Senyum Ayu (40) tak henti merekah. Ucapan terima kasih terus ia lontarkan dengan penuh syukur. Di tengah teriknya matahari dan hiruk-pikuk suporter Piala Presiden 2025 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, gerobak es jeruk dan es kelapa miliknya menjadi oase bagi para penikmat sepak bola yang kehausan.
Ayu tahu betul, momentum pertandingan bukan sekadar perayaan di lapangan hijau. Bagi dirinya, ini adalah peluang emas yang mengubah hari biasa menjadi penuh berkah. Lonjakan pengunjung yang haus dan lapar menjadi berkah tersendiri, mendongkrak omzet dagangannya hingga Rp2 juta per hari.
"Ini sangat membantu saya sebagai pedagang kecil," ucapnya sembari tersenyum.
Ayu bukan satu-satunya yang merasakan manisnya dampak ekonomi dari riuhnya Piala Presiden 2025. Di sisi lain stadion, Dedeh Rohartati (48) sibuk melayani antrean pengunjung yang ingin mencicipi spageti dan gorengannya. Wajahnya semringah, matanya berbinar penuh harapan. Ia mencatat omzet harian hingga Rp3,6 juta.
"Terima kasih atas semua dukungannya," ungkap Dedeh, tulus.
Kisah Ayu dan Dedeh sejatinya adalah potongan dari gambaran besar yang telah diungkapkan Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait. Bagi Ara, sepak bola tak hanya soal hiburan dan skor akhir, tapi juga tentang bagaimana olahraga bisa menjadi lokomotif ekonomi kerakyatan, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan UMKM.
Ia menyebut, antusiasme luar biasa tahun ini turut dipicu oleh kehadiran dua klub luar negeri, Oxford dan Port FC. Atmosfer internasional membawa dampak ekonomi nyata bagi 110 pedagang UMKM yang difasilitasi untuk ikut serta dalam gelaran ini.
"UMKM yang ada di Si Jalak Harupat luar biasa banyak dan tidak dipungut bayaran. Biar UMKM kita maju sesuai arahan Presiden Prabowo. Bola harus ada dampaknya bagi ekonomi rakyat. Maju terus UMKM Indonesia," tutur Ara.
Di balik hiruk-pikuk pertandingan, geliat ekonomi juga disoroti Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Menurutnya, euforia sepak bola tak boleh berhenti di tribun penonton. Ia harus menular ke sektor-sektor lain yang menopang kehidupan masyarakat sehari-hari. Dan itulah yang akhirnya terjadi.
"Piala (Piala Presiden 2025) ini memberikan efek tumbuhnya ekonomi. UMKM, ekonomi kerakyatan. Para pedagang bisa laku jualannya, angkot-angkot bisa ada penumpangnya, ojek online dan pangkalan kebagian narik. Tukang sapu ada ordernya, tiket ada bagiannya, semuanya memberikan yang baik dan kenyamanan," kata Dedi.
Tak ketinggalan, dukungan penuh datang dari pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Permodalan Nasional Madani (PNM) misalnya. Mereka hadir sebagai salah satu penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat prasejahtera. Sejak event 6 Juli 2025 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, PNM telah memfasilitasi 50 nasabah PNM Mekaar untuk berjualan di halaman stadion tanpa pungutan biaya.
Tak hanya menyediakan akses pembiayaan, PNM juga membuka akses pasar nyata bagi para pelaku UMKM. Salah satu contohnya, ya Piala Presiden 2025 ini.
"Kami ingin kehadiran PNM menjadi penguat ekonomi keluarga prasejahtera. Melalui kegiatan seperti ini, PNM mendorong agar para nasabah dapat merasakan langsung manfaat dari pemberdayaan, sekaligus membangun semangat untuk terus tumbuh dan mandiri," jelas Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary.
Di balik gegap gempita pertandingan, ada cerita tentang es jeruk, spageti, tenda-tenda kecil, dan senyum-senyum hangat para pelaku UMKM. Mereka mungkin tidak mencetak gol di lapangan, tapi dari stadion mereka membawa pulang omzet, harapan, dan secercah masa depan yang lebih baik.