Provinsi Sumatra Utara menyimpan beraneka ragam tradisibudaya yang tersebar di seluruh daerah. Meskipun mayoritas dihuni oleh suku Batak, beberapa daerah terbagi ke dalam sub suku salah satunya Suku Pakpak yang bermukim di Kaki Pegunungan Bukit Barisan.
Tradisi yang masih terus dilestarikan sebagai perwujudan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun temurun yaitu Upacara Memeree Cinta Lao. Tradisi ini menggambarkan upacara yang dilakukan oleh anak untuk memenuhi keinginan ibunya yang tertunda saat mengandung dirinya atau biasa dikenal 'Ngidam'.
Hingga saat ini, Upacara Memeree Cinta Lao masih sering dilakukan oleh mayoritas masyarakat Pakpak. Tradisi ini terbilang cukup unik, biasanya permintaan atau ngidam saat hamil biasanya harus terpenuhi saat itu juga. Namun, di Pakpak, permintaan yang belum terpenuhi akan diserahkan kepada anaknya ketika dewasa kelak.
Simak keunikan Upacara Memeree Cinta Lao yang dirangkum dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Melansir dari Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penamaan Cinta Lao diambil dari dua kata yaitu "Cinta" yang berarti keinginan atau cita-cita dan "Lao" yang artinya terhalang. Disimpulkan bahwa arti "Cinta Lao" adalah keinginan atau cita-cita yang terhalang atau tidak terpenuhi.
Ketika ibu sedang mengandung, biasanya muncul keinginan yang terkadang nilainya relatif cukup mahal dan bahkan sulit untuk ditemukan dengan mudah. Namun, bagi ibu-ibu di Pakpak permintaan itu kadang tidak diutarakan secara langsung, melainkan dipendam saja.
Secara sifat, memang perempuan Pakpak sendiri cenderung memiliki rasa malu dan tidak terbuka kepada orang lain untuk mengutarakan keinginannya. Apalagi keinginan tersebut sangat jauh dari kebiasaannya atau terkesan aneh.
Advertisement
Upacara Memeree Cinta Lao sendiri akan dilaksanakan ketika anak sudah memasuki usia dewasa. Setiap anak di Pakpak wajib menanyakan Cinta Lao tersebut kepada ibunya agar keinginannya terpenuhi.
Tanda-tanda munculnya Cinta Lao bisa terlihat dari pola kehidupan sang anak, mulai dari rezeki, jodoh, hasil pekerjaan, cita-cita yang terhalang hingga cobaan hidup.
Untuk mengetahui keinginan sang ibu, perlu adanya proses atau usaha yang dilakukan secara langsung maupun lewat perantara (kerabat atau saudara) untuk menanyakan adakah permintaan yang belum terpenuhi atau yang dipendam dalam hati ketika hamil.
Advertisement
Masih melansir dari Warisan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, apabila sang anak sudah mengetahui permintaan ibunya, maka upacara tersebut bisa segera dilaksanakan. Adapun acara tersebut digelar beberapa tahap, di antaranya memberi lauk ikan simalum-malum (ikan gemuh) yang diserahkan pada saat matahari terbit.
Tujuan dari pemberian lauk di pagi hari adalah agar cita-cita sang anak bisa terpenuhi dan bersinar layaknya saat matahari terbit. Apabila segala sesuatunya telah siap, upacara Memeree Cinta Lao bisa dimulai.
Biasanya kegiatan ini digelar pada pagi hari. Posisi sang anak menghadap ibunya sambil mengucap "Inilah makanan ala kadarnya ku serahkan kepada ibu, yaitu makanan untuk penyerahan Cinta Lao. Makanlah agar ibu panjang umur dan sehat selalu. Pakailah pakaian ini agar selalu hangat badanmu dan juga kita semua mendapat rezeki serta jauh dari bahaya".
Kemudian, sang ibu menjawab "Betul anakku. Ku makanlah dan ku pakai Cinta Lao yang kau berikan ini. Mudah-mudahan Tuhan besertamu agar semua cita-citamu tercapai". Setelah rangkaian tersebut selesai, barulah dilanjut dengan makan bersama-sama.