Keindahan Sumatera Utara dihiasi dengan ragam kearifan lokal yang menarik untuk disimak. Salah satu di antaranya adalah Batu Basiha yang saat ini telah diakui oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Batu Basiha merupakan Global Geopark yang terletak di Desa Aek Bolon, Balige, Kabupaten Toba. Lokasi ini menjadi salah satu destinasi sejarah favorit di sana, karena memiliki cerita sejarah tentang nenek moyang Toba,
Berdasarkan cerita turun temurun, bebatuan yang bertumpuk di lokasi tersebut dahulu merupakan kayu yang tersambar petir. Konon, kayu-kayu ini tidak direstui untuk dijadikan bahan bangunan rumah.
Kisah itu kemudian dipercaya oleh segenap warga Aek Bolon, dan terus dilestarikan secara turun temurun kepada anak cucu masyarakat Toba. Berikut informasi selengkapnya.
Advertisement
Batu yang Tersambar Petir
Mengutip Disbudpar Toba, asal usul nama Basiha berasal dari bahasa setempat yakni “Batu Sian Hau”.
Foto: Youtube Lake Toba 360
Dalam bahasa Indonesia, Batu Sian Hau memiliki arti batu yang terbuat dari kayu.
Ini terkait mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat, bahwa batu ini dahulunya meruapakan kayu untuk mendirikan rumah adat. Namun, tiba-tiba terdapat petir yang menyambar kayu hingga seketika berubah menjadi bebatuan.
Tidak diketahui secara persis kapan peristiwa ini berlangsung, namun pendirinya dipercaya merupakan nenek moyang orang Toba yakni opung Manggak Napitupulu.
Advertisement
Tidak Direstui untuk Mendirikan Rumah
Konon sambaran petir ini tidak secara tiba-tiba menyambar, melainkan karena di lokasi tersebut tidak boleh didirikan sebuah bangunan rumah adat.
Beberapa sumber mengatakan jika sebelum kejadin, opung Manggak Napitupulu sempat didatangi seekor harimau yang memberi sebuah peringatan. Namun, karena tidak diindahkan akhirnya terjadilah sambaran petir yang mengenai kayu untuk membangun rumah adat.
Setelah terjadi peristiwa itu, nenek moyang Toba lantas mengurungkan niatkan dan pembangunan rumah adat tidak jadi dilaksanakan.
Advertisement
Berasal dari Pijaran Lava Gunung Toba Purba
Sementara itu, versi keilmuan didapatkan fakta bahwa tumpukan bebatuan tersebut bukanlah bahan bangunan kayu yang tersambar petir.
Namun, tumpukan batu ini berasal dari guguran lava pijar erupsi Gunung Toba Purba jutaan tahun silam. Ini dikuatkan dari struktur dan bahan batu, yakni batuan beku andesit. Walau demikian, cerita ini tetap dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu warisan kearifan lokal setempat.
"Dulu ceritanya ini memang dari mitos, tapi sesuai dengan penelitian bahwa ini berasal dari letusan Gunung Toba. Rencana ke depannya lokasi ini akan dikembangkan jadi daerah wisata Aek Bolon," Kepala Desa Aek Bolon, Dapot Simanjuntak, mengutip ANTARA.
Advertisement
Dibangun Taman yang Nyaman
Untuk saat ini, kawasan wisata tersebut telah ditata dan diberikan sejumlah fasilitas seperti tangga, taman hingga gazebo untuk bersantai.
Dengan adanya tangga, wisatawan bisa dengan mudah mengunjungi lokasi bersejarah tersebut sekaligus menikmati keindahannya.
Ditambahkan Dapot Simanjuntak, adanya kearifan lokal turun temurun ini belakangan menjadi salah satu peringatan agar masyarakat bisa menjaga alam, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Kawasan tersebut sebelumnya diakui sebagai Global Geopark UNESCO sejak 7 Juli 2020 lalu.