Mencicipi Segarnya Toge Panyabungan, Menu Buka Puasa Favorit Khas Mandailing
Merdeka.com - Dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner yang terkenal, Sumatera Utara memiliki banyak menu andalan untuk berbuka puasa, salah satunya adalah Toge Panyabungan. Toge Panyabungan merupakan minuman khas dari daerah Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Toge Panyabungan menjadi menu musiman yang banyak dicari saat berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa. Menu takjil yang satu ini bukan merupakan kudapan dengan sayur taoge, melainkan sejenis minuman manis yang segar.
Meski asal usul nama Toge Panyabungan hingga kini masih menjadi misteri di balik populernya es penggugah selera itu, namun menu takjil yang satu ini bisa Anda jadikan pilihan saat berburu kudapan untuk berbuka puasa saat berada di Sumatera Utara.
Mirip Cendol Jawa
Dilansir dari laman makanmana.net, Toge Panyabungan merupakan hidangan pencuci mulut yang sekilas terlihat mirip seperti Es Cendol atau Es Dawet dari Jawa. Namun jika sudah diaduk dan dimakan maka akan terasa sangat berbeda.
Toge Panyabungan ini adalah menu khas Kota Panyabungan di Kabupaten Mandailing Natal, yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Sumatera Utara oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2017.
Dibuat dari 5 Komponen Utama
Masih dilansir dari laman makanmana.net, semangkuk Toge Panyabungan berisi 5 komponen utama, yaitu toge (bulir-bulir pendek dari tepung beras ketan berwarna hijau), beras pulut, gula merah, candil, dan lupis. Berbeda dari es cendol yang biasanya memakai es serut, Toge Panyabungan lebih simpel karena memakai bongkahan es batu. Ragam jenis campuran isian yang ada di dalamnya pun juga berbeda. Berbagai campuran isian tersebut kemudian akan disiram dengan kuah santan yang segar.
Proses Pembuatan
Dilansir dari laman jalajahnusae, pembuatan toge panyabungan terbilang lama. Sejak pagi, bahan berupa pulut dan ketan hitam disiapkan untuk dikukus menjadi lupis. Juga membuat adonan untuk dibulati menjadi bubur candil serta adonan tepung beras yang diberi ekstraksi daun pandan untuk dijadikan cendol. Kemudian paduan pulut putih, ketan hitam, bulatan candil, dan cendol yang sudah dimasak dibubuhi kuah santan dan gula aren. Kebanyakan pedagang Toge Panyabungan masih mempertahankan cara tradisional menggunakan tungku kayu bakar untuk mengolah bahan baku. Untuk mempertahankan rasa, para pedagang juga sengaja mendatangkan gula aren dari Mandailing Natal.
Bisa Dinikmati saat Hangat Maupun Dingin

Sumber: gramho.com ©2020 Merdeka.com
Sebagian orang lebih suka menikmati Toge Panyabungan dalam kondisi hangat. Tapi Anda juga bisa menambahkan es batu jika ingin menikmatinya dalam keadaan lebih segar. Semuanya tergantung selera masing-masing orang yang menyantapnya.Harga seporsi Toge Panyabungan biasanya dijual mulai dari harga Rp 10.000 hingga Rp 15.000, tergantung banyaknya isian yang diinginkan.
Menu Takjil Favorit Saat Bulan Puasa
Toge Panyabungan ini rasanya manis. Minuman ini sudah menjadi minuman tradisi saat berbuka puasa dan banyak diminati saat Bulan Ramadan. Toge panyabungan sering kali dijadikan menu takjil untuk berbuka puasa. Kini beberapa pedagang toge panyabungan banyak ditemui di sekitaran Masjid Raya Panyabungan, tepatnya di Pasar Lama, Jalan Keliling.
Dijajakan saat Sore Hari
Toge Panyabungan biasanya dijajakan di sore hari menjelang waktu berbuka puasa tiba, sebagai penganan khas berbuka puasa masyarakat Mandailing karena rasanya yang memang manis dan sesuai untuk segera menghilangkan rasa dahaga yang selama satu harian penuh tertahan oleh amalan ibadah puasa. Meski berasal dari Mandailing, namun minuman manis yang segar ini kini sudah banyak ditemukan di hampir seluruh daerah di Sumatera Utara dan menjadi favorit banyak orang.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya