Menilik Sejarah Gedung Balai Kota Padang, Bangunan Klasik yang Kental dengan Budaya Kolonial

Kota Padang merupakan salah satu wilayah yang cukup penting bagi pemerintah kolonial kala itu. Kini, beberapa jejak peninggalan mereka masih dijumpai.

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Menilik Sejarah Gedung Balai Kota Padang, Bangunan Klasik yang Kental dengan Budaya Kolonial
Menilik Sejarah Gedung Balai Kota Padang, Bangunan Klasik yang Kental dengan Budaya Kolonial (Merdeka.com)

Padang merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Barat yang memiliki peristiwa sejarah begitu panjang. Masa kolonial, Kota Padang merupakan salah satu wilayah penting bagi pemerintahan Hinida Belanda kala itu.

Sampai sekarang beberapa bangunan peninggalan kolonial masih bisa dijumpai, bahkan masih digunakan untuk kawasan perkantoran milik pemerintah daerah. Salah satunya adalah gedung Balai Kota Padang atau dalam bahasa Belanda "Gemeentehuis Padang".

(Foto: padang.go.id)

Balai kota ini berada di Jalan Mohammad Yamin, No.57, Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Sekarang bangunan tersebut sudah terdaftar dalam pelestarian cagar budaya Provinsi Sumbar agar bangunan bersejarah ini bisa lestari.

Lantas, bagaimana kisah sejarah berdirinya gedung balai kota Padang? Simak informasi selengkapnya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.

Kapasitas Tidak Memadai

Pada awalnya kawasan balai kota Padang berada di Muaro Padang, yaitu Kantor Asisten Residen. Namun, kapasitas ruangan tersebut seiring berjalannya waktu tidak memadai sedangkan kegiatan para abdi masyarakat pun padat dan banyak.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dengan bangunan yang ada dirasa sudah tidak memadai dan tidak menampung seluruh kegiatan abdi masyarakat, maka muncullah keinginan untuk membangun suatu gedung balai kota atau Geemente yang lebih baik.

(Foto: Wikipedia)

Pembahasan dan wacana pembangunan balai kota itu terus berlanjut hingga puncaknya pada tahun 1910. Telah dilakukan penghitungan anggaran dan lain sebagainya, akhirnya wacana itu pun terwujud dengan menghabiskan anggaran 16.000 gulden.

Sempat Tertunda

Dengan tinggi biaya anggaran untuk membangun sebuah balai kota yang representatif itu pun berujung penundaan. Hal ini disebabkan biaya anggaran banyak yang tidak teralokasikan untuk pembangunan tersebut.

Hingga pada tahun 1917, keinginan untuk melanjutkan pembangunan pun kembali muncul. Pemerintah kota praja saat itu berencana untuk membeli sebidang tanah untuk bangunan balai kota dan Pasar Raya.

Pindah Gedung

Tahun 1928, pemerintah kota praja resmi pindah tempat dari kantor Asisten Residen karena kondisi bangunan yang sudah layak. Untuk sementara, pemerintah kota praja menyewa kantor di Sungang Bongweg atau di sekitar Jalan Imam Bonjol.

Masih di tahun yang sama, Kota Padang mengalami depresi ekonomi yang berimbas pada turunnya harga tanah. Dari momen ini pun menjadi peluang agar bisa merealisasikan pembangunan balai kota yang representatif.

Sampai pada akhirnya pembangunan pun berlangsung dan saat itu dirancang oleh Thomas Karsten yang ahli di bidang tata kota. Pada tahun 1936, bangunan balai kota yang baru pun rampung dikerjakan dan siap untuk ditempati.

Kondisi Saat Ini

Setelah bangunan tersebut siap ditempati, Wali Kota (Burgemeester) Padang pertama, yaitu Mr. W. M. Ouwerkerk yang dipilih pada tahun 1928 menempati balai kota tersebut. Ia memimpin hingga tahun 1940 kemudian digantikan oleh D. Kapteijn.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kini, bangunan tersebut masih bisa dijumpai dengan gaya khas kolonial yang masih orisini. Mengutip kebudayaan.kemdikbud.go.id, pada bagian barat daya terdapat bangunan menara ada jam dinding di setiap sisi.

Kemudian, bagian jendela terlihat berderet secara vertikal sehingga memunculkan kesan bangunan tinggi. Memiliki dua lantai, bangunan ini hampir seluruh sudutnya dilengkapi dengan ventilasi.

Rekomendasi