Mengunjungi Masjid Indrapuri, Bangunan Bersejarah di Aceh yang Berdiri di Atas Reruntuhan Candi

Masjid Indrapuri ini dulunya merupakan sebuah candi Hindu yang akhirnya berubah fungsi menjadi masjid pada tahun 1618.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengunjungi Masjid Indrapuri, Bangunan Bersejarah di Aceh yang Berdiri di Atas Reruntuhan Candi
Mengunjungi Masjid Indrapuri, Bangunan Bersejarah di Aceh yang Berdiri di Atas Reruntuhan Candi (Merdeka.com)

Masjid Indrapuri di Desa Kede, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar menyimpan banyak cerita menarik. Sampai saat ini, masjid ini masih rutin digunakan oleh masyarakat untuk beribadah.

Bangunan ini sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 12 Januari 1999. Secara arsitektur, bangunan ini nampak jelas seperti candi. Dulunya bangunan ini dipercaya sebagai tempat pemujaan sebelum agama Islam masuk ke wilayah tersebut.

Simak asal usul Masjid Indrapuri yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.

<b>Sejarah Masjid</b>
Dok. Istimewa

Melansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Masjid Indrapuri ini dulunya merupakan sebuah candi Hindu yang akhirnya berubah menjadi masjid pada tahun 1618. Kawasan masjid ini memiliki luas sekitar 33 hektare dan dikelilingi oleh material reruntuhan candi. (Foto: Wikipedia)

Penamaan Masjid Indrapuri ini juga memiliki arti tersendiri. Kata indra berasal dari salah satu dewa dalam agama Hindu, sedangkan puri diartikan sebagai sebuah tempat untuk pemujaan.

Dalam konteks Hindu, Indrapuri diartikan sebagai tempat pemujaan Dewa Indra. Maka dari itu, masjid ini masih sangat kental dengan unsur-unsur agama Hindu meskipun sudah berubah peran menjadi tempat ibadah orang muslim.

Bahkan pada 1878, Masjid Indrapuri ini pernah menjadi tempat penobatan Sultan Aceh yaitu Tuanku Mohammad Daudsyah. 

Masjid ini berdiri dengan luas 18,8 x 18,8 meter dan dibangun menggunakan kayu. Ada 36 tiang yang berdiri di atas umpak atau pondasi yang berasal dari batu-batu kali.

Dari 36 tiang tadi, empat tiang merupakan tiang utama (soko guru) yang berbentuk persegi delapan yang menyangga bagian atap masjid. Uniknya, masjid ini tidak memiliki jendela maupun pintu. Untuk masuk ke ruangan masjid, terdapat sebuah tembok yang tidak disambung untuk akses keluar masuk masjid.

Kemudian, untuk mencapai ruangan utama, harus menaiki semacam anak tangga sebanyak 12 buah dengan lebar 6,60 meter. Sehingga tinggi secara keseluruhan mencapai 3,36 meter.

Pintu masjid yang berada di sebelah timur merupakan undakan pertama. Pada pelatarannya terdapat kolam bak penampungan air yang digunakan untuk berwudu.

Kemudian, di masjid ini terdapat mihrab yang terletak di sisi barat yang terbuat dari tembok dengan ukuran setinggi orang dewasa. Di sebelah utara masjid juga terdapat sebuah bangunan kecil dan bertingkat yang berguna sebagai menara yang dilengkapi dengan kentongan.

Pada bagian ujung Kaso di sudut barat laut, tenggara, dan barat daya terdapat ragam hias kaligrafi dan motif sulut bunga.

Kaligrafi tersebut dipahat dengan bunyi "Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam" dan terdapat angka tahun bertuliskan "1270 H". 

Selain itu terdapat kaligrafi bertuliskan "La illah". Konon penulisan itu dimaksudkan untuk menulis kata Syahadat, namun pengerjaannya tak sempat rampung.

Rekomendasi