Gejala Sindrom Loeffler, Infeksi Cacing pada Paru-Paru

Jumat, 30 September 2022 08:01 Reporter : Ani Mardatila
Gejala Sindrom Loeffler, Infeksi Cacing pada Paru-Paru ilustrasi cacing pita dalam otak. ©redbookarchive.aappublications.org

Merdeka.com - Sindrom Loeffler atau eosinofilia pulmonar merupakan reaksi alergi yang timbul akibat cacing yang masuk ke dalam paru-paru. Penyakit ini umumnya ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah kotor atau di tempat-tempat yang kebersihannya kurang terjaga.

Banyak orang tua mengeluh anak tidak bisa gemuk padahal makannya banyak. Ini bisa saja karena beberapa hal, di antaranya faktor keturunan, atau anak tersebut sangat yang aktif sehingga banyak mengeluarkan energi. Namun, ini bisa juga karena si anak mengalami cacingan.

Cacingan adalah penyakit klasik yang sampai sekarang masih kerap menjangkiti anak-anak. Terlebih yang pola hidup dalam keluarga kurang menjaga kebersihan. Misalnya, malas cuci tangan setelah bermain di luar atau sebelum makan. Masalah kebersihan ini menjadi penyebab utama sindrom loeffler bisa menjangkiti anak.

Penyakit ini memang belum banyak dibahas di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, sindrom loeffler tetap harus mendapatkan perhatian khusus, terutama bagi tenaga kesehatan.

Terlebih lagi, tak sedikit anak kecil di Indonesia rentan terkena penyakit ini karena suka bermain di tanah yang kotor, bahkan tanpa mengenakan alas kaki.

Infeksi cacing yang akan berpengaruh pada darah, serta menimbulkan respons alergi pada kulit. Hal ini dapat terjadi karena menumpuknya infiltrat dan eosinofil pada paru-paru karena adanya infeksi cacing dalam jumlah banyak.

Berikut merdeka.com merangkum salah satu penyakit karena infeksi cacing yaitu sindromloeffler yang penting diwaspadai:

2 dari 3 halaman

Apa itu Sindrom Loeffler

Tidak semua cacing bisa mencapai ke paru-paru manusia. Pada sindrom Loeffler, spesies yang menjadi penyebabnya adalah cacing gelang Ascariasis sp. dan Strongyloides sp.

Infeksi berbagai cacing bisa berpengaruh pada darah dan menimbulkan respon alergik. Seperti peningkatan sel eosinofil (komponen sel darah putih) dalam paru-paru. Menyebabkan gejala seperti batuk, atau sesak napas menyerupai asma yang disebut sindrom Loeffler.

Telur cacing gelang biasanya terdapat dalam tinja manusia serta segala bahan makanan di tanah yang terkontaminasi telur cacing. Ketika tak sengaja dikonsumsi, telurnya akan menetas menjadi larva di usus halus.

Kemudian, telur cacing akan menembus dinding usus dan ikut terbawa dalam darah. Ketika sampai di paru-paru, tubuh akan mengaktifkan sel imun seperti eosinofil dan makrofag untuk membunuh si cacing. Namun, reaksi ini juga dapat merusak jaringan paru-paru kita.

3 dari 3 halaman

Gejala Sindrom Loeffler

Gejala sindrom Loeffler biasanya ringan dan cenderung menghilang secara spontan setelah beberapa hari atau paling lama dua sampai tiga minggu. Batuk adalah gejala yang paling umum di antara pasien bergejala.

Selain itu, terkadang dapat terdengar suara napas bengek ataupun napas tambahan yang terdengar seperti suara rendah akibat adanya lendir. Pada praktiknya, sindrom Loeffler sangat sulit untuk dideteksi secara pasti. Sebagian penderitanya sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas saat diperiksa.

Untuk membantu memperjelas diagnosis, terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang yang bisa dilakukan untuk memeriksa sindrom loeffler ini, di antaranya:

-Tes darah lengkap 

Terdapat peningkatan kadar eosinofil.

-Kadar IgE total darah 

Umumnya akan mengalami peningkatan.

-Pemeriksaan rontgen paru

Menunjukkan adanya gambaran seperti kabut putih (infiltrat) pada rongga paru.

Penanganan sindrom Loeffler

Pengobatan sindrom Loeffler biasanya tidak memerlukan rawat inap maupun pembedahan. Pasien juga tidak memiliki pantangan makanan ataupun aktivitas yang tidak boleh dijalani.

Karena sindrom ini disebabkan oleh cacing, maka pengobatan yang tepat adalah pemberian obat cacing. Obat yang diberikan bergantung pada spesies yang ditemukan serta kondisi umum pasien.

Infeksi Ascaris sp. dapat diobati dengan mebendazol atau albendazol, sedangkan infeksi Strongyloides sp. diobati menggunakan ivermektin. Bila diperlukan, obat golongan steroid seperti prednison dapat pula diberikan untuk mengurangi reaksi radang.

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegah terjadinya sindrom Loeffler, di antaranya :

  • Memanfaatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari;
  • Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan;
  • Menggunakan toilet yang bersih dan sehat;
  • Mengonsumsi obat cacing rutin (bagi anak-anak).

Apabila anak sering bermain di atas tanah, ajarkan mereka untuk selalu memakai alas kaki dan tidak memasukkan jari yang kotor ke dalam mulut. Sebab dari sinilah cacing bisa masuk ke dalam tubuh.

Sebenarnya, cara paling ampuh untuk mengatasi sindrom Loeffler adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat. Dengan begitu, cacing-cacing pun tidak akan punya kesempatan untuk "menginvasi" tubuh kita serta anak-anak.

[amd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini