Di Indonesia, masyarakat orang rimba masih banyak tinggal di daerah, salah satunya di Jambi. Sampai saat ini, masyarakat orang rimba masih jauh dari peradaban dan hidup berdampingan dengan alam. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang masih berjuang untuk melawan buta aksara.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar PKBM (Kembang Bungo) yang diorganisasi oleh Fasilitator Pendidikan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, mempunyai program untuk memberantas buta aksara tersebut yang dimulai pada akhir tahun 1990-an. Program ini dilakukan dengan cara belajar 5 kali dalam seminggu, dengan waktu belajar 1,5-2 jam sehari atau 114 jam pertemuan.
Baru-baru ini, beberapa kelompok orang rimba mengikuti ujian keaksaraan untuk melihat kemampuan Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) dalam membebaskan buta aksara. Melansir dari Liputan6.com, berikut kisah perjuangan para orang rimba dalam melawan buta aksara selengkapnya.
Advertisement
Semangat Mengerjakan Ujian
Salah satu orang rimba yang mengikuti ujian keaksaraan ini bernama Sargawi. Ia merupakan pimpinan orang rimba di Sungai Pelakar, Desa Tanjung, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Jambi.
Ia bersama 9 anggota kelompoknya sedangan serius mengerjakan soal-soal ujian keaksaraan dasar. Meski umurnya tak lagi muda, namun Sargawi dan anggota rombongannya berhasil menyelesaikan soal yang berisi pertanyaan menguji kemampuan membaca sekaligus menulis.
Mereka juga diuji kemampuan untuk mengerjakan soal matematika sederhana berupa pertambahan, perkalian, dan pengurangan.
"Awak pengen Orang Rimba tidak tertinggal dari orang luar, makanyo awak ikut program pemerintah belajar membaco, menulis dan berhitung, bulih kami Orang Rimbo tidak buto hurui (supaya kami Orang Rimba tidak buta huruf)," kata Sargawi pada Selasa (25/5).
Advertisement
Tantangan Mengajar Orang Rimba
Ternyata ada benyak tantangan yang dihadapi dalam mengajari orang rimba dalam belajar. Utamanya adalah dalam menyesuaikan jadwal belajar dengan penghidupan mereka. Kehidupan orang rimba yang berburu dan meramu hasil hutan harus menyesuaikan dengan jadwal belajar mereka.Selama ini, Fasilitator Pendidikan akan berkunjung dari satu kelompok ke kelompok lain untuk mengajari mereka huruf dan angka. Namun, pendidikan ini hanya diikuti oleh anak-anak, karena orang rimba dewasa sibuk mencari penghidupan berburu dan meramu hasil hutan. Selain itu, orang rimba juga memiliki mobilitas yang tinggi, akses untuk menjangkau mereka juga sulit.
Advertisement
Sudah Melek Aksara
Salah satu fasilitator pendidikan, Yohana mengatakan, saat ini orang rimba juga sudah makin menyadari pentingnya melek aksara. Hal ini terlihat dari antusias para orang tua untuk menyuruh anak-anaknya sekolah, baik sekolah dengan Warsi dengan metode pendidikan alternatif, maupun dengan ke sekolah formal.Sargawi juga mengatakan, Ia dan kelompoknya selalu semangat dan tak menyerah untuk belajar dengan tutor yang sudah ditunjuk Dinas Pendidikan Sarolangun. “Kalau awak lah pandai mambaco awak tidak dipaloloi (dibohongi) orang lain,” kata Sargawi.