Mengenal Apa itu G20 yang Diketuai Indonesia Beserta Agenda dan Tujuannya
Merdeka.com - Tahun depan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akan diketuai oleh Indonesia yang akan berlangsung di Bali. Tidak seperti KTT lainnya, KTT G20 tidak memiliki sekretariat tetap, sehingga fungsi presidensi dipegang oleh negara anggota dan berganti-ganti setiap tahunnya seperti yang dikutip dari laman resmi Bank Indonesia.
Serah terima pemegang presidensi KTT ini telah dilaksanakan di akhir KTT Roma lalu pada 30-31 Oktober 2021. Ini menjadi momen yang istimewa bagi Indonesia sebagai tuan rumah, sebab tidak Indonesia bisa turut unjuk keunggulan melalui side events yang bersifat showcasing, serta nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diselenggarakan melalui visitasi dan exhibition serta memprioritaskan isu Indonesia di bidang ketenagakerjaan seperti yang dikemukakan Anwar Sanusi (13/10).
Lantas apa sebenarnya KTT G20 itu? Apa tujuannya bagi global dan temanya tahun ini? Berikut penjelasan apa itu G20:
Mengenal KTT G20
Kelompok Dua Puluh atau The Group of Twenty (G20) adalah sekumpulan dua puluh negara ekonomi terbesar di dunia yang dibentuk pada tahun 1999, disusun sebagai blok yang akan menyatukan negara-negara industri dan berkembang yang paling utama untuk membahas stabilitas ekonomi dan keuangan internasional.
G20 mempertemukan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 19 negara: Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan , Turki, Inggris Raya, Amerika Serikat ditambah Uni Eropa, yang diwakili oleh Presiden Dewan Eropa dan oleh Kepala Bank Sentral Eropa.
Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral mulai menggelar rapat tahunan setelah pertemuan perdana pada 15-16 Desember 1999 di Berlin.
Pertemuan pertama Pemimpin G20 berlangsung di Washington, DC, pada 14-15 November 2008, di mana para Pemimpin menyetujui rencana aksi untuk menstabilkan ekonomi global dan mencegah krisis di masa depan.
Tujuan G20 sendiri mengacu pada:
- Koordinasi kebijakan antar anggotanya dalam rangka mencapai stabilitas ekonomi global, pertumbuhan yang berkelanjutan;
- Mempromosikan peraturan keuangan yang mengurangi risiko dan mencegah krisis keuangan di masa depan;
- Modernisasi arsitektur keuangan internasional.
Kepresidenan G20 digilir setiap tahun di antara para anggotanya. Kepresidenan memimpin kelompok manajemen tiga anggota dari kursi sebelumnya, saat ini dan masa depan, yang disebut sebagai Troika, yang tujuannya adalah untuk memastikan transparansi, keadilan, dan kesinambungan dari satu presiden ke presiden lainnya.
G20 tidak memiliki sekretariat sendiri. Sekretariat sementara dibentuk oleh negara yang memegang jabatan presiden untuk masa jabatan ketua.
Tema dan Agenda G20 2021
Tema Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 yakni "Recover Together, Recover Stronger", melalui tema tersebut, Indonesia ingin mengajak seluruh dunia untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Sedangkan agenda prioritas jalur keuangan dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 melansir dari laman bi.go.id, yakni:- Exit Strategy to Support Recovery Membahas bagaimana G20 melindungi negara-negara yang masih menuju pemulihan ekonomi (terutama negara berkembang) dari efek limpahan (spillover) exit policy yang diterapkan oleh negara yang lebih dahulu pulih ekonominya (umumnya negara maju).
- Adressing Scaring Effect to Secure Future Growth Mengatasi dampak berkepanjangan (scarring effect) krisis dengan meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang, memperhatikan ketenagakerjaan, rumah tangga, sektor korporasi, dan sektor keuangan.
- Payment System in Digital Era Standar pembayaran lintas batas negara (CBP), serta prinsip-prinsip pengembangan CBDC (General Principles for Developing CBDC).
- Sustainable Finance Membahas risiko iklim dan risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, dan sustainable finance (keuangan berkelanjutan) dari sudut pandang makroekonomi dan stabilitas keuangan
- Digital Financial Inclusion Memanfaatkan open banking untuk mendorong produktivitas dan mendukung ekonomi dan keuangan inklusif bagi underserved community yaitu wanita, pemuda, dan UMKM, termasuk aspek lintas batas.
- International Taxation Membahas perpajakan internasional, utamanya terkait dengan implementasi Framework bersama OECD/G20 mengenai strategi perencanaan pajak yang disebut Base Erotion and Profit Shifting (BEPS),
Keuntungan Indonesia menjadi Ketua G20
1. Pemicu Pariwisata Bali
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, penyelenggaraan KTT G20 tersebut akan menjadi pemicu atau trigger bagi sejumlah event berskala internasional di Pulau Dewata.
"Pandangan terhadap presidensi G20 yang sudah secara resmi di tongkat estafetkan ke Presiden Jokowi dari Italia ini akan menjadi trigger dari banyaknya event internasional MICE meeting, incentive, conference, and exhibition di Bali maupun destinasi lainnya," ungkapnya dalam acara Weekly Press Briefing melansir dari laman merdeka.com, Senin (1/11).
Maka dari itu, Sandiaga meminta agar pemerintah daerah setempat agar segera melakukan persiapan untuk menyukseskan pagelaran ajang bergengsi tersebut. Antara lain dengan memastikan penerapan protokol kesehatan secara ketat.
"Langkah antisipasi ini perlu kita pastikan, agar pimpinan daerah dapat mempersiapkan protokol kesehatan secara baik," terangnya.
2. Beri Rekomendasi Strategis
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) sekaligus ekonom Bhima Yudhistira mengatakan, momen presidensi G20 bisa dioptimalkan agar posisi Indonesia dalam kerja sama perdagangan dan investasi bisa lebih memiliki daya tarik.
"Begitu juga dengan perencanaan kebijakan global pasca pandemi, Indonesia harusnya sudah siapkan beberapa proposal terobosan," kata Bhima kepada Liputan6.com, Senin (1/11).
"Konteksnya kan pasca pandemi reda banyak negara yang ingin melakukan perombakan ulang mekanisme fiskal dan moneter. Misalnya soal dampak normalisasi kebijakan moneter di negara maju, jangan sampai menimbulkan gejolak besar seperti taper tantrum pada 2013," jelas Bhima.
Bhima juga menyebutkan, bahwa pada KTT G20, Indonesia bisa memberikan rekomendasi yang taktis agar efek normalisasi tidak merugikan ekonomi negara berkembang.
"Berikutnya tentu soal model stimulus yang diharapkan tidak mengarah pada austerity plan atau penghentian bantuan sosial secara drastis, karena banyak sektor usaha dan masyarakat yang masih perlu dibantu," tambahnya.
3. Pimpin Pemulihan Ekonomi
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Suminto mengatakan, lewat presidensi G20 ini, Indonesia diharapkan dapat memimpin proses pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 pada tahun depan.
"Maka Presidensi Indonesia juga diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi global yang lebih kuat, lebih inklusif, lebih seimbang, lebih berkelanjutan," kata Suminto kepada Liputan6.com, Senin (1/11).
"Oleh karenanya, tema Presidensi Indonesia tahun depan, Recover Together, Recover Stronger. Jadi diharapkan negara-negara di dunia, tidak hanya anggota G20, tetapi seluruh negara-negara di dunia dapat melakukan pemulihan ekonomi secara bersama-sama, no country left behind," tuturnya.
Pada presidensi G20 di 2022, Suminto menuturkan, Indonesia akan menggelar serangkaian pertemuan. Itu dibagi dalam tiga kategori, yakni dari level pekerja (working group), level menteri, hingga level kepala negara melalui konferensi tingkat tinggi (KTT).
"Sepanjang 2022 kita akan melakukan banyak sekali pertemuan-pertemuan," ujarnya.
(mdk/amd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya