Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Jemaah An Nadzir, dari Rambut Pirang sampai Baju Serba Hitam

Mengenal Jemaah An Nadzir, dari Rambut Pirang sampai Baju Serba Hitam Jemaah An Nadzir. ©2021 Merdeka.com/Imam Akhmad Arafah

Merdeka.com - Sekilas memang sama dengan umat muslim lainnya, namun Jemaah An Nadzir memiliki beberapa perbedaan dengan umat muslim di Tanah Air. Mereka khas dengan baju panjang sampai di bawah lutut berwarna hitam. Rambut sebahu yang berwarna pirang keemasan dan janggut yang menghiasi wajah. Tak lupa, surban melingkar manis tersemat di kepala.

Penampilannya yang khas dan berbeda membuat beberapa orang memandang Jemaah An Nadzir sebelah mata. Stigma teroris, pengikut aliran sesat, kelompok Islam garis keras seringkali melekat pada jemaah ini. Namun semua seakan sirna saat menginjakkan kaki di perkampungan Jemaah An Nadzir.

Pintu gerbang kampung jemaah An Nadzir yang berada di Kelurahan Romang Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa ini terbuka lebar-lebar untuk pengunjung yang datang. Meski berbeda dengan warga dan umat muslim lainnya, Jemaah An Nadzir tak menutup diri.

jemaah an nadzir©2021 Merdeka.com/Imam Akhmad Arafah

Perbedaan jemaah An Nadzir memang terlihat dari busana yang digunakan. Bagi jemaah pria ditandai dengan baju berwarna gelap. Rambut yang dicat kuning kemerah-merahan dan janggut yang menghiasi wajah.

Ditambah dengan surban berbentuk khas, mengerucut dan ada kain panjang yang menjulur di bagian belakang atau disampirkan di leher. Begitu pula dengan wanita, dalam kesehariannya para jemaah wanita menggunakan jubah longgar dan bercadar.

jemaah an nadzir©2021 Merdeka.com/Imam Akhmad Arafah

Penampilan mereka berdasarkan dari dalil atau hukum yang mereka yakini. Berpedoman pada prinsip dan nilai yang telah diajarkan oleh Nabi SAW. Busana ini juga menjadi pembeda dengan masyarakat umum dan kelompok islam lain yang juga memakai surban, jubah dan memanjangkan janggut.

Banyak yang mengira jemaah ini tertutup dan tak mau berbaur. Namun, sejak awal jemaah ini turut memberikan suara saat pilkada atau pemilu. Tak menutup diri, Jemaah ini mampu membuktikkan bisa berbaur dengan warga desa lainnya.

jemaah an nadzir©2021 Merdeka.com/Imam Akhmad Arafah

Jemaah An Nadzir memiliki sedikit perbedaan untuk ibadah solat fardu,. Mereka menggabungkan waktu-waktu salat seperti salat dhuhur dengan ashar, salat Isya yang dikerjakan pada akhir waktu yaitu sekitar pukul 03.00 pagi dilanjut dengan shalat subuh. Selain itu, tangan setelah takbiratul ihram. Tangan mereka lurus ke bawah, tidak sedekap di dada.

Yang seringkali menjadi sorotan iala wktu pelaksanaan shalat Ied dan penentuan awal bulan Ramadhan yang selalu lebih awal. Semua tata cara ini merupakan bimbingan dari sang pendiri KH. Syamsuri Madjid yang mereka yakini sama persis dengan tata cara ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

jemaah an nadzir©2021 Merdeka.com/Imam Akhmad Arafah

Menjalankan ibadah sesuai dengan koridor Islam dan bukan ajaran sesat. Kehadiran mereka di terima oleh masyarakat dan pemerintah. Saling berdampingan hidup dengan warga sekitar dan tidak anti dengan dunia luar. Begitu pun sebaliknya.

Tak hanya berada di Gowa saja, komunitas yang didirikan pada 1998 ini juga ada di beberapa wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Medan, Banjarmasin, Batam, Dumai, Batubara, dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan

Meski berbeda dengan umat muslim lainnya, namun perbedaan Jemaah An Nadzir ini lah yang memberi warna tersendiri bagi umat Islam di Tanah Air.

(mdk/Tys)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP