Advertisement
Meski terkesan kejam dan brutal, rupanya tradisi Mangai Binu dari Nias ini merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada leluhur.
Kepulauan Nias memiliki ragam tradisi dan budaya yang unik. Terdapat satu tradisi yang mungkin terdengar cukup mengerikan yang bernama Mangai Binu atau Mangai Binu.
Mangai Binu adalah tradisi berburu kepala manusia yang dilakukan oleh seorang Emali. Memang, tradisi menyeramkan ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Seiring berjalannya waktu, Mangai Binu berkembang menjadi penanda status sosial.
Meski tradisi ini sudah hilang saat agama Kristen mulai masuk ke Nias, namun Mangai Binu menjadi identitas masyarakat setempat. Berikut fakta-fakta tradisi berburu kepala yang dirangkum dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Mengutip liputan6.com, dalam pelaksanaan Mangai Binu ini dilakukan oleh seorang Emali yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh banyak orang Nias. Mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat atau kasta tinggi.
Apabila seorang Emali ini semakin banyak permintaan kepala untuk dipenggal, menandakan semakin tingginya kekuasaan serta kekayaan orang tersebut.
(Foto: Pixabay)
Dalam praktiknya, seorang Emali biasanya diminta oleh para ahli waris untuk memburu Mangai Binu. Tak tanggung-tanggung, pekerjaan Emali yang taruhannya nyawa itu juga dibayar dengan angka yang cukup tinggi. Wajar apabila hanya mereka yang kaya yang bisa melaksanakannya.
Advertisement
Advertisement
Pada zaman dahulu, Nias selalu berkutat dengan peperangan dan juga kekerasan. Para pemuda Nias sudah memiliki keahlian seperti lompat batu setinggi dua meter.
Seorang laki-laki sudah dianggap dewasa dan sudah boleh masuk ke dalam Osali setelah dirinya menjadi Iramatua. Iramatua adalah sebuah gelar yang disematkan kepada pemuda yang berhasil memperoleh satu kepala manusia untuk digantung di Osali.
Ketika mereka kembali ke kampung dengan membawa satu kepala manusia, ia akan disanjung-sanjung bak pahlawan. Kemudian diadakanlah sebuah pesta yang mengorbankan banyak babi.
Di saat itulah, kepala Banua akan memberikan Kalabubu (semacam cinderamata) kepada pemuda tersebut sebagai tanda sudah menjadi seorang Iramatua.
Advertisement
Advertisement
Menurut sejarah lisan yang berkembang di Nias, tradisi Mangai Binu tak jauh dari legenda Awuwukha. Sosok manusia digdaya yang pernah hidup di Nias sejak abad ke-19.
Awuwukha tekrenal sebagai manusia pemberani dan hebat karena piawai dalam membunuh orang. Pada suatu hari, datanglah seorang dari Susua yang menyebarkan kabar bahwa kampungnya akan diadakan pesta owasa.
Kemudian, seseorang pembawa kabar itu melewati rumah Awuwukha dan terhenti sejenak. Lalu seorang ibu-ibu berteriak "Hey lelaki yang kelihatan kemaluannya, untuk apa teriak-teriak seperti itu?" katanya. Rupanya ibu-ibu tersebut adalah ibunda dari Awuwukha.
Merasa tidak terima karena dianggap sebagai ungkapan mengejek, si pembawa kabar tadi langsung memporak-porandakan rumah tersebut. Awuwukha hanya bisa terdiam dan menahan amarahnya saat itu. Lalu, ia bersumpah untuk memenggal kepala orang-orang yang sudah menghancurkan rumahnya tersebut.
Advertisement
Advertisement
Dalam pelaksanaannya, para Emali akan menjelajahi daerah-daerah untuk memburu kepala sesuai dengan pesanan pelanggannya. Harga untuk satu kepala bisa dibayar dengan sejumlah babi atau bisa diganti dengan uang sebesar 100 atu 200 Gulden.
Namun, harga tersebut bisa naik apabila menginginkan lawannya hidup-hidup lalu dieksekusi di atas batu Awina. Satu kepala itu bisa diharga 6 ekor babi berukuran lima alisi.
Terkadang, para Emali akan tetap melakukan Mangai Binu untuk diberikan kepada pemimpin Banua ketika tidak ada pesanan. Mereka pun bersumpah atas kepalanya sendiri, reputasi mereka sangat dipertaruhkan ketika tidak membawa apa-apa ketika kembali. Namun, akan sangat dielu-elukan apabila membawa pulang kepala manusia.