah Demang Keturunan Raja Bangkalan yang Memilih Jadi Warga Biasa
Tinggalkan Hidup Enak di Istana, Ini Sosok Mbah Demang Keturunan Raja Bangkalan yang Memilih Jadi Warga Biasa (Merdeka.com)

Dalam pengasingannya, ia berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai bangsawan.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Instagram @sidoarjomasakuno

Sebelum menjadi kabupaten, Bangkalan dulunya berbentuk kerajaan yang dipimpin seorang sultan. Kehidupan bangsawan kerajaan tentu saja jauh lebih enak dibanding kaum pribumi biasa saat itu. Meski demikian, kehidupan nyaman tak menjamin seluruh anggota kerajaan betah tinggal di dalamnya.

Tinggalkan Kemewahan

Pangeran Cokrokusumo, putra ke-25 Sultan Bangkalan II  meninggalkan kehidupan serba enak di kerajaan. Ia memilih hidup sangat sederhana berbaur dengan masyarakat biasa.

Alasan Tinggalkan Istana

Pada zaman itu sering terjadi pertikaian dan peperangan antar kelompok atau kerajaan akibat taktik adu domba yang dilakukan  pemerintah Belanda.

Mengutip situs rodovid.org, Pangeran Cokrokusumo  beranggapan bahwa memenuhi permintaan Pemerintah Hindia Belanda sama dengan menciptakan penderitaan bagi sanak keluarganya.

Di sisi lain, Pangeran Cokrokusumo sadar cepat atau lambat ia akan menerima giliran memimpin barisan Madura untuk melawan sesama bangsa pribumi.

Menolak tugas  sama saja melawan pemerintah Hindia Belanda. Hal itu tentu saja akan berakibat buruk baginya.

Atas dasar itulah, akhirnya Pangeran Cokrokusumo memutuskan meninggalkan Bangkalan membawa istri, anak-anak dan kerabat dekatnya.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/freepik

Selain menghindari tugas dari Pemerintah Hindia Belanda, Pangeran Cokrokusumo juga bercita-cita agar kelak, anak-anak dan keturunannya hidup damai dan sejahtera.

Perjalanan

Pada tahun 1845, rombongan Pangeran Cokrokusumo berangkat dari istana Kesultanan Bangkalan dengan menyeberangi selat Madura dan mendarat di pantai Gresik. 

Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju  sebuah perguruan (pesantren) Dosermo melalui Surabaya dan Wonokromo.

Sembunyikan Identitas

Sembunyikan Identitas
Dok. Istimewa

Selama perjalanan, rombongan Pangeran Cokrokusumo  berusaha menyembunyikan jati diri sebagai bangsawan. Mereka mengubah nama dan identitas lainnya.  Pangeran Cokrokusumo mengubah namanya menjadi Kyai Mendhung.

Makam

Makam
© 2024 merdeka.com/Instagram @sidoarjomasakuno

Mengutip situs p2k.stekom.ac.id, Pangeran Cokrokusumo atau Mbah Mendhung meninggal pada tahun 1843. Jasadnya dimakamkan di Dusun Kaliboto, Desa Jatialun-alun, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo.


Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Masyarakat setempat menyebut makam tersebut dengan sebutan makam Mbah Demang. Hingga kini, makam tersebut dikeramatkan dan dirawat oleh penduduk desa karena sosok Mbah Demang dianggap sesepuh desa.

Rekomendasi