Kisah Hijrah Anton Medan, Preman 'Kelas Kakap' yang Insaf di Balik Jeruji Penjara
Merdeka.com - Anton Medan merupakan pria kelahiran Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Pria yang memiliki nama asli Tan Hok Liang ini memiliki cerita panjang dalam sejarah kriminalitas di Tanah Air. Ia adalah preman 'kelas kakap' yang sudah bolak-balik merasakan dinginnya di balik jeruji besi.
Masa lalu Anton Medan yang penuh kegelapan sampai saat ini masih terus menarik untuk dibaca dan diresapi. Ia yang mengenal dunia kriminal sejak umur 12 tahun, kini sudah insaf dan dikenal banyak orang sebagai pria yang baik dan menebar banyak manfaat bagi sesama.
Pernah diangkat sebagai Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pada 2012-2017, nama Anton Medan selalu bersanding dengan tokoh-tokoh besar seperti konglomerat Liem Sio Liong dan Tokoh Mahasiswa Soe Hok Gie.
Pertama Kali Mendekam di Penjara

Sumber: merahputih.com ©2020 Merdeka.com
Kisah kelam Anton Medan sudah dimulai sejak Ia masih berumur belasan tahun. Anton merantau ke Tebing Tinggi sejak umur 12 tahun. Saat itu, Ia sudah menjadi tulang punggung keluarga dan harus putus sekolah.
Anton Medan kemudian menjadi anak jalanan yang bekerja sebagai calo di Terminal Tebing Tinggi. Ia bertugas membantu sopir bus untuk mencari penumpang. Namun, suatu hari Ia terlibat masalah dengan salah satu supir karena Ia tak mendapatkan upah kerja yang semestinya. Singkat cerita, Anton Medan memukul sopir itu dengan balok dan membuatnya harus berurusan dengan polisi untuk pertama kalinya.
Kejadian serupa kembali terjadi saat Ia kembali pulang ke Kota Medan. Ia terlibat perkelahian dengan supir bus dan dipukuli. Anton yang saat itu membalas dengan sabetan parang, membuat satu supir tewas. Akibat kejadian itu, Ia pun harus mendekam di penjara selama empat tahun.
Tak Diterima Keluarga
Dilansir dari Liputan6.com, setelah bebas dari empat tahun penjara, Anton Medan pulang ke kampung halaman. Namun tak disangka, Ia tidak diterima oleh orang tuanya sebab malu memiliki anak yang pernah masuk penjara.Anton pun akhirnya merantau ke Jakarta. Ia berniat untuk menemui pamannya. Susah payah menggelandang demi menemukan alamat sang paman, ternyata saat sudah bertemu sang paman juga tidak mau menerima kehadiran Anton. Sejak saat itulah Anton Medan hidup sebatang kara bersama kerasnya Ibu Kota.
Mulai Coba Merampok Hingga Jadi Bandar Judi

Sumber: liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Hidup seorang diri di Ibu Kota tentu tidak mudah bagi Anton Medan saat itu. Kerasnya keadaan membuatnya terpaksa mencoba melakukan aksi kejahatan. Dulu, Ia mulai mencoba dunia kriminal mulai dari menjambret dan merampok. Sejak saat itu, kejahatan yang pernah dilakukannya tak terbendung lagi. Anton mulai beralih menjadi pengedar obat-obatan terlarang, bahkan pernah menjadi bandar judi kelas kakap. Ia pernah membuka rumah-rumah judi di Jakarta, bahkan Ia juga memiliki kasino. Saat itu, Ia meraup untung dari bisnis gelapnya tersebut hingga miliaran per hari.
Masuk Islam
Dilansir dari merahputih, sepak terjang Anton Medan di dunia kriminal telah membuatnya berulang kali keluar-masuk jeruji besi. Sudah banyak penjara atau lembaga permasyarakatan yang disinggahi Anton selama hidupnya. Namun tak disangka, dari balik dinginnya jeruji besi inilah Anton Medan justru mendapatkan hidayah dan akhirnya insaf.Anton terlahir beragama Buddha, sempat pindah menjadi penganut Protestan dipenjara Cipinang sebelum akhirnya memilih memeluk Islam hingga sekarang. Perjalanan memeluk Islamnya pun tidak mulus, Ia sempat ditolak oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Karim Oei untuk memeluk Islam karena masa kelamnya. Namun, Anton terus membuktikan keseriusannya. Pada 1992, Ia akhirnya resmi mengucapkan syahadat yang dituntun oleh Almarhum KH Zainuddin MZ, 'Si Dai Sejuta Umat'. Sejak saat itu, penjahat kelas kakap itu berganti nama dengan Muhammad Ramadhan Effendi.
Mendirikan Masjid dan Pesantren

Sumber: liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Setelah masuk Islam, Anton Medan mendirikan Majelis Taklim Ata'ibin yang menampung para mantan narapidana dan pengangguran. Ia sengaja mendirikan majelis taklim untuk membina dan menampung para mantan narapidana dan pengangguran untuk kembali ke jalan yang benar.Tak puas dengan mendirikan majelis taklim, Anton Medan mendirikan pondok pesantren. Tujuannya adalah Ia ingin mengabdi lebih banyak untuk masyarakat banyak. Pondok pesantren ini juga untuk membina para mantan narapidana dan pengangguran.Pondok pesantren milik Anton berada di daerah Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor. Di dalam pondok pesantren, Anton mendirikan sebuah masjid yang megah dan unik dengan khas Tionghoa, yang bernama Masjid Tan Kok Liong.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya